Trubus.id—Serangan bakteri Edwardsiella ictalurid menjadi kendala bagi pembudi daya patin. Perlu penanganan dengan cepat dan tepat. Terlambat penanganan mengakibatkan tingkat kelangsungan hidup atau survival rate (SR) rendah.
“Kalau terserang Edwardsiella ictaluri SR patin rendah yaitu kurang dari 50%,” kata pembudidaya patin pustina asal Desa Sukosari BK9, Kecamatan Belitang, Kabupaten OKU Timur, Provinsi Sumatra Selatan, Dr. H. Purwanto, S.Kom., M.M., CFP.
Ada dua cara ala Purwanto untuk mengatasi kelemahan patin pustina yakni pencegahan dan penanganan. Pencegahan dilakukan saat persiapan kolam sebelum tebar benih.
Lakukan sterilisasi kolam dengan menyedot lumpur. Kemudian berikan hidrogen peroksida (H2O2), yang berperan untuk pengolahan udara, penanggulangan hama dan penyakit ikan, serta sebagai sumber oksigen untuk transportasi benih ikan.
Sebelum tebar benih, endapkan air kolam selama 2 hari. Adapun untuk penanggulangan saat terjadi serangan bakteri E. ictaluri, lakukan pengurangan air kolam sebanyak 70%.
Puasakan ikan sampai tidak ada kematian patin di kolam. Lakukan pengobatan dengan probiotik yang terdaftar di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Menurut Purwanto jika pembudidaya menerapkan langkah-langkah itu, tingkat kematian ikan kurang dari 5%. Sementara kalau tidak segera melakukan penanganan dengan tepat tingkat kematian tinggi mencapai lebih dari 50%. Purwanto juga selalu mengganti air kolam saat berwarna terlalu pekat agar pertumbuhan ikan optimal.
