Wednesday, August 10, 2022

Walet Tidak Tularkan Flu Burung!

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Semua itu berawal dari kematian Iwan Siswara di Tangerang, Banten, setahun silam. Berdasarkan wawancara yang disiarkan sebuah radio swasta di Jakarta, sebelum Iwan terpapar wabah flu burung, ada serombongan burung melintas di kawasan rumahnya. Burung yang hendak migrasi dari Asia menuju Australia itu sempat menclok di sesuhunan dan membuang kotoran. Dari kotoran itulah virus flu burung menjangkiti ayah dua anak itu hingga meninggal.

Avian influenza memang dapat menyebar sangat cepat di antara populasi unggas, bahkan dari peternakan satu ke peternakan lain. Ia menimbulkan risiko kematian tinggi. Namun, virus flu burung biasanya host-specific, mempunyai inang tertentu yang spesifik. Seperti virus H5N1 dan H9N2 hanya menginfeksi burung. Meski kadang-kadang menulari babi, kuda, ikan paus. Bahkan manusia pun bisa tertular bila virus itu berevolusi terlebih dahulu: mengubah diri melalui antigenic drift dan antigenic shift.

Burung migran

Selama ini diduga virus avian influenza (AI) disebarkan oleh burung-burung liar yang bermigrasi hingga ribuan kilometer. Misalnya burung layang-layang, belibis, pelikan, dan angsa. Mereka bermigrasi pada musim dingin dari negara-negara subtropis ke negara tropis yang sedang musim panas. Burung-burung liar lokal yang berbaur dengan burung-burung migran pembawa virus AI ikut tertular. Oleh karena itulah walet, seriti, dan burung layang-layang di tanahair yang notabene burung liar dicap sebagai penyebab penularan virus flu burung.

Menurut hemat penulis, burung layang-layang dari keluarga Hirudinidae itu mempunyai potensi untuk menyebarkan penyakit flu burung, tapi walet dan seriti tidak. Mengapa? Keduanya mempunyai habitat dan perilaku berbeda. Burung layang-layang atau dalam bahasa Inggris disebut swallow temasuk burung yang bermigrasi. Ia terdapat di mancanegara baik di negara subtropis maupun tropis, seperti di Jerman, Belanda, Inggris, Venezuela, Kolumbia, Peru, dan Equador.

Sementara walet dan seriti hanya terdapat di Indonesia, Malaysia, Vietnam Selatan, Thailand Selatan, Philipina Selatan, Myanmar, serta di Pulau Andaman dan Nicobar di India. Anggota keluarga Apodidae itu sama sekali tidak bermigrasi. Pindah dari satu pulau ke pulau lain yang berdekatan pun tidak pernah terjadi. Sebab, kemampuan terbang walet dan seriti hanya sejauh radius 25-30 km. Kecuali dalam keadaan darurat seperti ketika kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan, sebagian pindah atau menyelamatkan diri ke Malaysia.

Persamaan antara burung layang-layang dengan walet dan seriti hanya sebatas jenis pakan, yakni serangga terbang seperti laron dan beragam jenis kutu berukuran kecil. Namun, martin-sebutan lain burung layang-layang-pakannya lebih beragam karena bisa bertengger di ranting-ranting tanaman. Ia bisa menyantap semut dan ulat-ulat daun sambil berteduh di rerimbunan pohon. Sedangkan walet tidak mampu melakukannya.

Tak berbaur

Walet dan seriti jelas berbeda dengan burung layang-layang. Keduanya tak pernah berbaur, sehingga kemungkinan tertular virus AI yang dibawa burung migran seperti burung layang-layang, hampir nol. Mereka juga tidak mungkin tertular virus mematikan itu dari peternakan-peternakan unggas. Sebab, kaki walet maupun seriti mengalami rudimenter alias pertumbuhannya tidak sempurna. Kedua kakinya tidak bisa hinggap di kandang ayam atau di tanah, melainkan hanya untuk bergantung di sarangnya.

Jadi, walet dan seriti bebas dari peluang terinfeksi kotoran di tanah yang mengandung virus AI. Makanya, tertular saja tidak, bagaimana mungkin walet menularkan virus AI pada unggas maupun manusia? Apalagi walet dan seriti sepanjang hari terbang. Kesempatan bersinggungan dengan manusia dan unggas-unggas lain sangat kecil. Menyantap pakan pun dilakukan walet sambil terbang.

Lebih-lebih jika dilihat dari habitatnya. Collocalia fuciphaga itu umumnya di dataran rendah dan maksimal di ketinggian 500 m dpl. Habitat seperti itu kondisinya panas dan lembap. Sedangkan virus flu burung lebih tahan hidup di udara dingin. Ia tidak tahan terhadap panas. Di udara terbuka, di bawah sinar matahari akan mati hanya dalam hitungan 3-4 menit. Oleh karena itulah kasus kematian oleh virus flu burung lebih banyak di daerah subtropis.

Sebaliknya di daerah tropis seperti Indonesia sangat kecil. Jauh lebih kecil bila dibandingkan angka kematian akibat demam berdarah, misalnya. Sesunguhnya manusia tidak mudah terinfeksi virus AI. Ini terbukti dari hasil pemeriksaan darah para pekerja di peternakan-peternakan yang ayamnya mati terpapar flu burung. Di sana tak seorang pun yang terindikasi positif tertular AI. Alangkah bijaksananya bila sebelum ada bukti, jangan tuduh walet dan seriti sebagai salah satu biang kerok penyebar maut. (drh Nugroho, ahli penyakit hewan sekaligus ketua Asosiasi Perwaletan Indonesia)

Previous articleUlar Palsu
Next articleVol. 03 Adenium
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img