Trubus.id — Tahap pemanenan yang tepat memiliki peran penting dalam budidaya jamur shiitake. Tentu, tidak lain adalah untuk mendapatkan hasil panen jamur bermutu tinggi. Setiap tahap pemanenan harus diperhatikan sejak dari pemetikan, pewadahan sementara, hingga penyimpanan.
Pemetikan adalah kegiatan mengambil jamur siap panen dari media tumbuh seperti baglog dengan pisau kecil, cutter, atau gunting khusus. Peralatan tersebut diperlukan lantaran batang shiitake sangat liat.
Batang yang tak tercabut seluruhnya bisa membusuk, bahkan terkontaminasi cendawan Trichoderma sp atau Neurospora sp. Warna khas kontaminasi cendawan hilang bila disemprot air.
Namun, sebetulnya pembusukan pada media tengah berlangsung dan menyebar ke seluruh baglog. Jika sisa panen tertinggal di ujung permukaan atas, pada periode berikutnya jamur gagal tumbuh.
Antarbaglog pun harus berjarak agar jamur yang tumbuh di samping tidak terjepit media tanam. Pada fase kancing, sebaiknya plastik baglog ditoreh agar jamur leluasa tumbuh. Bila Anda saat panen menemukan hal-hal tersebut, segera ambil tindakan.
Begitu pentingnya pemanenan sehingga pemanen pemula mesti belajar 3 bulan untuk memahami dan menyeleksi jamur siap petik. Memang terdapat standar jamur siap petik, tetapi tidak berlaku mutlak. Standar berubah sesuai kehendak pembeli (buyer).
Ukuran kadang-kadang tidak menentukan seleksi jamur. Artinya, jamur berukuran besar belum tentu siap panen, begitu juga sebaliknya.
Yang biasa dicermati pekebun bila memanen shiitake adalah mengamati batang sentris di bawah tudung. Bentuknya mirip payung yang tengah mengembang. Di permukaan bawah tudung terdapat lamela atau gill seperti jaring-jaring putih memanjang antara tudung dan batang. Ketika benang-benang itu putus menyerupai rekahan, lakukan pemanenan. Panen saat gill melebar atau membuka ke samping kurang diminati konsumen sehingga harga jual rendah.
Panen harus cepat, pemilihan tepat, cermat dalam pemotongan, dan letakkan hati-hati. Hindari pula panen jamur terlalu dini karena belum tumbuh optimal dan kualitas pun tidak maksimal. Padahal, ukuran berpengaruh terhadap harga jual. Ada pula yang menggolongkan jamur siap panen menjadi 3 golongan, yakni L berdiameter 6, 25cm, M (3,75–6,25cm), dan S (<3,75cm). Perbandingan ideal diameter tudung dan batang jamur adalah 2:3.
Selain itu, penanganan sembrono, misalnya melemparkan ke keranjang yang letaknya jauh malah menjadikan jamur hancur. Oleh karena itu, upayakan agar keranjang selalu dekat dari pemetik. Lapisi permukaannya dengan spons atau kertas untuk menghindari kerusakan.
Pewadahan sementara
Keranjang wadah jamur dalam pemetikan berbahan plastik. Wadah itu berlubang sebagai aerasi udara dan membuang air—bila ada tetesan. Selain tahan lama, harganya pun murah. Keranjang juga harus mudah dibawa. Pada farm rak satu tingkat, manfaatkanlah keranjang belanja bergagang.
Sambil memetik jamur, keranjang mudah ditenteng. Kriteria mudah dibawa, keranjang gampang diangkat oleh 1 orang melalui gang antarrak. Atau, bila diletakkan, isi keranjang tak gampang tumpah, walau ditumpuk.
Pilih keranjang bermuatan sedikit agar jamur tak begitu menumpuk. Tinggi tumpukan 4 cm sudah cukup. Lebih baik lagi tersedia ruang kosong 4–4,5 cm untuk aerasi udara. Bila ditumpuk, usahakan jamur tak tertindih dan bersentuhan dengan keranjang di atasnya.
Pengiriman ke gudang
Segeralah kirim jamur ke gudang usai pemetikan untuk mencegah kerusakan. Sehari bisa 4 kali panen—bergantung pada strain yang ditanam—pada pagi bahkan malam. Jamur yang terlalu lama menumpuk menyebabkan basah, bau, cepat mekar, dan rusak.
Dalam skala industri sekali pun, jangan biarkan panenan menumpuk. Sebaiknya, kirim secara bertahap ke gudang pengemasan. Cara itu memang merepotkan, tetapi mampu menyelamatkan mutu. Lindungi jamur dari panas dan hujan selama pengangkutan dari kumbung. Jika terkena hujan, jamur lengket, berbau, dan rusak panas—cepat peot karena sebagian jamur terdiri atas air.
Pelindung jamur selama pengangkutan berupa terpal double cover kedap air di permukaan atas dan kain di bagian bawah. Terpal juga melindungi dari serangga seperti mytes dan lalat yang tertarik aroma sayuran itu.
Setelah disortir, jamur disimpan dalam ruang berpendingin. Ruang penyimpanan dan sortasi harus berpendingin guna menjaga mutu dan mempermudah pengontrolan. Temperatur kurang dari 20°C sehingga jamur tetap segar selama penyortiran. Penyortir harus bekerja cepat misalnya mengepak, akurat dalam menimbang, serta cermat dan hati-hati dalam sortasi. Kebersihan tempat, alat, dan pekerja pun suatu keharusan.
