Trubus.id—Kratom Mitragyna speciosa tanaman kerabat jabon Anthocephalus cadamba. Masyarakat menanam jabon untuk diambil kayunya. Batangnya pun mirip dan sama-sama mampu tumbuh di lahan kritis. Namun pohon kratom lebih umum dimanfaatkan daunnya.
Dalam Tumbuhan Berguna Indonesia jilid 3, botanis berkebangsaan Belanda K Heyne menyatakan kratom itu ditanam di Semenanjung Malaya untuk dimanfaatkan daunnya. Sementara penduduk Kalimantan memanfaatkan kayunya untuk membuat peti.
Etnis Dayak di Kalimantan Barat turuntemurun memanfaatkan daun puri—nama lain kratom—untuk berbagai keperluan. Sejatinya nama kratom berasal dari bahasa Thailand. Di Kalimantan, orang menyebutnya daun puri atau purik.
Ada 3 varian daun kratom. Paling banyak adalah jenis red vein, yang dicirikan oleh warna merah di tulang dekat tangkai daun yang menempel ke ranting. Itulah varian daun puri yang paling banyak tumbuh dan dijumpai.
Jenis lain, green vein, berciri tulang daun hijau. Sementara white vein, yang paling langka dijumpai, memiliki tulang daun hijau pucat keputihan.
Daun kratom santer terdengar baru-baru ini. Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas mengenai potensi budidaya kratom di Indonesia bersama sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 20 Juni 2024.
Rapat tersebut membahas potensi budidaya kratom di Indonesia. Hal itu sebagai langkah untuk meningkatkan nilai ekonomis dan kualitas produksi tanaman yang tengah mengalami penurunan harga yang cukup drastis tersebut.
Mengutip pada siaran pers rapat itu juga membahas tentang prospek ekspor kratom. Pasalnya harga pasar kratom tengah menurun menjadi US$2—5. Sebelumnya mencapai US$30.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, dalam keterangannya setelah rapat, menyampaikan, pemerintah akan segera mengatur regulasi terkait budidaya kratom di tanah air. Hal itu bertujuan mendongkrak nilai ekonomi dan kualitas dari tanaman kratom .
“Saran kami nanti mungkin kalau ini regulasinya sudah diatur mungkin kita budidayakan ke depan supaya nilai ekonomisnya, kualitasnya, dan seterusnya bisa meningkat karena harga sekarang ini turun drastis karena banyak faktor seperti kualitasnya, distribusinya, dan seterusnya,” ujar Mentan.
Lebih lanjut Mentan Amran menyampaikan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan untuk mengatur kratom di bawah naungan Kementerian Pertanian dengan membentuk korporasi.
Harapannya kualitas dan kontinuitas produksi kratom terpenuhi sebagai syarat utama untuk meningkatkan ekspor dan kesejahteraan petani.
“Kalau ada koperasi yang mengelola ini kita korporasikan sehingga kualitasnya terjamin, kuantitasnya terjamin, karena itu syarat untuk ekspor. Kalau kualitasnya terjamin, pasti otomatis meningkatkan kesejahteraan petani kita,” ujar Mentan.
Ia menyampaikan aturan teknis terkait budidaya kratom diharapkan dapat segera ditetapkan untuk memfasilitasi proses budidaya yang lebih terstruktur dan produktif. Mentan Amran optimistis dengan harga yang menguntungkan, budidaya kratom menjdi pilihan yang menjanjikan bagi petani di Indonesia.
“Kita tunggu, nanti begitu regulasinya sudah ada, budidayanya insyaAllah mudah, kenapa? Karena harganya baik, harganya bagus, pernah mencapai 30 dolar,” tutur Mentan.
Rapat terbatas itu menegaskan komitmen pemerintah dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam Indonesia melalui pengelolaan yang terencana dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi nasional.
