Sunday, August 14, 2022

Untung Melambung dari Bibit Jarak

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kalaulah 1 ha berisi 2.500 tanaman, berarti paling tidak 25-miliar bibit harus tersedia. Itulah yang kini menjadi incaran pekebun jarak.

Kebutuhan bibit jarak akan membumbung sejalan dengan kampanye pemakaian bahan bakar nabati pengganti bahan bakar minyak yang makin menipis. Luasan pananaman jarak yang dicanangkan pemerintah itu hanya untuk mengganti 10% konsumsi solar Indonesia setiap tahun. Berdasarkan data Pertamina konsumsi solar pada Mei 2005 saja mencapai 59.400 kiloliter per hari atau 22-juta kiloliter per tahun.

Menipisnya pasokan BBM menyebabkan harga melambung. Oleh sebab itu, untuk menanggulangi meroketnya harga BBM, pada 12 Oktober 2005 lalu, 8 menteri terkait, perwakilan pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan akademisi, hadir mendeklarasikan gerakan nasional menanam jarak 10-juta hektar. Pemerintah melalui BUMN yang bergerak

di bidang energi biji menandaskan akan menjamin pembelian jarak.

Menangkap peluang

Pencanangan pengembangan jarak telah lama tercium Soni Sofian, pekebun

jarak di Bogor. Baru tiga bulan memulai, PT Krakatau Steel memborong sekitar 5.000 bibit miliknya. Pertamina memesan 6- juta—7-juta bibit untuk penanaman seluas 2.700 ha di sekitar wilayah-wilayah pabrik pengolahan minyak bumi milik Pertamina. Namun, Soni hanya sanggup memenuhi 20%-nya saja atau hanya untuk memenuhi kebutuhan 540 hektar lahan. Belum lagi pesanan 300-ribu—400-ribu bibit dari PT Jasamarga yang akan menghijaukan ruas jalan tol Cipularang sepanjang 60—70 km.

Karena permintaan bibit begitu banyak, alumnus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran ini mencarinya mulai dari Ponorogo, Jember, Jampang, hingga Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ia berhasil memboyong 800.000 bibit. Dengan harga jual Rp1.000—1.500 per bibit, ia meraup omzet hingga Rp800-juta.

Manisnya perniagaan bibit pinoncillo—sebutannya di Meksiko— juga dirasakan Ahmad Syahroni, direktur Cibubur Jarak Center. Baru enam bulan mulai membibitkan jarak, Perhutani langsung memesan untuk konservasi lahan seluas 10 ha. Ahmad mengirim 10 kg biji seharga Rp30.000/kg untuk contoh.

Pesanan lainnya datang dari pemerintah Provinsi Sumatera Barat, yang mencanangkan program penanaman jarak seluas 200-ribu ha. Untuk lahan seluas itu, dibutuhkan sekitar 500-juta bibit. Namun, untuk tahap awal, Syahroni baru memenuhi 35.000 bibit. Ia terus menggenjot produksinya dengan target 50-ribu bibit/2 minggu. Harga ditetapkan Rp1.000 per tanaman.

PT Rajawali Nusantara Indonesia (PT RNI) yang berencana mengebunkan jarak seluas 1.100 ha: di Cirebon 350 ha, Subang 150 ha, dan Pasuruan 600 ha, membutuhkan tidak kurang 2,75-juta bibit. “Itu untuk kebutuhan sekitar 160- juta liter minyak jarak mentah per tahun,” kata Bachtiar, kepala Pengembangan Bisnis PT RNI. Sampai sekarang, RNI pun belum kebagian bibit.

Holid Azhari, yang baru saja mencemplungkan diri sebagai penyedia bibit jarak pada Mei 2005, langsung dihujani pesanan. Direktur Caraka Seedling Indonesia, Cirebon, itu langsung ditantang  pengusaha asal Surabaya yang meminta 25 ton biji jarak kering untuk bibit. Tak ketinggalan permintaan dari Makassar dan Palembang masing-masing sebanyak 6 ton. “Spontan saya tolak, habisnya ngga ada barang,” ujar pria asli Cirebon itu. Holid baru memiliki stok 2 kg benih dan 8.000— 10.000 setek. “Itu hanya untuk memenuhi permintaan PT Selbindo dan pekebun di sekitar,” tambahnya.

Setinggi 20—30 cm

Bibit jarak diproduksi dengan dua cara. Ada yang dari setek dan ada juga yang berasal dari benih. Bibit asal setek diambil dari tanaman-tanaman induk di hutan atau yang tumbuh di pekarangan. Cabang dipotong-potong sepanjang 20—30 cm, lalu ditanam di media campuran tanah, pupuk kandang, dan pasir di dalam polibag. Selang 2 bulan, bibit setinggi 50 cm siap dijual. Sementara yang dari benih diperoleh setelah biji disemai selama 2 minggu. Untuk mencapai ukuran bibit siap tanam, butuh waktu 2—3 bulan.

“Biaya pembuatan bibit tidak mahal, paling 60—70% dari harga jual,” tutur Soni. Oleh karena itu, banyak pekebun yang tertarik membibitkan jarak. Biji jarak yang dihasilkan dari kebunnya tidak dijual, melainkan dibibitkan. “Kami lebih tertarik menjual bibit. Kalau dijual biji, paling Rp1.000—Rp1.500/kg. Tapi jika dibibitkan, harga bisa berlipatlipat,” kata Holid. Dari sekilo biji berisi 1.500—2.000 buah, dengan tingkat hidup 90% sampai siap jual, berarti diperoleh pendapatan Rp1.350.000—Rp1.800.000. Bibit dijual seharga Rp1.000/tanaman. Artinya, Rp400.000—Rp540.000 dari setiap kilogram benih masuk kantong.

Meski pasar cukup terbuka, bukan berarti keuntungan semakin mudah digapai. Holid pada awal pengusahaan justru menuai rugi. Pasalnya, bibit yang dikirim ke PT Selbindo 30—40% rusak ketika sampai di tempat tujuan. “Bibit jarak sangat riskan. Terkena goyangan sedikit saja saat pengangkutan, akarnya tercabut dan mati,” kata Holid.

Namun, semua kendala itu akan bisa diatasi bila ditangani dengan penuh kehatihatian. Misalnya, gunakan alat angkut yang dilengkapi rak bertingkat agar bibit tidak bertumpuk. Itulah yang dilakukan Soni sehingga ia memandang usaha pembibitan jarak sebagai bisnis yang menggiurkan. Ketika ditanya prospek usaha menjajakan bibit jarak, Soni berujar, “Dalam 1—2 tahun ke depan masih bagus.” Saat pekebun jarak sudah ramai, permintaan bibit akan menurun karena mereka bisa membibitkan sendiri. (Imam Wiguna/Peliput: Rosy Nur

Apriyanti & Lastioro Anmi Tambunan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img