Trubus.id-Budidaya sidat dengan sistem recirculating aquaculture system (RAS) memang membutuhkan modal besar pada tahap awal. Namun, keuntungan yang diperoleh juga cukup menarik, terutama setelah sistem berjalan stabil.
Pembudidaya sidat asal Bandung Barat, Wisnu Nugroho, mengungkapkan bahwa investasi awal untuk membangun 10 kolam fiberglass beserta instalasi RAS mencapai sekitar Rp160 juta. Sementara biaya pembelian bibit sidat fase elver mencapai Rp25 juta.
Jumlah itu digunakan untuk membeli 5.000 ekor bibit sidat berbobot 10 gram per ekor. Harga bibit elver sidat sekitar Rp500.000 per kilogram.
Selain biaya sarana budidaya dan bibit, pengeluaran terbesar berasal dari pakan. Berdasarkan pengalaman Wisnu, nilai feed conversion ratio (FCR) sidat mencapai 2. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg daging sidat dibutuhkan sekitar 2 kg pakan.
Untuk membesarkan sidat dari bobot 10 gram hingga 250 gram per ekor, kebutuhan pakan mencapai sekitar 480 gram per ekor. Dengan populasi 5.000 ekor, total pakan yang diperlukan sekitar 2,4 ton.
Dengan harga pakan Rp25.000 per kg, biaya pakan mencapai Rp60 juta. Jika seluruh biaya produksi dijumlahkan, modal awal budidaya sidat sistem RAS mencapai sekitar Rp245 juta.
Meski begitu, hasil panennya cukup menjanjikan. Dari 5.000 ekor sidat, Wisnu mampu memanen sekitar 1,25 ton sidat konsumsi. Dengan harga jual Rp300.000 per kg, omzet mencapai Rp375 juta.
“Laba bersihnya sekitar Rp130 juta untuk satu siklus,” ujar Wisnu.
Satu siklus pembesaran sidat dari fase elver hingga ukuran konsumsi membutuhkan waktu sekitar 9 bulan. Dengan demikian, rata-rata pendapatan yang diperoleh mencapai sekitar Rp14,4 juta per bulan.
Menurut Wisnu, biaya produksi pada musim panen berikutnya akan lebih ringan karena sarana dan instalasi RAS sudah tersedia. Oleh sebab itu, keuntungan pada siklus selanjutnya berpotensi lebih besar.
Selain menghasilkan keuntungan ekonomi, sistem RAS juga mendukung budidaya sidat yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
