Trubus.id—Pehobi krisan di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah, Sunaryo, masygul melihat krisan di halaman rumahnya kerdil. Tanaman enggan berbunga dan tampak layu. Padahal, ia telah meletakkan tanaman klangenannya itu di tempat teduh dan mencukupi kebutuhan nutrisi.
Sunaryo pun rutin menyiram tanaman setiap hari. Ia membenamkan pupuk kandang fermentasi dan pupuk lambat urai di media tanam. Sunaryo menduga lokasi rumah yang berada di dataran rendah yang panas membuat krisan malas berbunga.
Menurut peneliti di Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Suryawati, S. TP., M. Si., dan Dr. Ridho Kurniati, SP., M. Si., pehobi selayaknya memperhatikan jenis krisan dan lokasi penanaman sebelum memutuskan untuk merawat krisan.
Suryawati menuturkan pehobi yang tinggal di dataran rendah sebaiknya menanam krisan yang adaptif dengan suhu lingkungan yang cenderung panas. Sebagai contoh krisan varietas Swarna Kencana dan Maruta. Perlakuan intensif selama budi daya pun wajib diberikan seperti pemasangan paranet dan penyinaran.
Paranet
Suryawati menanam krisan Swarna Kencana dan Maruta di lahan seluas 18 m2. Ia membangun rumah tanam sederhana dan membagi lahan menjadi 2 bedengan. Setiap bedengan berukuran 3 m x 3 m. Populasi tanaman sebanyak 100 bibit per m2.
Peneliti muda itu lantas memasang jaring berbahan nilon setinggi 50 cm di atas bedengan. Jaring nilon berfungsi untuk mengatur jarak tanam supaya tanaman tumbuh lurus ke atas sehingga mempermudah pemanenan. Suryawti menggunakan jarak tanam 10 cm x 10 cm.
Suryawati memasang paranet pada bagian atas rumah tanam. Pemasangan paranet bertujuan untuk mengurangi paparan sinar matahari. Dengan begitu suhu udara menurun. Suhu udara yang sejuk membuat krisan terhindar dari kekeringan.
Suryawati menuturkan keberadaan paranet dalam budi daya krisan menjadi hal wajib. Apalagi jika suhu udara di lokasi penanaman mencapai lebih dari 250C. Kondisi itu kurang ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan krisan.
Paranet juga berfungsi menghalau sinar matahari yang terlalu terik. Suryawati menuturkan intensitas cahaya yang ideal pada krisan sekitar 60—70%. Serupa dengan budi daya krisan di dataran tinggi yang membutuhkan penyinaran pada fase vegetatif, perlakuan yang sama juga diberikan pada krisan di dataran rendah.
Penyinaran bertujuan untuk memperpanjang tangkai saat masa vegetatif. Perbedaannya durasi penyinaran di dataran rendah membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan dataran tinggi. Penyinaran menggunakan lampu Light Emitting Diode (LED) warna putih berdaya 75 watt.
Pemasangan lampu setiap luasan 2 m2. Tinggi lampu 1,5 m dari titik tumbuh tanaman. Penyinaran dimulai sejak hari pertama penanaman hingga tinggi tanaman mencapai 50 cm. Lama penyinaran 5 jam per hari, mulai pukul 22.00 hingga 03.00.
Di dataran rendah pertumbuhan tinggi tanaman membutuhkan waktu yang lebih lama, yakni mencapai 60 hari. Berbeda saat penanaman di dataran tinggi, pada umur 30 hari tinggi tanaman mencapai 50 cm.
Penyiraman tanaman dilakukan setiap hari, mulai hari pertama penanaman hingga tanaman berumur 14 hari. Selanjutnya penyiraman dilakukan 2 hari sekali. Suryawati melakukan penyiraman pada pukul 07.00. Pemupukan intensif pun dilakukan. Ia memberikan pupuk dasar berupa kotoran ayam saat pengolahan lahan.
Dosis yang digunakan 300 ton per hektare. Artinya pada lahan 18 m2 membutuhkan 540 kg. Suryawati juga menaburkan 0,45 kg urea dan 1,8 kg NPK seimbang. Pemberian pupuk lanjutan dilakukan pada saat tanaman berumur 14 hari, 28 hari, 42 hari, dan 56 hari.
Ia kembali menaburkan 0,027 kg urea. Ada juga pupuk berupa kalium nitrat (KNO3) sebanyak 0,108 kg. Tujuannya untuk merangsang pertumbuhan akar. Pada saat tanaman berumur 56 hari Suryawati menambahkan pupuk yang mengandung phospor (SP36) sebanyak 0,054 kg. Tujuannya untuk merangsang pembungaan.
Bunga
Upaya inovasi budi daya yang dilakukan Suryawati terbukti membuahkan hasil. Krisan jenis spray dengan varietas Swarna kencana berbunga kuning merata. Setiap tangkai menghasilkan lebih dari 10 kelopak bunga. Perbedaannya saat tanaman ditanam di dataran tinggi bunga berwarna kuning oranye.
Namun, bunga yang dihasilkan di dataran rendah juga terlihat segar dan indah. Adapun varietas Maruta menghasilkan bunga dengan warna jingga. Saat ditanam di dataran tinggi maruta berwarna merah pekat. Keduanya terbukti adaptif. Hanya saja warna daun di dataran rendah cenderung lebih gelap.

Daun terlihat hijau pekat kehitaman. Menurut Suryawati perbedaan warna tidak terlalu menjadi masalah. Karena permasalahan warna hanya soal selera masing-masing pehobi yang berbeda. Sebenarnya, yang terpenting tanaman tersebut berhasil tumbuh dan berbunga.
Menurut Ridho penanaman krisan di dataran rendah dapat mempermudah proses pemasaran. Selama ini pasokan krisan mengandalkan petani di dataran tinggi. Sementara konsumen krisan banyak yang tinggal di dataran rendah.
Waktu tempuh yang terlalu lama membuat kesegaran krisan menurun. Penanaman krisan di dataran rendah dengan melaksanakan teknik budi daya yang tepat tentu saja memudahkan distribusi barang ke konsumen. (Intan Dwi Novitasari)
