Friday, December 2, 2022

Ziarah ke Danau Arwah

Rekomendasi

 

Turuwara tumbuh kerdil karena hidup ditanah miskin hara dan airSelain itu terpaan angin kencang tak memungkinkan tanaman itu tumbuh menjulang. Ia beradaptasi agar tetap bertahan hidup. Faktor penghambat lain adalah lokasi tumbuh di padang terbuka sehingga intensitas sinar matahari tinggi. Dampaknya auksin—hormon pertumbuhan yang diproduksi di pucuk—rusak. “Auksin sangat peka cahaya,” kata Yos Sutiyoso, ahli budidaya tanaman di Jakarta. Bandingkan dengan tanaman yang tumbuh di tempat gelap, pertumbuhannya lebih cepat alias mengalami etiolasi.

Curah hujan rendah, 1.651 mm per tahun, turut andil terhadap mininya sosok turuwara alias azalea. Bandingkan dengan curah hujan di Bogor, Provinsi Jawa Barat, yang mencapai 4.800 mm per tahun. Sudah curan hujan rendah, tanah di Kelimutu berpasir pula sehingga tak mampu mengikat air. Urusan air memang penting demi kelangsungan hidup tumbuhan seperti turuwara.

Oleh karena itu ukuran daun turuwara juga amat mungil. Begitulah siasat tanaman anggota famili Ericaceae itu berhemat air karena di puncak gunung air barang langka. Ukuran daun kecil mencegah evaporasi berlebihan. “Dengan keadaan seperti itu terjadi pengerdilan oleh alam,” kata Gregori. Jika faktor penghambat itu hilang, misalnya turuwara tumbuh di lahan subur, tanaman akan tumbuh lebih tinggi.

Turuwara tanaman endemik di Kelimutu. Melihat sosoknya, pebonsai bakal jatuh hati. Pendek, batang tampak tua, percabangan kompak, dan daun kecil: pas betul untuk bonsai. Namun, jangan harap para pebonsai menenteng pulang tanaman yang dipercaya sebagai makanan para arwah leluhur itu. Sebab, turuwara itu dilindungi dan terlarang dibawa pulang. Taman Nasional Kelimutu tengah memperbanyak tanaman itu dengan setek dan tunas akar.

Menurut Kepala Taman Nasional Kelimutu Ir Gatot Soebiantoro MSc, dari 3.000 perbanyakan itu, hanya 40% yang tumbuh. Sebagian besar yang tumbuh adalah hasil perbanyakan dari tunas akar. “Turuwara dikembangkan karena membentuk ekosistem. Buahnya menjadi pakan kera ekor panjang,” kata Gatot yang menjabat kepala taman nasional sejak 2006.

Ia bukan satu-satunya spesies endemik di Kelimutu (huruf e dibaca keras seperti pada kata kemah). Di gunung setinggi 1.690 meter di atas permukaan laut itu juga tumbuh uta onga Begonia kelimutuensis dan edelweis Anaphalis longifolia yang berbunga sepanjang tahun. Kawasan Kelimutu berada dalam 5 kecamatan—Detusoko, Kelimutu, Ndona, Ndona Timur, dan Wolowaru—semua di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dari bandara H Hasan Aroeboesman di Kota Ende, lokasi itu dicapai selama 1,5 jam. Trubus mengunjungi Kelimutu setelah menginap semalam di Desa Ekoleta, Kecamatan Detusoko, Ende. Perjalanan ke sana pada pagi yang menggigilkan—suhu terendah di Kelimutu 11,6oC. Untuk menghalau dingin, Adi Putera Widjaja, pelancong dari Kelapagading, Jakarta Utara, mengenakan celana panjang ganda dan kaos dobel plus jaket. “Saya tak kuat dingin begini,” kata Adi dengan bibir bergetar dan sambil mendekap diri.

Jalan menuju Kelimutu berkelok-kelok dengan panorama sawah terasering yang menawan. Untuk mencapai danau, pengunjung berjalan kaki dari lokasi parkir kira-kira 20 menit. Kicauan burung garugiwa Monarcha sacerdotum seolah menyambut kedatangan pengunjung pagi itu. Kelimutu sohor hingga ke mancanegara sebagai danau triwarna. Air di ketiga danau di puncak gunung itu terdiri atas 3 warna yang berubah-ubah.

Ketiga danau itu adalah Tiwu Ata Polo, Nua Muri Koo Fai, dan Tiwu Ata Mbupu yang bervolume air 1.292.000 m3. Batas ketiga danau berupa pematang sempit yang mudah longsor. Dinding pematang tegak lurus. Itulah sebabnya pematang menjadi daerah terlarang. Pengelola taman nasional memagari sekeliling danau. Di bagian bawah pematang tampak air kekuningan karena kadar belerang tinggi. Warna air ketiga danau itu biasanya berbeda-beda—merah, hijau, dan biru—sehingga disebut danau triwarna.

Ketika Trubus ke Kelimutu pada 31 Agustus 2009, air di Tiwu Ata Polo dan Nua Muri Koo Fai berwarna sama: hijau muda; Tiwu Ata Mbupu, merah kecokelatan. Warna air ketiga danau itu memang berubah-ubah (baca: Air Berubah Kelir halaman 82—84). Air Tiwu Ata Mbupu kemudian juga berubah menjadi hijau muda pada 15 Oktober 2009. Kejadian itu—ketiga danau berwarna sama—sangat jarang. Sebelum ini kesamaan warna hijau muda terjadi pada 13 tahun lampau.

Ketiga danau itu sebetulnya merupakan kawah gunung yang kemudian terisi air. Ir Afiat Anugrahadi MS, ketua Jurusan Geologi Universitas Trisakti, mengatakan, “Kawah itu terjadi karena letusan gunung berapi.” Magma yang bersuhu hingga 3.000oC pun keluar dari perut bumi. Kelimutu 11 kali meletus antara lain pada 1860. Cekungan di puncak gunung itulah yang terisi air dan menjadi danau. Hingga sekarang Gunung Kelimutu merupakan gunung berapi yang masih aktif.

Dalam bahasa setempat keli berarti gunung dan mutu adalah arwah. Masyarakat Kelimutu percaya bahwa ketiga danau itu merupakan tempat bersemayamnya para arwah leluhur. Tiwu Ata Polo merupakan lokasi arwah orang jahat; Nua Muri Koo Fai, tempat arwah muda-mudi; dan Tiwu Ata Mbupu, arwah para orangtua yang bijaksana. MaE alias jiwa orang yang meninggal akan menghampiri Ratu Konde, penjaga Kelimutu.

Jiwa itu akan masuk ke danau tertentu tergantung perbuatan ketika hidup. Arwah itu tak dibiarkan begitu saja. Mosalaki pu’u alias para tetua adat menyelenggarakan ritual pati ka ata mata atau memberi makan kepada arwah-arwah itu. Di altar persembahan Perekonde, tetua adat menghidangkan nasi, daging kurban berupa babi, sirih, pinang, dan kapur untuk mereka.

Objek wisata yang dikunjungi 16.495 orang pada 2008 itu menjadi taman nasional pada 1997. Taman nasional itu terbagi atas beberapa area seperti zona inti, rimba, pemanfaatan, dan rehabilitasi. Zona inti seluas 350,50 ha didominasi oleh arongani Vaccinium varingiaefolium, cemara gunung Casuarina junghuniana, dan turuwara Rhododendron renschianum. Satwa dominan di sana adalah burung perkici, babi hutan, dan ayam hutan.

Taman Nasional Kelimutu dan LIPI menginventarisasi flora di sana. Hasilnya adalah 78 jenis pohon dalam 36 suku. Tiga suku dengan spesies terbanyak adalah Euphorbiaceae terdiri atas 10 spesies, Lauraceae (7), dan Fabaceae (6). Oleh Gatot spesies-spesies itu dikumpulkan dalam sebuah arboretum alias kebun raya berukuran mini seluas 4,5 ha. (Sardi Duryatmo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img