Daun tin menghambat perkembangan sel kanker serviks.

Buah tin menjadi primadona lantaran kaya nutrisi dan bercitarasa lezat. Kitab suci Al Quran dalam Surat At Tin bahkan menyebut tin sebagai tanaman istimewa. Sejumlah penelitian membuktikan, bukan hanya buahnya yang bermanfaat, tetapi daun tin pun berfaedah bagi kesehatan. Penelitian Redoyan Refli dari Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor membuktikan ekstrak daun tin Ficus carica mampu menghambat pertumbuhan sel kanker HeLa—sel yang diambil dari jaringan kanker serviks atau leher rahim.
Redoyan menguji praklinis daun ara—sebutan lain tin—yang ditanam di Jawa Barat, yakni Bogor dan Bandung. Ia mencuci setiap helai daun lantas mengeringkannya di bawah sinar matahari selama 7 hari. Daun yang sudah kering lantas dihaluskan menggunakan penggiling berukuran 40 mesh. Hasil uji fitokimia menunjukkan, daun tin mengandung senyawa antioksidan seperti flavonoid, tanin, steroid, dan alkaloid.
Flavonoid
Redoyan lantas mengekstraksi setiap senyawa itu untuk serangkaian tes lebih lanjut. Ia menguji aktivitas antioksidan dan toksisitas yang dimiliki ketiga senyawa lebih dahulu. Hasil akhir kedua tes itu bertujuan untuk mengetahui senyawa yang paling berpotensi menghambat proliferasi alias perbanyakan sel kanker HeLa. Untuk menguji aktivitas antioksidan Redoyan menggunakan metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Hasilnya menunjukkan, esktrak flavonoid mengandung antioksidan terbaik dengan nilai IC50 sebesar 150 ppm.
Suatu senyawa memiliki kemampuan antioksidan sangat kuat bila nilai IC50 (Inhibition Consentration) kurang dari 50. Jika nilai IC50 bernilai 50—100, 100—150, atau 151—200 kemampuan antioksidannya masing-masing kuat, sedang, dan lemah. Adapun untuk menguji toksisitas, Redoyan menggunakan metode brine shrimp lethality (BSL). Berdasarkan uji BSL suatu senyawa disebut sangat beracun bila memiliki nilai LC50 di bawah 30 ppm. Apabila nilai LC50 antara 30—1.000 ppm maka senyawa dianggap beracun. Sementara bila nilai LC50 yang dimiliki di atas 1.000 ppm maka tidak mengandung racun.

Hasil uji BSL pada flavonoid, steroid, dan tanin menunjukkan, nilai LC50 masing-masing 191,43 ppm, 153,85 ppm dan 150,14 ppm. Kedua uji itu menunjukkan flavonoid memiliki aktivitas antioksidan terbaik dan toksisitas terendah. Itu sebabnya, Redoyan menggunakan flavonoid sebagai agen untuk menghambat pertumbuhan sel kanker HeLa. Ia melakukan pengujian antikanker itu dengan berbagai konsentrasi yakni 50 ppm, 100 ppm, 200 ppm, 400 ppm, dan 800 ppm.
Peneliti muda itu menggunakan metode 3-(4,5-dimetiltiazol-2-il)-2,5-difeniltetrazolium untuk menguji daya hambat flavonoid terhadap perkembangan sel kanker HeLa. Ia lantas memecah setiap konsentrasi menjadi 9 fraksi menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Hasilnya menunjukkan fraksi ketujuh pada konsentrasi 800 ppm mampu menahan peningkatan jumlah sel kanker hingga 57,18%.
Menurut Globocan, Pusat Penelitian Kanker Internasional di bawah naungan Badan Kesehatan Dunia, ditemukan 266.000 kasus kematian di seluruh dunia akibat kanker serviks pada 2012. Adapun data Riset Kesehatan Dasar, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI kanker serviks menduduki prevalensi tertinggi sebanyak 98.692 kasus pada 2013. Pada urutan kedua dan ketiga, masing-masing ditempati oleh kanker payudara dan kanker prostat.
Panasea
Kanker mematikan itu disebabkan oleh infeksi human papiloma virus (HPV). Kontak seksual dan kebiasaan merokok menjadi pemicu kemunculan kanker pada mulut rahim itu. Menurut dr Sidi Aritjahja, dokter dan herbalis di Yogyakarta, pasien kerap tak menyadari sudah terjangkit kanker serviks. Pasien biasanya berobat saat kanker berada pada stadium lanjut. Tanda-tanda pada tubuh seperti keputihan yang tak kunjung usai, pendarahan saat berhubungan seksual, nyeri pada perut bagian bawah, dan sakit saat berurin, bisa menjadi pertanda awal datangnya kanker.

Sidi menuturkan daun tin memang mengandung antioksidan yang berpotensi melawan penyakit. “Daun tin juga mengandung alkaloid dan saponin yang bermanfaat sebagai diuretik serta memperbaiki metabolisme protein dan lemak,” ujar Sidi. Keduanya andal menghancurkan batu yang mengendap di saluran kemih dan ginjal. Ada pun senyawa flavonoid yang terkandung dalam daun tanaman anggota keluarga Moraceae itu antara lain kuersetin dan luteolin.
Di sejumlah negara daun tin juga terbukti secara empiris sebagai panasea. James A. Duke dan rekan dalam buku Duke’s Handbook of Medicinal Plants of the Bible menyebut Rakyat Tiongkok biasa memetik daun tin untuk mengatasi wasir. Sementara penduduk Kuba merebus daun kerabat beringin itu untuk mengobati sakit dada. Adapun penduduk di wilayah Amerika Latin membakar daun tin untuk mengatasi asma. Adapun masyarakat Haiti meminum air rebusan daun tin untuk meredakan pilek. (Andari Titisari)
