Trubus.id— Penggunaan pupuk kima dan pestisida berlebih menjadi salah satu faktor penyebab penurunan kualitas lingkungan. Oleh karena itu, demi mempertahankan produktivitas pertanian harus ada tindakan adaptasi dan mitigasi.
Dosen dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Chusnul Arif., mengatakan penanaman padi secara konvensional menghasilkan emisi yang cukup tinggi yang ditandai dengan meningkatnya suhu.
Budi daya padi dengan metode System of Rice Intensification (SRI) menjadi salah satu solusi untuk menurunkan emisi tanpa mengurangi produktivitas padi yaitu dengan menggunakan metode SRI.
“Kelebihan dari metode ini adalah penggunaan benih lebih sedikit dan dapat meningkatkan jumlah produksi sebesar 78 persen. Penghematan air juga bisa sampai 40 persen dan karena kondisinya lebih kering, sehingga gas metan atau emisinya dapat dikurangi,” kata Chusnul, dilansir dari laman resmi IPB University.
Chusnul menyebut ada enam prinsip dalam penerapan metode SRI. Pertama, benihnya muda sehingga hanya membutuhkan 7—14 hari dan dapat memotong waktu semai. Kedua, padi ditanam dengan jarak agak lebar untuk memberi ruang tanaman dan anakan untuk tumbuh.
Ketiga, satu lubang ditanami satu tanaman. Keempat, sistem irigasi lebih efektif dengan metode intermiten atau berselang. Kelima, penyiangan intensif untuk mengurangi gulma sekaligus meningkatkan aerasi tanaman.
Keenam, menggunakan pupuk organik dan mikroorganisme lokal (MOL) untuk menghasilkan produk lebih sehat. “Dalam penerapan metode SRI ini butuh tenaga kerja yang lebih banyak karena harus sering melakukan penyiangan,” ujarnya.
