Trubus.id—Buah naga kuning jumbo masih termasuk kategori buah eksklusif. Menurut pekebun buah naga kuning jumbo di Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Abdurahman Halim hadirnya buah naga kuning bisa menjadi alternatif pekebun buah naga.
Ia menuturkan pasalnya, kian banyak varian memungkinkan suatu komoditas makin langgeng. Menurut Halim, buah naga kuning jumbo masih menyasar pasar kalangan menengah ke atas. Selain itu, pasokan masih terbatas sehingga masih masuk kategori buah eksklusif.
Pasokan dari kebun Halim produksi mencapai 50—100 kg per bulan. Permintaan buah naga kuning datang dari pemasok buah premium di Jakarta dan Surabaya. Andaikan pasokan meningkat 10 kali lipat pun pasar masih bisa menyerap.
Lantas, berapa keuntungan membudidayakan buah naga? Menurut Halim, tanaman buah naga produktif (umur 2 tahun) menghasilkan 2—3 ton buah naga per hektare (ha).
Hasil panen itu dari populasi 1.500—1.700 tiang per ha. Jika harga jual buah naga Rp10.000 per kg omzet pekebun Rp20 juta—Rp30 juta saban bulan.
Halim menuturkan, “Biaya produksi sekitar Rp4 juta per bulan per ha.” Artinya, laba pekebun buah naga Rp16 juta—Rp26 juta saban bulan. Menurut Halim, hitung-hitungan itu untuk buah naga merah.
Pasalnya, jika menghitung untung dari buah naga kuning jumbo potensinya 5—10 kali lipat lebih tinggi. Calon pekebun minimal merogoh sekitar Rp30 juta untuk modal awal di lahan satu ha. Kemudian menunggu 9—12 bulan hingga tanaman panen perdana.
