Saturday, January 24, 2026

Upaya Menyelamatkan Kantong Semar

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Nepenthes atau kantong semar perlu diselamatkan agar tidak punah. Salah satu upaya menjaga agar kantong semar tidak punah adalah dengan melakukan perbanyakan kultur jaringan.

Ada tiga pemuda dari CV Andharu Mitra Agrica yang tertarik melestarikan kantong semar dengan kultur jaringan. Ketiga pemuda itu  di antaranya Muhammad Luthfi, Akkira Ongki Vradana, dan Boas Alvin Giarto.

Mereka memilih kultur jaringan untuk memperbanyak tanaman, lantaran hasil yang didapat dari teknik itu mirip induk dan pengerjaannya singkat.  Luthfi menuturkan, setidaknya terdapat permintaan 60 kantong semar langka berbagai jenis dalam sebulan.

Namun produksi dari perbanyakan kultur jaringan belum mampu memenuhi permintaan itu, lantaran produksi masih terbatas. Luthfi, Akkira, dan Boas, hanya melepas nepenthes jenis tertentu yang pasokannya relatif banyak.

Luthfi mencontohkan N. truncata berumur 11 bulan hasil pencacahan. Ia melepas tanaman itu Rp400.000—Rp800.000. Warga Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu menuturkan bahwa permintaan N. truncata cukup banyak di Indonesia.

Oleh sebab itu, mereka meningkatkan produksi N. truncata. Apalagi, harga N. truncata cukup tinggi di pasaran sehingga peluang mendapatkan rupiah lebih besar dibandingkan dengan jenis lain. Mereka memanfaatkan bagian batang N. truncata sebagai bahan perbanyakan.

Jenis lain yang juga menjadi fokus perbanyakan adalah N. andrianii dan N. glabrata. Luthfi dan Akkira menyeleksi betul indukan yang diperbanyak. Mereka mendatangkan induk N. truncata dari Filipina.Tanaman berumur 5 tahun itu setinggi 1 meter. Harganya Rp8 juta.

Mereka harus mendatangkan N. truncata dari Filipina lantaran kriteria dan kualitas tanaman sesuai yang mereka inginkan. “Induk berumur 5 tahun tergolong matang dan siap diperbanyak,” kata Luthfi.

Sementara jika induk berumur kurang dari 5 tahun tergolong masih muda sehingga rentan gagal bila dilakukan perbanyakan.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img