Tatang Supian pernah gagal memanen sorgum di lahan seluas 10 bata pada 2015. “Hasil panen habis dimakan burung,” ujar petani asal Desa Cipondok, Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.
Serangan burung merupakan kendala utama karena merusak tanaman menjelang panen. Namun, Tatang tidak patah semangat dan kini menanam sorgum di lahan 200 tumbak atau sekitar 2.800 m² dengan hasil panen mencapai 6 kuintal.
Menurut Tatang, salah satu upaya pengendalian yaitu menggunakan cairan dari dedak ikan sebagai penyemprot. Burung cenderung menghindari bau amis dari dedak ikan sehingga tidak mendekati tanaman.
Ia juga memutar rekaman suara elang untuk mengusir burung dari lahan sorgum. Cara ini menjadi alternatif sederhana yang cukup membantu menjaga tanaman tetap aman.
Petani dan pengolah sorgum di Dusun Kali Kacang, Desa Sidorejo, Kecamatan Sugio, Lamongan, Jawa Timur, Ida, mengatakan bahwa penggunaan jaring juga efektif. Namun, biaya pembelian dan pemasangan jaring cukup tinggi bagi petani kecil.
Ida menambahkan bahwa pestisida alami dapat menjadi pilihan lain bagi petani. Larutan fermentasi tembakau atau daun mimba bisa disemprotkan setiap tiga hari sekali untuk menekan serangan hama.
Menanam sorgum merah juga bisa menjadi solusi karena burung kurang menyukai varietas tersebut. Meski begitu, sorgum merah memiliki rendemen lebih rendah karena banyak biji yang terbuang saat proses penggilingan.
Selain itu, tepung dari sorgum merah biasanya berwarna lebih gelap dibandingkan sorgum putih. Kondisi ini berpengaruh pada kualitas visual produk olahan meski secara nutrisi tetap baik.
Penelitian Matthew Hiron dalam jurnal Ostrich menunjukkan kerusakan sorgum akibat burung bisa sangat parah meskipun sudah dilakukan berbagai upaya perlindungan. Studi di Kenya itu mengungkapkan hampir 60% hasil biji hilang dimakan burung.
Padahal, ladang dijaga oleh dua orang pengusir burung penuh waktu selama empat hari berturut-turut. Hiron mendapati bahwa burung manyar punggung tutul dan african mourning dove merupakan spesies paling merusak.
Kedua spesies itu memiliki perilaku makan intensif dan dapat mengonsumsi ratusan biji sorgum dalam satu kunjungan. Mereka juga bertahan lama di ladang jika tidak segera diusir.
Aktivitas burung berlangsung sepanjang hari dengan intensitas tertinggi saat petugas tidak berada di ladang seperti saat fajar atau hujan. Kerusakan terbesar terjadi di tepi ladang yang jauh dari posisi petugas pengusir.
Metode pengusiran seperti melempar lumpur efektif secara lokal tetapi belum memberikan perlindungan menyeluruh. Oleh karena itu, perlindungan perlu dilakukan secara konsisten dari sebelum fajar hingga senja.
Hiron menekankan pentingnya riset lanjutan untuk mengembangkan metode pengendalian yang efektif, ramah lingkungan, dan terjangkau. Hingga kini burung masih menjadi hama yang sulit ditanggulangi secara maksimal.
Selain burung, hama lain yang menyerang sorgum adalah tikus. Tatang memangkas daun pada usia 1,5 bulan setelah tanam untuk mencegah tikus bersarang dan memperkuat pembentukan bulir.
Tantangan dalam budidaya sorgum juga ada pada fase pascapanen. Menurut penggiat sorgum Lili Utarli Suradilaga, ketersediaan mesin sosoh masih sangat terbatas.
Mesin sosoh berfungsi mengupas kulit ari biji sorgum sehingga menghasilkan beras atau tepung yang bersih. Sayangnya, alat ini belum banyak dimiliki petani sehingga proses pengolahan menjadi terhambat.
Meski menghadapi tantangan dari hama hingga pascapanen, petani seperti Tatang dan Ida tetap bertahan menanam sorgum. Dengan berbagai inovasi sederhana, mereka tetap mampu memanen sorgum dan mengolahnya menjadi beragam produk pangan.
