Sunday, July 14, 2024

Etalase Inovasi Agribisnis

Rekomendasi
- Advertisement -

Beragam olahan baru berbahan buah segar.

Buah naga dapat diolah menjadi berbagai macam makanan.
Buah naga dapat diolah menjadi berbagai macam makanan.

Olahan buah naga menjadi jus atau sirop sudah biasa. Produsen di Kalimantan Timur mengolah buah kerabat kaktus itu menjadi stik, selai, dan dodol. Beragam penganan unik itu hadir saat ekshibisi pertanian Agrinex di Jakarta Convention Center pada 1—3 April 2016. Produsen itu mengolah buah naga karena produksi di sentra Kabupaten Tenggarong, Kalimantan Timur, melimpah.

Padahal, buah naga berdaging merah Hylocereus polyrhizus berdaya simpan terbatas, yakni hanya 7 hari pascapanen. Buah berkadar air tinggi itu bersifat mudah rusak alias sperishable. Itulah sebabnya produsen memerlukan terobosan agar komoditas hortikultura itu tetap bernilai ekonomis tinggi sehingga petani tetap dapat meraih laba. Teknologi pengolahan pascapanen salah satu terobosan itu.

Inovasi
Menurut periset di Balai Besar Pascapanen Pertanian, Dr Ir Evi Savitri Iriani MSi, maraknya produk olahan pascapanen karena dalam sentra buah banyak komoditas yang tidak seragam, mudah rusak, dan volume yang besar. Padahal buah yang laku di pasaran hanya yang memiliki kriteria khusus seperti ukuran, bentuk, warna, dan kesegaran. Buah yang berukuran lebih kecil atau terlalu besar, misalnya, tidak laku di pasar.

Rifda Ammariana menyatakan 80% peserta Agrinex terdiri dari usaha kecil dan menengah.
Rifda Ammariana menyatakan 80% peserta Agrinex terdiri dari usaha kecil dan menengah.

Selain itu kemelimpahan buah menimbulkan masalah baru seperti buah rusak atau busuk dan harga anjlok. Sesuai hukum ekonomi, ketika pasokan melimpah maka harga cenderung turun. Untuk mengatasi hal itu maka petani mengolah buah apkir—yang tidak sesuai dengan spesifikasi permintaan—menjadi produk olahan yang lebih tahan lama. Petani juga mengolah buah-buahan musiman—tersedia pada musim tertentu—untuk penikmat “fanatik” buah itu.

Dengan pengolahan buah memiliki nilai jual yang sama atau lebih tinggi daripada buah dalam bentuk segar. Munculnya produk olahan yang belum lazim atau tidak biasa akan menarik pembeli untuk mencoba. “Produk olahan makanan yang sudah lazim akan banyak pesaingnya,” kata Evi. Produk olahan buah naga bukan satu-satunya yang dipamerkan dalam ekshibisi Agrinex yang kesepuluh.

Beberapa stan lain juga menampilkan produk olahan beragam buah seperti apel Malus sylvestris menjadi minuman siap seduh, salak Salacca zalacca (kue), kolang kaling Arenga pinnata (manisan), bahkan kayuputih Melaleuca leucadendra (permen). Produk itu inovasi baru yang belum lazim beredar di pasaran. Para produsen berkreasi untuk meningkatkan nilai jual produk hortikultura kemudian memperkenalkan kepada konsumen.
Salah satu sarana memperkenalkan produk kepada konsumen melalui pameran. Penggagas Agrinex Expo, Rifda Ammariana, mengatakan bahwa para pengusaha kecil dan menengah (UKM) kurang beriklan. Iklan hal penting bagi pemasaran produk. Dengan promosi konsumen mengetahui kelebihan dan kekurangan sebuah produk. Menurut Rifda promosi saja masih belum cukup.

Akses pasar

Talkshow urban farming yang diselenggarakan Majalah Trubus.
Talkshow urban farming yang diselenggarakan Majalah Trubus.

Salah satu permasalahan pada usaha kecil adalah kesulitan menembus pasar karena kalah bersaing dengan industri besar yang mempunyai modal dan kekuatan promosi yang kuat. Padahal, bukan tidak mungkin produk usaha kecil mempunyai kualitas yang menyamai, bahkan lebih bagus bila dibanding dengan produsen besar. Selain itu pengusaha kecil dan menengah tetap memerlukan citra merek.

Citra merek merupakan perwakilan dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman terhadap merek itu. “Kami mendorong peserta pameran untuk tampil sebagus mungkin dalam Agrinex Expo,” kara Rifda. Agrinex Expo terselenggara karena keresahan Rifda atas banyaknya keluhan pelaku usaha kecil yang kesulitan memasarkan produknya.

Rifda kemudian menggagas sebuah acara yang dapat menjembatani para pelaku usah kecil dengan pasar. Acara yang berkonsep pameran itu menonjolkan pencapaian dunia agribisnis di Indonesia. Kegiatan itu diharapkan menjembatani komunikasi antarpeserta atau pengunjung, transfer ilmu, yang bersifat membangun demi peningkatan kualitas produk yang dipasarkan. Selain itu peserta bisa mendapatkan akses pasar yang lebih luas.

Beragam produk buah dan sayuran yang dipamerkan di Agrinex Expo  2016
Beragam produk buah dan sayuran yang dipamerkan di Agrinex Expo 2016

Sejatinya Agrinex bukan hal baru, bermula pada tahun 2005, Rifda ingin mengadakan gelaran yang dapat menyatukan akademisi, pebisnis, pemerintah, dan komunitas. Itulah sebabnya Rifda menggandeng Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor, Asep Saefuddin, menggagas Agrinex Expo pada Maret 2007. Pada 2016, perhelatan rutin tahunan itu sudah digelar untuk yang ke-10 kalinya.

Acara berlangsung pada 1—3 April 2016 di Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat mengusung tema “Agribisnis yang berkeadilan, berdaulat pangan, juga berkelanjutan.” Dengan tema itu diharapkan pemerintah dapat menempatkan usaha kecil dan menengah sejajar dengan pengusaha besar, sehingga para pengusaha menjadi tuan rumah di negara sendiri.

Beragam produk olahan buah naga menjadi daya tarik bagi pengunjung pameran Agrinex 2016.
Beragam produk olahan buah naga menjadi daya tarik bagi pengunjung pameran Agrinex 2016.

Dengan begitu produksi dapat berkelanjutan karena adanya permintaan dari pasar atas produk mereka. Beragam usaha kecil dan menegah sektor agribisnis, perusahaan berbasis agribisnis, lembaga penelitian, kementerian, lembaga pemerintahan, dan Badan Usaha Milik Negara meramaikan perhelatan itu. (Muhammad Awaluddin)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tiga Bahan Alami untuk Ternak Ayam

Trubus.id—Lazimnya kunyit sebagai bumbu masakan. Namun, Curcuma domestica itu juga dapat menjadi bahan untuk menambah nafsu makan ayam....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img