Trubus.id — Beberapa buah-buahan telah dikembangkan tanpa biji, seperti semangka tanpa biji. Saat ini, buah sekaligus sayuran tomat juga dikembangkan ke arah sana, tomat tanpa biji.
Syariful Mubarok, S.P., M.Sc., Ph.D., dosen di Departemen Budidaya Pertanian Universitas Padjadjaran, tengah menyiapkan varietas tomat partenokarpi atau tomat tanpa biji. Syariful juga memastikan tomat tanpa biji rakitannya dapat tumbuh dengan baik di lingkungan tropis.
Menurutnya, tanaman tomat Lycopersicum esculentum mampu membentuk buah tanpa terjadinya proses persilangan. Selain itu, tanaman tomat dapat menghasilkan buah pada kondisi lingkungan yang tercekam. Syariful mendapatkan induk tanaman tomat berasal dari University of Tsukuba dengan nama mutan Sliaa9-3 dan Sliaa9-5.
Kini, Syariful menguji tanaman di bawah cekaman lingkungan pada suhu tinggi sekitar 45°C. Menurutnya, tanaman tomat tumbuh dan berbuah pada kisaran suhu <36°C. Hal ini karena pada suhu tinggi tomat akan gagal berbuah.
Tanaman tomat tanpa biji itu berdaun tunggal, warna daun hijau pekat, dan tidak membentuk cabang. Hal ini karena rekayasa hormon auksin yang memengaruhi perikarp buah sehingga bakal buah membesar walaupun tanpa proses polinasi atau penyerbukan.
Setelah Syariful melakukan emaskulasi alias sterilisasi polen, buah dari mutan Sliaa9-3 dan Sliaa9-5 tetap terbentuk dan membesar.
Tomat tanpa biji mengalami mutasi pada gen IAA 9, yakni gen yang terlibat di dalam sinyal tranduksi auksin. Mutasi menyebabkan meningkatnya aktivitas hormon auksin. Hormon itu berperan menghambat proses percabangan dan meningkatkan dominansi apikal. Akibatnya, kemunculan tunas samping terhambat.
Auksin juga berpengaruh terhadap pembentukan buah partenokarpi. Oleh karena itu, tanpa pemberian auksin secara eksogen, tanaman anggota famili Solanaceae itu tetap dapat menghasilkan buah. Para periset lazim menyemprotkan auksin atau giberelin pada bunga untuk membuat buah partenokarpi.
