Trubus.id— Biaya pakan menyedot 70% dari total biaya produksi ayam kampung. Fakta itu memicu peternak melakoni beragam cara menyiasatinya. Dengan pakan buatan sendiri biaya pakan menjadi hanya 52% dari biaya produksi.
Kuncinya pilih pakan berkomposisi nutrisi lengkap agar kualitas ayam tak menjadi korban. Menurut ahli nutrisi unggas dari Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang, Dr. Ir. Hanny Indrat Wahyuni M.Sc., meramu pakan sendiri memang solusi kala harga pakan yang kian meroket.
Yang penting kebutuhan protein terpenuhi. “Kebutuhan protein ayam kampung 15—19%,” ungkap Hanny. Protein berperan dalam proses pembentukan dan pertumbuhan jaringan tubuh seperti kulit, daging, otot. Protein juga membantu proses pembentukan enzim. Kekurangan protein dapat menurunkan pertumbuhan ayam.
Cara unik ditempuh Aswan Siregar di Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, yang memanfaatkan sisa limbah restoran. Mafhum saja Purwakarta sebagai lintasan jalur utara nasional ramai dijejali restoran.
Sisa limbah restoran berupa nasi, serta sisa lauk berupa tulang dijemur di bawah sinar matahari selama 2 hari. Atau gunakan oven hingga kadar airnya 10%. Limbah itu dicampur bungkil kelapa, dan ikan rucah dengan perbandingan 4:3:1, lalu diberi 3—4 liter air.
Berikutnya semua bahan direbus hingga mendidih dan ditambah 5 kg dedak. Adonan didinginkan sebelum diberikan pada ayam. Sebagai tambahan Iwan memberikan 1—2 lembar daun pepaya yang dicacah, gunanya untuk meningkatkan daya tahan tubuh ayam.
Dengan campuran itu bobot ayam 600—900 g diperoleh pada umur 2,5—3 bulan. “Pemanfaatan sisa limbah restoran sebagai wujud kemandirian pakan,” ungkap Iwan. Sukses Iwan itu tak mengagetkan.
Riset Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian RI, menunjukkan limbah restoran mengandung 10,89% protein. Kandungan lain 0,08% fosfor, 0,39% serat kasar, serta 9,13% lemak. Total energi mencapai 1.780 kkal/ kg. Kadar protein didongkrak dengan penambahan bungkil kedelai (79,43%). Tertarik meramu pakan sendiri?***
