Warga Pasir Wetan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu bukannya mempunyai kompor gas. Ia hanya memanfaatkan minyak jarak yang diolah sendiri di samping rumahnya. Hasil pres biji jarak, setelah disaring langsung dimasukkan ke tangki kompor.
Sejak 3 bulan silam, Said yang seharihari mengelola bengkel, memanfaatkan minyak jarak sebagai bahan bakar kompor. Viskositas minyak Jatropha curcas itu memang tinggi alias lebih kental ketimbang minyak tanah. Dampaknya daya kapilaritas minyak lebih rendah. Toh, itu bukan masalah karena diatasi dengan mempertebal sumbu kompor. Kunci pengolahan sendiri itu adalah ketersediaan bahan baku dan mesin.
Kebetulan di Pasir Wetan, masyarakat menanam jarak sebagai pembatas tanah. Sebelumnya buahnya tak pernah diolah, dibiarkan membusuk. Lalu setelah Dr Ir Agung Hendriadi melakukan uji coba mesin pengolah di sana, barulah buah-buah jarak itu dimanfaatkan. Agung adalah periset di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong, Tangerang. Doktor alumnus Agricultural Engineering Asian institute of Technology Bangkok, Th ailand, itu mendesain mesin pengolah jarak selama 5 bulan.
Mudah dioperasikan
Dengan kapasitas 200 kg, mesin itu mampu menghasilkan 70 liter minyak jarak mentah dalam sekali proses selama 1,5 jam. Mesin hanya menggunakan 1 penggerak motor diesel berkekuatan 8,5 HP (horse power). Daya yang digunakan 5,5 kilowatt untuk 3 mesin.
Saat ini mesin menggunakan solar sebagai bahan bakar. Maklum, Said belum mampu mengolah minyak mentah menjadi biodiesel. Kelak bila teknologi itu dikuasai oleh Said, solar dapat diganti dengan biodiesel jarak. Untuk mengoperasikan mesin selama 1 jam dibutuhkan 1 liter solar dengan harga Rp4.300/liter.
Mesin temuan Agung itu mudah dioperasikan. Mesin direkayasa menjadi 3 unit, mesin pengupas dan penghancur, pengukus, serta pengepres. Kulit buah jarak yang akan diolah berwarna kuning kecokelatan tanda matang. Biji lolos sortir kemudian dimasukkan ke mesin pengupas untuk memisahkan kulit dan biji. Biji akan keluar terpisah dari kulit. Sekarang biji jarak tanpa kulit, tampak cangkang cokelat kehitaman.
Oleh Said, biji itu dimasukkan ke dalam mesin pengukusan. Tujuannya agar cangkang lebih lunak sehingga mudah dipres. Mesin itu dilengkapi wadah berisi air yang dipanaskan. Setelah air mendidih barulah jarak dimasukkan. Setelah dikukus, biji yang masih dilapisi cangkang dimasukkan ke mesin penghancur. Mesin pengupas dan penghancur masih dalam 1unit mesin yang sama. Hanya jarak rol dibuat berbeda. Pada unit pengupas, jarak diameter rol semakin lebar; unit penghancur, lebih sempit.
Setelah cangkang dibersihkan, hasilnya berupa daging buah berwarna putih. Itu yang kemudian dimasukkan ke mesin pengepres untuk diolah menjadi minyak jarak mentah. Cara kerja mesin ini mirip penggiling daging hewan. Ukuran daging biji jarak kini kecil-kecil. Oleh Said, daging hancur itu diperas secara manual dengan kain saring. Hasilnya berupa minyak mentah yang dapat langsung digunakan sebagai pengganti minyak tanah.
“Saya berharap mesin itu dapat digunakan langsung oleh kelompok tani atau industri kecil hingga ke daerah-daerah,” ujar Agung. Lagi pula harga mesin 3 unit itu relatif terjangkau, hanya
Rp15,5-juta. Namun, harga itu dapat ditekan jika sudah diproduksi massal. Dengan mesin itu, masyarakat tak perlu antre minyak tanah. (Dewi Nurlovi Permas)
