Monday, May 4, 2026

Ratu Rempah Minim Pasokan

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Kapulaga memang sohor sebagai sumber aroma harum pelbagai masakan dan minuman sejak zaman Mesir kuno. Banyak makanan dunia seperti kari dari India dan nasi biryani dari Timur Tengah menggunakan kapulaga sebagai salah satu bumbu. Kandungan asiri borneol, alfa-terpinilasetat, limonene, dan alfa terpinen harum mirip jeruk serta cineol yang pedas seperti minyak kayuputih menyedapkan masakan.

Anggota famili Zingiberaceae itu bukan hanya berkah bagi penikmatnya, tetapi juga bagi pekebun seperti H Emed.  Pekebun di Desa Bojong, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, itu mengebunkan 10.000 tanaman kapulaga di lahan 4 ha. Jarak tanam 2 m x 2 m. Jarak tanam longgar lantaran Emed menumpangsarikan kapulaga dengan kakao. (baca: Kapulaga: Naungan Sepanjang Hayat, halaman 126).

Naik

Setahun pascatanam Emed memanen perdana dengan hasil 2 ton biji kering dari lahan 4 ha. Produksi itu terbilang rendah akibat perawatan minim. Emed lebih berkonsentrasi pada budidaya kakao. Panen raya kapulaga biasanya pada Agustus – Desember. Saat itu pada 2006, harga kapulaga di tingkat pekebun Rp37.000/kg sehingga omzet Emed Rp74-juta. Menurut Emed biaya produksi hanya Rp5-juta/ha setahun. Tahun berikutnya ia kembali menuai 2 ton kering. Harga jual meningkat menjadi Rp40.000 per kg. Pada 2007 harga jual menembus Rp45.000 yang bertahan hingga sekarang.

Nun di Desa Sindangsari, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Yayat menuai rata-rata 500 kg kering. Pekebun itu mengelola lahan 1 hektar berpopulasi 2.500 tanaman. ‘Menanam kapulaga enak karena masih bisa tumpangsari,’ ungkap pria 45 tahun itu. Dua tahun belakangan pekebun memang tengah menikmati laba kapulaga. Itu akibat tingginya harga jual. Sementara biaya produksi rata-rata Rp5.000 per kg.

Menurut Edra Novid, harga melonjak lantaran luas penanaman kapulaga menyusut. Data Departemen Pertanian menyebutkan luas panen kapulaga pada 2007 hanya 3,1-juta ha. Bandingkan dengan luas panen tahun sebelumnya yang mencapai 8,5-juta ha. Ketika luas panen anjlok, permintaan kapulaga justru membubung. Pengepul di Solok, Sumatera Barat, itu menjual rata-rata 3 – 5 ton kapulaga per bulan dari permintaan 10 ton.

Namun, kini permintaan beberapa eksportir melonjak hingga total 20 ton sebulan. Permintaan tahun sebelumnya yang hanya 10 ton belum ia penuhi, apalagi sekarang. Novid membeli kapulaga hasil produksi pekebun Rp43.000 – Rp44.000/kg. Syaratnya kadar air maksimal 16% dan berwarna cokelat muda mengkilap.

Tingginya permintaan juga dirasakan oleh Hianto Tahlan dari CV Sumberalam di Ciamis, Jawa Barat. Dari puluhan ton permintaan, ia hanya sanggup mengumpulkan 600 – 1.000 kg per hari di luar panen raya. Ketika panen raya pada Juni – Agustus, serapan melonjak menjadi 3 ton per hari. Toh itu semua belum mampu memenuhi permintaan yang masuk kepadanya. Pokoknya, ‘Ada barang saya langsung bayar kontan,’ ujar Hianto yang memasok beberapa eksportir.

Aral

Berbisnis Amomum cardamomum itu bukan tanpa aral. Banyak pengepul seperti Handoko Wiryono, terpaksa berhenti berniaga lantaran kesulitan memperoleh kapulaga. Pengepul di Bandung, Jawa Barat, itu sudah 2 tahun absen memasok kapulaga kepada eksportir di Surabaya. Padahal permintaan yang masuk tak terbatas. ‘Pasokan dari pekebun di Sukabumi dan Bogor tak stabil,’ kata Handoko.

Karena pasokan langka, pekebun kerap kali terburu-buru menjual kapulaga meski kadar air masih tinggi, di atas 20%. Dampaknya pengepul harus menjemur ulang dan bobot pun menyusut hingga 5%.

Begitulah pengalaman Hianto ketika membeli 150 kg kapulaga. Di bagian hulu, beragam kendala menghadang. Kapulaga di lahan Yayat pernah terserang penggerek batang pada Desember 2008. Dampaknya produksi anjlok hingga 150 kg. Dengan harga Rp40.000/kg, potensi kerugian mencapai Rp6-juta. Penggerek rimpang, ulat pemakan daun, dan penyakit mozaik beberapa organisme pengganggu kapulaga. Bila beragam hambatan teratasi, kerabat jahe menjanjikan laba. Kebutuhan pasar domestik mencapai 3.000 ton per tahun. Industri jamu memerlukan kapulaga untuk beragam ramuan. Sidik Raharjo dari PT Merapi Farma, produsen di Yogyakarta, menuturkan kapol berkhasiat menambah aroma pada jamu kolesterol, asam urat, dan jantung. ‘Kebutuhan kami sekitar 200 kg per bulan,’ kata Sidik. Pasokan sebesar itu diperoleh dari pengepul di Magelang dan Banjarnegara, Jawa Tengah.

Pantas bila pekebun mulai bergairah kembali menanam kapulaga. Menurut Drs Kosim, kepala desa Desa Sedayu, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, warganya banyak yang membudidayakan kapulaga. Di lahan Perhutani seluas 25 ha kini dikembangkan komoditas berjuluk ratu rempah itu. Setahun ke depan, mereka bakal menuai hasilnya. Menurut Hianto harga bagus kapulaga bakal bertahan hingga 2 – 3 tahun mendatang. (Faiz Yajri)

 

Kapulaga tak hanya aromatik tapi juga fitofarmaka

Kapulaga panen raya Agustus – Desember, panen kecil Januari – Juli

perkebunan

Trubus 479 – Oktober 2009/XL 125

Produksi & Produktivitas Ratu Rempah

Tahun Luas Panen (m2) Produksi (kg) Produktivitas (kg/m2)

2000 3.504.163 2.490.325 0,71

2001 3.268.544 1.928.771 0,59

2002 4.855.309 3.538.536 0,73

2003 5.086.436 3.563.118 0,70

2004 4.574.425 4.218.038 0,92

2005 3.813.373 7.179.325 1,52

2006 8.571.860 13.144.127 1,32

2007 3.107.315 14.526.505 1,52

Sumber: Statistika Pertanian Departemen Pertanian

 

Emed tuai berkah kapulaga

Ratu rempah harganya Rp45.000/kg

Foto-foto: Kiki Rizkika & Faiz Yajri

Perkebunan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


Artikel Terbaru

Cara Memilih Jeruk Manis di Pasar: Ciri Fisik, Aroma, dan Mutu

Menurut Said dan rekan dalam artikel Physicochemical Quality Indicators of Citrus Fruits, mutu jeruk manis ditentukan oleh kombinasi karakter...

More Articles Like This