Trubus.id — Stevia, komoditas substitusi gula yang berasal dari wilayah subtropis Amerika Selatan. Meski begitu, stevia cocok dikembangkan di wilayah tropis seperti Indonesia. Budidayanya juga terbilang mudah. Berikut ini cara budidaya stevia.
Stevia menghendaki ketinggian minimal 1.000 m dpl. Stevia paling cocok ditanam pada jenis tanah latosol. Ketebalan lapisan top soil minimal 20 cm dengan pH 6,0–7,0. Adapun lokasi beriklim basah dengan curah hujan merata 1.500–1.800 mm/tahun dan suhu 24–35°C.
Olah lahan dengan dibajak atau dicangkul dan digemburkan agar perakaran leluasa tumbuh. Buat bedengan-bedengan setinggi 20–30 cm dan lebar 100–120 cm. Jarak antarbedeng 50–70 cm. Panjang bedengan 5 meter atau lebih, bergantung pada kondisi lahan.
Tanam pada lahan yang relatif datar atau pada kemiringan 3–5 derajat. Pada lahan berkontur miring, sebaiknya dibuat teras. Banyak klon stevia yang bisa jadi pilihan. Namun, pilih klon yang sesuai dengan keinginan pasar.
Stevia diperbanyak dari biji, anakan tanaman, setek, dan kultur jaringan. Namun, teknik perbanyakan dengan setek lebih banyak dipakai karena lebih praktis dan gampang dilakukan. Perbanyakan dengan setek dilakukan dengan mengambil pucuk-pucuk tanaman, lengkap dengan 3–4 pasang daun.
Untuk mempertinggi tingkat keberhasilan, sebelum ditanam, celupkan bagian pangkal bahan setek ke dalam zat perangsang tumbuh seperti Rootone-F dan fungisida. Setek ditanam di bedengan dengan jarak tanam 5 cm × 5 cm.
Media tanam berupa campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Tutup bedengan dengan sungkup plastik. Sungkup dibuka 2 minggu kemudian. Selama sungkup dibuka, bibit disiram setiap hari sampai siap pindah ke lapang 1–2 minggu kemudian.
Penanaman di bedengan dengan jarak tanam 25 cm × 25 cm atau 30 cm × 30 cm. Dengan begitu, terdapat 4–5 baris tanaman per bedeng. Pada 1–2 minggu sebelum ditanami, berikan pupuk kandang 250 gram per lubang tanam. Pemberian pupuk kandang dilakukan setiap 6 bulan.
Setiap lubang ditanami 1 setek. Seminggu setelah tanam, pupuk dengan 1 gram urea, 1 gram TSP, dan 1 gram KCl per tanaman. Pemupukan NPK diulangi setiap daun stevia baru dipanen. Untuk mempertahankan kelembapan tanah, bedeng ditutup mulsa plastik atau jerami.
Pupuk ditebar di sekeliling tanaman atau dibuat lubang di kiri dan kanan tanaman pada jarak 7–10 cm. Setelah dipupuk, pangkal batang ditimbun tanah.
Setelah tanaman berumur 2 minggu, lakukan pemangkasan pada setiap pucuk tanaman. Tujuannya, memperbanyak percabangan agar produksi daun banyak.
Selain pemangkasan pucuk, lingkungan akar tanaman juga dibersihkan dari rumput dan gulma. Hal ini penting karena stevia tidak dapat bersaing dengan gulma. Pada kondisi lingkungan penuh gulma, tanaman hanya mencapai tinggi 60 cm dengan percabangan terbatas sehingga produksi daun sedikit. Pada lingkungan bebas gulma, tanaman dapat mencapai tinggi di atas 90 cm. Dengan begitu, produksi daun pun mencapai maksimal.
Untuk menjamin pertumbuhan dan produksi optimal, tanaman perlu disiram rutin. Tujuannya, agar tanaman subur dan memunculkan daun-daun rimbun. Frekuensi penyiraman 2–3 hari sekali.
Daun stevia dapat dipanen setelah berumur 40–60 hari setelah tanam. Pemanenan berikutnya dapat dilakukan setiap 30–60 hari sekali.
