Daun palem dan paku-pakuan bahan rangkaian menjadi karya seni yang memikat.

Trubus — Pehobi memanfaatkan palem waregu sebagai penghias ruangan karena tanaman tahan banting. Lucia Raras justru mengolah daun waregu sebagai penghias dinding. Dinding rumah tampak elok berkat kehadiran Raphis excelsa—dalam bahasa Yunani raphis bermakna jarum, excelsa berarti tinggi. Perangkai bunga profesional di Jakarta Selatan itu memilih palem waregu lantaran berkarakter menarik.
Daun tanaman anggota keluarga Arecaceae itu memiliki bentuk mirip jari yang terpecah. “Warna daun yang hijau gelap dan beralur memberikan kesan segar,” ujar Raras. Ia membuat rangka dari kawat dan floral foam yang ditempelkan pada dinding sebagai tempat untuk meletakkan rangkaian. Selanjutnya, ia merapikan setiap lembar daun palem waregu dengan cara memotong bagian ujungnya.

Hingga kering
Raras juga mempersiapkan aneka bunga seperti bunga jengger ayam kuning dan hijau, mawar putih, solidago hijau, dan babys breath sebagai materi untuk mempercantik rangkaian. Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (DPP IPBI) itu menuturkan, penggunaan daun dalam rangkaian flora selayaknya jangan asal tancap. Perangkai harus mampu menemukan sisi keindahan daun sehingga menghasilkan rangkaian yang memesona.
“Rangkaian dengan komposisi utama dedaunan pun bisa menjadi rangkaian flora sarat seni,” kata Raras. Lihat saja rangkaian karya Winny Hernawaty, perangkai bunga di Bandung, Jawa Barat yang begitu menawan. Pesona palem waregu terekspose sempurna dalam rangkaian karya Winny. Ia menggunakan teknik potong dan anyam untuk mengubah lembaran daun palem menjadi bentuk yang diinginkan hanya dengan bantuan kawat.

Asplenium sp. buatan Willy Ang. (Dok. Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI))
Pada rangkaian bertema “Wonderful Raphis excelsa” itu Winny menyematkan 12 kuntum anggrek cymbidium putih. Setiap tangkai anggrek mengisi tube kaca berisi air agar senantiasa segar. Warna anggrek yang kontras dengan palem membuat penampilan rangkaian kian menarik. Winny memanfaatkan aksesori berupa fosil kayu berwarna cokelat untuk menyempurnakan rangkaian.
Rangkaian karya ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI) Kota Bandung itu cocok sebagai penghias ruangan. Winny menuturkan, rangkaian daun palem waregu tahan lama. Maksudnya keelokannya tetap bisa dinikmati meskipun daun mengering. Itulah sebabnya rangkaian berbahan daun waregu pun awet.

Paku-pakuan
Daun paku-pakuan juga memiliki potensi besar sebagai materi rangkaian flora. Paku-pakuan mudah tumbuh di iklim tropis Nusantara. Tanaman yang bernaung dalam ordo Polypodiales itu sanggup menjelma sebagai rangkaian flora nan jelita. Tengok saja rangkaian buatan Maria Angelina Ratnadewi di Bandung, Jawa Barat, yang tersusun dari daun kadaka keriting Asplenium sp dan Dicranopteris linearis.
Maria cukup menggunakan teknik tempel untuk mewujudkan rangkaian berbentuk payung itu. Ia menempelkan lembar demi lembar dedaunan hingga menutupi seluruh bagian rangka. Sebelumnya, ia telah memilah daun dengan tekstur gelombang kecil dan besar. Ia juga menyeleksi dahulu daun yang akan ditempel di bagian atas atau bawah. “Proses menempel butuh waktu 1 jam,” kata Maria.
Rangkaian paku-pakuan bikinan Willy Ang juga memikat. Willy menggunakan metode sederhana yakni gulung. “Cara itu cukup mudah diterapkan bahkan untuk perangkai pemula sekalipun. Kuncinya adalah telaten,” katanya. Pada rangkaian penghias meja itu Willy menggunakan sekitar 50 lembar kadaka udang Asplenium sp. Total ia membuat 3 gulungan berukuran berbeda yakni besar, sedang, dan kecil.

Pada setiap gulungan Willy mengikat dengan tali rami supaya kokoh. Berikutnya, ia menyisipkan beragam bunga seperti agapanthus, immortelle Helichrysum italicum, mawar Rosa sp., anyelir Dianthus sp., dan hortensia Hydrangea macrophylla. Rangkaian dengan komposisi utama juga dibuat oleh perangkai bunga di Yogyakarta, Mulyana. Ia memilih leather leaf Rumohra adiantiformis untuk membuat rangkaian bertema “Aquarium Escape”.
Mulyana meletakkan dua kotak kaca berukuran besar dan kecil di atas potongan kayu. Di dalam kotak kaca itu ia meletakkan leather leaf yang ditancapkan pada oasis dengan pemberat kayu. Ia lantas mengisi kotak dengan air. Mulyana lantas meletakkan ikan yang terbuat dari daun palem kuning dan lilin. Selanjutnya, ia menghias sekeliling kotak dengan leather leaf dan bunga solidago. (Andari Titisari)
