Trubus.id—Jeruk lokal menjadi salah satu komoditas pilihan pekebun untuk mendulang rupiah. Jeruk primadona pilihan pekebun itu misalnya siam madu. Jeruk dari Simalungun sohor dengan nama siam madu medan.
Jeruk siam itu mampu beradaptasi dengan iklim dataran tinggi serta tanah vulkanik yang subur. Di kawasan bersuhu udara 17—19°C itu jeruk siam bersalin rupa menyerupai keprok.
Jeruk siam madu yang ditanam di Simalungun memiliki sifat mirip keprok. Buah kuning mencolok dengan rasa manis konsisten. Kulit buah juga cenderung tebal serupa keprok.
Jeruk siam madu menjadi andalan pekebun jeruk di Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatra Utara, seperti Edi Manto. Ia mengelola 3.000 tanaman jeruk siam madu berusia 10 tahun. Setiap tahun ia memanen 200 ton jeruk. Dari hasil panen itu 90% buah terserap pasar.
Sebanyak 10% jeruk setara 20 ton masuk standar mutu pasar modern. Sementara 80% jeruk setara 160 ton dipasok ke pengepul.
Pemasaran buah ke pasar induk di berbagai kota seperti Kota Medan, Provinsi Sumatra Utara, Provinsi DKI Jakarta, dan Surabaya (Provinsi Jawa Timur). Adapun sisa 10% merupakan buah yang tidak diterima pasar karena busuk dan rusak.
Pekebun jeruk di Simalungun, Benhil Jawak, juga tergiur menanam jeruk siam. Ia menanam 2.300 tanaman jeruk di lahan seluas 5 hektare (ha).
Benhil menuturkan sebanyak 1.500 tanaman produktif berumur lebih dari 5 tahun, sisanya tanaman belum menghasilkan. Satu tanaman menghasilkan 60—100 kg jeruk per tahun.
Artinya kapasitas produksi di kebun jeruk milik Benhil itu 90—150 ton per tahun. Pada Agustus 2022, sebanyak 60 ton masuk standar mutu pasar modern. Saat itu harga jual jeruk Rp12.000— Rp14.000 per kg.
Pekebun lain Muhammad Fakhrully Akbar dan Nadya sukses menjual 10 ton jeruk siam pontianak sepanjang 2022. Pekebun di Kecamatan Rakumpit, Kota Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah, itu mendapatkan omzet Rp100 juta saat itu.
Mereka menjual mayoritas jeruk siam pontianak hasil panen di toko milik sendiri, sebagian kecil ke pengepul. Akbar dan Nadya semringah dengan hasil panen itu karena tanaman baru belajar berbuah. Apalagi berjualan jeruk di Palangkaraya tidak mudah.
“Masyarakat telanjur melabeli jeruk siam sebagai jeruk yang masam,” ujar Akbar. Namun, berkat pemilihan varietas jeruk yang tepat, penjualan jeruk pun memuaskan.
Sekitar 80% hasil panen milik Akbar berbobot 80—100 gram per buah yang berharga Rp13.000 per kg. Respons pasar yang luar biasa saat mengikuti beragam pameran, membulatkan tekad Akbar untuk lebih serius merawat tanaman jeruk. Selama ini Akbar merawat jeruk ala kadarnya.
“Jeruk ibarat tabungan jangka panjang,” ujar Akbar.
Data Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mencatat jeruk paling banyak dikonsumsi setelah pisang. Konsumsi jeruk di tanah air sebesar 12,57 gram/kapita/hari, sedangkan pisang 24,71 gram/kapita/ hari.
Statistik Hortikultura, Badan Pusat Statistik, mencatat produksi jeruk di tanah air mencapai 2,68 juta ton, naik 6,81% (171,12 ribu ton). Total produksi itu menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil jeruk terbanyak nomor delapan di dunia.
