Monday, May 11, 2026

KFLHK Dorong Filantropi untuk Mempercepat Transisi Hijau di Indonesia

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Perhimpunan Filantropi Indonesia, Dompet Dhuafa, Belantara Foundation, dan organisasi filantropi di Indonesia yang tergabung dalam Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi (KFLHK) gelar pembahasan mengenai perubahan iklim dan dampaknya.

Simposium yang bertajuk Mengakselerasi Transisi Hijau: Peran Strategis Lembaga Filantropi di Indonesia, itu terselenggara pada  Kamis, (21/11). Kegiatan itu sebagai wadah untuk membahas langkah-langkah konkret dalam mengurangi perubahan iklim dan beradaptasi dengan konsekuensi yang tak terhindarkan.

Perubahan iklim merupakan isu global yang mempengaruhi segala aspek kehidupan, termasuk ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.

Dalam pidato utama, Bambang Brodjonegoro, selaku Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (2019—2021) menyampaikan pendanaan perubahan iklim kini semakin mengarah pada konsep keuangan campuran atau blended finance.

Ia menuturkan transisi energi, sebagai salah satu strategi mitigasi utama, menghadapi dua tantangan besar yakni tingginya biaya investasi awal dan biaya modal. “Di Indonesia, emisi gas rumah kaca terus menunjukkan tren peningkatan sejak 2010—2022, sementara biaya investasi untuk energi terbarukan tetap tinggi,” ujarnya.

Tantangan itu menuntut adaptasi dari pihak terkait yang perlu menyesuaikan model pembiayaan agar sejalan dengan transisi energi.

“Di sinilah peran lembaga filantropi menjadi sangat strategis, yaitu memobilisasi pendanaan swasta dengan skema yang tidak terlalu rumit, seperti hibah, pendanaan konvensional, atau jaminan yang difasilitasi oleh lembaga khusus maupun lembaga internasional seperti World Bank,” jelas Bambang.

Lebih lanjut ia menuturkan selain fokus pada mitigasi, filantropi juga berperan penting dalam pendanaan adaptasi perubahan iklim, yang hingga kini masih jauh di bawah kebutuhan karena tingkat pengembalian yang rendah.

Bambang berharap filantropi dapat melengkapi pendanaan dari sektor swasta dan publik untuk mencegah dampak yang lebih besar, termasuk hilangnya lahan, jiwa, dan aset lainnya akibat bencana terkait iklim.

Loss and damage fund menjadi penting untuk mendukung komunitas yang tidak dapat menghindari dampak perubahan iklim. Dengan adanya dukungan yang kuat dari filantropi, pendanaan iklim diharapkan tidak hanya berfokus pada mitigasi tetapi juga mendukung adaptasi, rehabilitasi, dan pemulihan, tanpa mengganggu keseimbangan komunitas dan ekosistem yang ada,” ujarnya.

Pada tempat terpisah, Direktur Eksekutif Filantropi Perhimpunan Filantropi Indonesia, Gusman Yahya berharap acara simposium itu dapat menjadi wadah untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik terbaik dalam upaya mendorong aksi kolektif yang lebih nyata.

Gusman menekankan bahwa aksi kolektif penting sekali menjadi motor penggerak antar pemangku kepentingan untuk saling melengkapi sumber daya masing-masing dan mengakselerasi pencapaian SDGs serta agenda iklim.

“Inisiatif kemitraan multi-pihak tidak harus dilakukan dengan menciptakan inisiatif baru, tapi diharapkan untuk dapat lebih mengoptimalisasi platfrom-platform kerjasama dan jaringan yang sudah ada, dengan lebih menguatkan kordinasi dan tatakelola antar pemangku kepentingan baik pemerintah, pihak swasta, dan filantropi,” ujar Gusman.

GM Program Dompet Dhuafa, Arif Rahmadi Haryono menuturkan,  “Kami sebagai lembaga filantropi terus mendorong beragam giat program dalam adaptasi perubahan iklim, mulai pendekatan pelestarian lingkungan secara langsung, pengembangan wilayah ekowisata, pengembangan kantor ramah lingkungan dan juga mengajak beragam elemen masyarakat dalam kesadaran dan partisipasi upaya adaptasi perubahan iklim.”

“Perubahan iklim harus kita sikapi secara serius, bergerak dari beragam lembaga Filantropi menjadi acuan bersama dalam mitigasi perubahan iklim. Perlu ada langkah yang nyata dalam menyikapi perubahan iklim ini,” ujar Arif.


Artikel Terbaru

Lebah Menyukai Bunga Berwarna Cerah, Ini Alasannya

Trubus.id— Bunga berwarna cerah seperti kuning, ungu, biru, dan putih sering dipenuhi lebah yang mencari nektar maupun serbuk sari....

More Articles Like This