Saturday, January 17, 2026

72 Inovasi Pertanian

Rekomendasi
- Advertisement -

Beragam inovasi untuk memecahkan masalah di bidang pertanian.

Trubus — Meski mendekati usia separuh abad, Suparyono masih rutin memanjat pohon kelapa. Petani di Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, itu bukan hanya sekali dua kali memanjat pohon kelapa yang menjulang. Pria kelahiran 14 Juli 1969 itu memiliki 35 pohon yang menjadi sumber nira—bahan baku gula. Ia dua kali memanjat yakni pada pagi dan sore untuk setiap pohon kelapa.

Artinya Suparyono 70 kali memanjat untuk mengambil nira setiap hari. Sebetulnya ia memungkinkan memperoleh nira tanpa harus memanjat pohon kelapa jika mengadopsi peranti Alya. Itu kreasi Mas Fariz Fadlilah Mufid, mahasiswa Program Studi Elektronika dan Instrumentasi Universitas Gadjah Mada.

Orientasi agribisnis
Pekerjaan penderes rentan jatuh dari ketinggian pohon kelapa Cocos nucifera. Fariz dan rekan—Asriawan Pasca Ramadhan, Kharisma Husna Wirasti, dan Vita Nurul Faizah—berupaya mengurangi risiko itu dengan membuat Alya. Petani yang menggunakan Alya tak perlu memanjat pohon kelapa untuk memperoleh nira. Sebab, Alya mampu memotong manggar secara otomatis tanpa mengharuskan penderes naik ke atas pohon.

Penderes cukup bekerja di bawah dengan menekan tombol tertentu. Alat pintar itu dapat memotong manggar dengan gerinda dan menampung nira. Jika penampung penuh, Alya “memberitahu” kepada penderes, dengan bunyi tertentu dan nyala lampu. Inovasi pertanian itu sangat membantu para penderes dan memecahkan persoalan. Inovasi lazimnya merupakan penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya.

Hal baru itu itu berkaitan dengan gagasan, metode, atau alat. Pengertian baru tidaklah semata-mata dalam ukuran waktu sejak ditemukannya atau inovasi itu pertama kali digunakan. Jika suatu hal dipandang baru bagi seseorang maka hal itu merupakan inovasi. Menurut dosen Agribisnis Universitas Padjadajaran, Dr. Iwan Setiawan, S.P., M.Si, teknologi atau inovasi dapat mmempermudah proses dalam budidaya pertanian, peternakan, perikanan, sampai pascapanen.

Iwan menuturkan, teknologi yang berorientasi agribisnis mampu meningkatkan efisiensi dan cost effectiveness produksi melalui teknologi inovatif, serta menekan biaya produksi dan meningkatkan kualitas produk. Selain itu inovasi yang beriorientasi agribisnis juga menghasilkan produk primer berkualitas tinggi dengan standar harga pasar yang baik. Ciri lainnya menurut Iwan adalah mengurangi kehilangan hasil pada saat prapanen dan pascapanen.

Inovasi juga berpeluang mempertahankan produktivitas dan kualitas produksi, serta pasokan produk ke pasar secara berkesinambungan, dan mampu memperbaiki kualitas kemasan untuk transportasi. “Masalahnya pada umumnya teknologi juga memiliki ekses. Itu yang harus diperhatikan untuk ditekan seminim mungkin,” kata Iwan. Tujuannya agar petani dapat mengadopsi inovasi itu.

Kemandirian pangan
Bertepatan dengan ulang tahun ke-72 Republik Indonesia, Trubus menghadirkan topik khusus inovasi. Sebuah artikel terdiri atas beberapa inovasi. Sekadar contoh, pada artikel berjudul Asap Cair Manjur Atasi Aeromonas terdiri atas inovasi, yakni teknologi bioflok, inovasi membuat asap cair, dan teknologi mengatasi aeromonas dengan asap cair. Peternak yang mengadopsi inovasi bioflok, misalnya, mampu menebar 15.000 ekor bibit di kolam berdiameter 2,5 meter dan tinggi 1,2 meter.

Penggunaan asap cair jelas ramah lingkungan. Menurut Iwan Setiawan kini kriteria agribisnis juga ditambah dengan ramah lingkungan. Disesuaikan dengan kampanye go green yang marak di negara-negara importir. Penerapan inovasi juga mengarah pada kemandirian pangan sebagaimana dicanangkan Presiden Joko Widodo yang merumuskan 9 agenda prioritas pokok yang disebut nawacita sebagai acuan jalannya pemerintahan.

Salah satu butir dari nawacita adalah mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis domestik. Pemerintah mewujudkan kedaulatan pangan untuk mendukung butir ke-7 dari nawacita itu. Penggunaan mesin mesin pertanian itu mempermudah budidaya pertanian, mengurangi biaya produksi, menjadi solusi kurangnya tenaga kerja dan produksi meningkat. (Sardi Duryatmo/Peliput: Muhammad Hernawan Nugroho)

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img