Wednesday, August 10, 2022

Sumber Baru Kilang “Bensin”

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sehektar = 6.000 liter “bensin”.

Namanya watar hammu putih. Periset di Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal), Maros, Sulawesi Selatan, Dr Marcia Bunga Pabendon MP, meriset sorgum manis asal Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur, itu sebagai bahan baku biofuel produktif.

Marcia menghitung, sehektar watar hammu putih dengan populasi 66.667 tanaman menghasilkan 5.605 liter bioetanol 100% asal batang tanaman anggota famili Poaceae itu. Selain itu, masih ada  2,7 ton per ha biji sorgum setara 1.080 liter bioetanol. Menurut kepala Bidang Teknologi Etanol dan Derivatif Balai Besar Tanaman Pati, Lampung, Dr Ir Arif Yudiarto, seliter bioetanol 100% diperoleh dari 2,5 kg biji sorgum. Itu berarti dari setiap sehektar lahan water hammu putih diperoleh total 6.685 liter bioetanol per musim tanam.

Menurut Arif, bioetanol 100% termasuk fuel grade. Artinya untuk menggunakan bahan bakar itu kita tidak perlu mengubah atau menambah komponen apa pun di mesin kendaraan. “Langsung saja tuangkan bioetanol ke tangki lalu nyalakan mesin, dijamin tokcer,” kata Arif. Itu berbeda dengan bioetanol berkadar 90%, yang mengharuskan penambahan perangkat tertentu untuk memperbesar percikan api di busi. Gunanya menguapkan 10% kandungan air dalam bioetanol. Sejatinya kehadiran air—sesedikit apa pun—dalam ruang bakar mesin haram hukumnya. Menurut Dr I Nyoman Jujur, periset material dan koordinator Riset Unggulan Strategis Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, air mempersingkat umur mesin karena menyebabkan korosi.

Galur harapan

Produksi bioetanol sorgum watar hammu putih spektakuler. Bandingkan dengan produksi bioetanol sorgum jenis numbu yang lebih dulu dirilis oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian sebesar 4.769 liter per ha. Bandingkan pula dengan potensi bioetanol dari jagung 3.600 liter per ha atau molase 500 liter per ha. Produksi bioetanol water hammu putih tinggi karena akadar briks tinggi, mencapai 140 briks.

Selain itu, seluruh bagian tanaman berpotensi sebagai bioetanol. Sorgum manis mampu menghasilkan bioetanol dari nira batang, bagas, dan biji. Nira adalah cairan hasil perasan batang sorgum manis. Sementara bagas adalah ampas hasil perasan batang sorgum dalam bentuk selulosa. Sumber etanol dari biji adalah pati. Selulosa dan pati mengalami proses fermentasi dengan bakteri Saccaromyces cerevicea untuk penyederhanaan molekul. Hasilnya, gula sederhana seperi glukosa, sukrosa, dan bentuk gula lainnya yang kemudian dikonversi menjadi etanol.

Dr Marcia mendapatkan galur unggul itu dari hasil seleksi. Untuk menguji ketangguhan produksi si manis itu doktor bidang Agronomi dari Institut Pertanian Bogor itu menanam di 11 lokasi dengan kondisi lingkungan berbeda. Pengujian di 6 lokasi dilakukan pada musim kemarau, sisanya di musim hujan. Di antaranya di Enrekang (Sulawesi Selatan), Naibonat (NTT), Telaga (Gorontalo), dan Kendalpayak (Jawa Timur). Pengujian di Enrekang dan Naibonat pada musim hujan, sementara Telaga dan Kendalpayak pada musim kemarau. Sejatinya sorgum  adaptif pada suhu 23—300C dengan kelembapan relatif 20—40%. Tanaman itu cenderung menyukai pH pada kisaran 5—7,5. Serealia asal Afrika itu dapat tumbuh subur di ketinggian kurang dari 800 meter di atas permukaan laut (m dpl) dengan tingkat curah hujan 375—425 mm per tahun.

Berbagai pengujian selama 5 tahun itu menunjukkan hasil memuaskan. Produksi biji rata-rata berkisar 1,82—3,68 ton, sementara tonase batang 14,42—25,28 ton per ha. Saat diperas, anggota famili Poaceae itu menghasilkan 241,55 ml nira per kg batang sorgum manis  dengan kadar gula 140 briks.

Kandungan gula pada batang lebih tinggi pada musim kemarau dibandingkan musim hujan, artinya kandungan gula pada batang banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Selain itu juga tanaman sorgum mampu tumbuh dengan baik saat kemarau panjang. Menurut Dr Soeranto Hoeman, peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), kebutuhan air sorgum separuh jagung dan sepertiga tebu.

Pada 110—115 hari pascatanam, petani bisa memanen biji dan batang. Pilihan lain, memanen biji lalu memanen batang 10 hari kemudian. Dengan cara kedua, tingkat kemanisan batang bisa melonjak menjadi 240 briks lantaran hasil fotosintesis yang semula mengalir ke biji kini tersimpan dalam batang. Potensi ratun (tanaman yang tumbuh kembali pascapemanenan batang dan biji, red) pun tidak kalah. Saat panen pertama, sisakan batang 10 cm di atas permukaan tanah dan siap panen 100 hari kemudian dengan potensi hasil 20—23 ton per ha. Ratun sorgum tetap produktif di lahan kering bahkan saat kemarau.

Tanam sorgum dengan atau tanpa olah tanah. Di lahan yang baru dibuka, sebaiknya bajak tanah 1—2 kali lalu garu agar halus. Buat saluran drainase di tanah yang “berat” atau mempunyai permeabilitas rendah. Tugal tanah sedalam 3—5 cm dengan jarak tanam 75 cm x 25 cm, lalu masukkan sebanyak 2—3 biji per lubang tanam. Terakhir, kubur benih dengan abu sekam. Persentase daya tumbuh benih mencapai 90—100%. Penanaman bisa setiap saat, tapi usahakan saat berbunga tidak bertepatan dengan hujan terus—menerus dan terpaan angin kencang karena bisa menggagalkan panen biji.

Dengan budidaya intensif kebutuhan pupuk per ha sebanyak 300 kg Urea, 250 kg Phonska, dan 50 kg KCl. Pada pemupukan pertama, 7—10 hari setelah tanam (hst), berikan 150 kg Urea, 250 kg Phonska, dan 50 kg KCl per ha. Pemupukan kedua, saat tanaman berumur 30—35 hst, berikan lagi 150 kg Urea per ha. Perawatan anggota tanaman serealia itu berupa penyiangan rumput dan pengendalian hama penyakit yang relatif jarang.

Peluang bioetanol

Kerabat padi itu bisa tumbuh di wilayah beriklim basah—Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua—maupun wilayah beriklim kering—Nusa Tenggara, Sulawesi Tenggara, sebagian Sumatera, serta sebagian Jawa. Penanaman bisa di lahan telantar yang ditumbuhi semak belukar, alang-alang, atau rumput-rumputan. Alternatif lain, sebagai tanaman diversifikasi di lahan perkebunan atau kebun campuran sebagai tanaman sela.

Marcia juga meriset beberapa genotip sorgum introduksi seperti 15011A, 15011B, 15021A, dan 4-183A. Genotip harapan 15021A menghasilkan bobot biomassa batang tinggi dan stabil di berbagai tempat, dengan nilai kadar gula tetap. Sementara genotip 15011B dan 4-183A tumbuh di lokasi spesifik. Pada tempat tertentu, bobot biomassa sangat menonjol, tetapi di tempat lain bobot biomassa bisa menurun drastis.

Biji 15011B putih, sementara 4-183A berbiji merah. Adapun pertumbuhan galur 15011A  stabil di berbagai tempat dan tinggi potensi ratun. Galur-galur itu sedang dalam proses uji daya hasil untuk mengetahui potensi bioetanol. “Watar hammu putih dan 15021A sedang dalam proses pengusulan sebagai varietas baru sorgum manis untuk bahan baku bioetanol oleh Kementerian Pertanian,” ujar Marcia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, luas lahan kering tanahair pada 2011 mencapai 143,9-juta ha. Dari luasan tersebut, 31,5-juta ha berupa lahan kering dengan topografi yang datar bergelombang dengan kemiringan kurang dari 8%. Jika semua lahan itu ditanami watar hammu putih, dalam waktu kurang dari setengah tahun akan tersedia 210,5 kiloliter bioetanol.

Data Pertamina menyebutkan, konsumsi bahan bakar premium bersubsidi di tanahair pada 2012 mencapai 21,9-juta kiloliter. Adapun produksi domestik hanya 12-juta kiloliter. Sisanya, dari mana lagi selain impor. Konversi ke bahan bakar gas—salah satu solusi yang sempat mengemuka—pun tak kunjung dimulai. Bioetanol asal sorgum bisa menjadi alternatif cepat untuk memenuhi dahaga masyarakat akan bahan bakar minyak. (Kartika Restu Susilo)

 

FOTO:

  1. Watar hammu putih, potensi bioetanol tinggi
  2. 15011A, tahan banting di lahan kering
  3. Biji watar hammu putih, cocok untuk pangan fungsional
  4. 15011A, potensi hasil biji 5,5 ton/ha
  5. Dr Marcia Bunga Pabendon: Sorgum manis mampu menghasilkan bioetanol dari batang, bagas, dan biji
Previous articleDua Cara Tinggi Produksi
Next articleHanya Satu Mata
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img