Saturday, August 13, 2022

Menjaga Mutu Daun Tin

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tepat budidaya dan gunakan daun terbaik rahasia herbal daun tin berkualitas.

Herbal daun tin wajib menggunakan daun berkualitas tinggi tanpa bahan kimia.
Herbal daun tin wajib menggunakan daun berkualitas tinggi tanpa bahan kimia.

I Wayan Sudiasa memetik daun tin di ruas ke-4, 5, hingga ke-6. Dengan hati-hati ia memotong daun itu agar getah tak menetes. Harap mafhum jika getah terkena kulit menyebabkan iritasi. “Pada daun tua, biasanya sudah terkena karat daun, sehingga saya khawatir membahayakan konsumen,” ujar pehobi tanaman tin di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur itu. Ia membiarkan daun muda agar proses pertumbuhan tanaman tidak terganggu.

Farmakolog dari Institut Teknologi Bandung, Prof Sukrasno, menuturkan senyawa-senyawa berkhasiat pada daun tanaman herbal umumnya maksimal di daun muda hingga setengah tua. “Secara umum tanaman memproduksi metabolisme pada awal dan akhir, pada kebanyakan herbal daun yang paling bagus di awal dan maksimal di tengah. Kalau sudah terlalu tua banyak berkurang,” ujar Prof Sukrasno.

Tanpa tangkai
Prof Sukrasno mencontohkan pada tanaman sirih, mengonsumsi daun yang sudah tua malah bisa menyebabkan iritasi. Ia menyarankan agar produsen juga memperhatikan bagian tanaman sebagai bahan seduhan herbal. Pehobi tanaman tin di Malang, Jawa Timur, Guruh Ade Prana Sapoetra, hanya memanen daun tanpa tangkai. Herbalis di Kotamadya Batu, Jawa Timur, Wahyu Suprapto tak menyarankan memanen daun Ficus carica plus tangkainya.

I Wayan Sudiasa menggunakan daun tin pada ruas ke-4 untuk membuat herbal seduh.
I Wayan Sudiasa menggunakan daun tin pada ruas ke-4 untuk membuat herbal seduh.

“Senyawa berkhasiat terletak pada daun sehingga tangkai tak perlu disertakan,” ujar Wahyu. Menurut Wahyu jika produsen menyertakan tangkai sementara senyawa berkhasiat justru paling banyak pada daun, tangkai itu hanya menambah bobot. “Ujung-ujungnya kualitas seduhan menjadi berkurang khasiatnya,” ujar Wahyu. Selain pemilihan daun, cara pengeringannya juga menentukan kualitas herbal.

Sudiasa menjemur daun agar kering dengan mengangin-anginkan di halaman rumah. “Kalau terkena matahari langsung senyawa yang berkhasiat akan berkurang,” ujar lelaki kelahiran Provinsi Bali 8 April 1985 itu. Menurut Prof Sukrasno, “Sebaiknya memang tidak terkena sinar matahari langsung karena senyawa dalam daun tanaman herbal mudah teroksidasi sehingga bisa hilang,” ujarnya.

Ia menyarankan untuk melakukan pengeringan dengan mengangin-anginkan tanpa terkena sinar matahari langsung plus menggunakan alas yang berongga. Yang terbaik menggunakan rak yang di bagian bawahnya renggang agar sirkulasi udara lancar. Itu mencegah daun busuk. Prof Sukrasno tidak menyarankan menggunakan alas plastik karena aliran udara di bawah daun tidak lancar. “Jika udara di bawah daun tidak lancar akan lembap dan memicu munculnya cendawan,” ujarnya.

Nonkimia

Pengeringan daun tin beralaskan jaring.
Pengeringan daun tin beralaskan jaring.

Guruh Ade Prana Sapoetra menggunakan jaring plastik sebagai alas dan penutup daun. “Jadi daun tanamn tin kita apit dengan dua jaring. Selain sirkulasi udara lancar, daun juga tidak terbawa angin,” ujar Guruh. Ia mengeringkan selama 2 hari hingga daun kering dan mudah dihancurkan hanya dengan diremas menggunakan tangan. Selain dengan mengangin-anginkan, pengeringan daun tin bisa menggunakan oven.

Namun, menurut Prof Sukrasno, suhu ideal untuk pengeringan tanaman herbal di angka 40°C. “Yang paling jelek pada suhu 60°C, karena bisa menyebabkan fenol oksidase yang mengoksidasi senyawa-senyawa bermanfaat pada tanaman. Pada daun kenikir, misalnya, jika pada suhu 55—60°C senyawa flavonoid turun,” ujarnya. Produsen juga sebaiknya menghindari penggunaan bahan-bahan kimia, terutama saat proses pengemasan.

Daun tembakau terfermentasi sebagai pengganti pestisida kimia untuk mengatasi kutu putih
Daun tembakau terfermentasi sebagai pengganti pestisida kimia untuk mengatasi kutu putih

Sudiasa pernah bernisiatif menggunakan lem untuk melekatkan tali kantong teh ke kertas pegangan. Namun, dari pihak pabrik tempat pengemasan produknya melarang. Alasannya karena lem mengandung bahan kimia dan bisa menurunkan kualitas produk herbal. “Akhirnya saya hanya mengikat talinya ke kertas pegangan, tanpa menggunakan lem,” ujar Sudiasa.

Pada proses budidaya pun demikian. Petani wajib menghindari penggunaan pestisida kimia. Guruh menggunakan daun tembakau untuk mengatasi hama pada tanaman tin seperti thrips. Ia memfermentasikan terlebih dahulu daun tembakau selama sehari. Untuk penggunaannya, Guruh mengencerkan daun tembakau terfermentasi dengan air biasa perbandingan 1 : 5.

Pengikatan tali kantong secara manual tanpa lem dan idealnya berisi 1 gram daun kering per kantong
Pengikatan tali kantong secara manual tanpa lem dan idealnya berisi 1 gram daun kering per kantong

“Setelah disemprot pestisida nabati, keesokan harinya disemprot air biasa agar bersih,” ujarnya. Menurut Prof Sukrasno beberapa senyawa yang terkandung pada pestisida kimia membahayakan bagi tubuh saat terakumulasi. “Senyawa-senyawa seperti klor dan fosfor membahayakan bagi kesehatan jika terakumulasi dalam tubuh,” ujarnya. Penggunaan berlebih meninggalkan residu yang membahayakan kesehatan.

Pada pengemasan herbal, jumlah daun tiap kantong juga harus dihitung. Menurut Sudiasa per kantong idealnya hanya berbobot 1 gram daun kering. “Idealnya satu kantong teh berisi 1 g yang diperuntukkan untuk satu gelas. Jika lebih dari satu gram, rasanya bisa pahit,” ujar lelaki yang menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia itu. Maka wajar pembuatan herbal daun tin terkesan rumit, demi kualitas terbaik produk. (Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img