Hama trips dan lalat pengorok daun menjadi ancaman serius bagi petani bawang merah di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Salah satu wilayah terdampak ialah Desa Kalipang, Kecamatan Sutojayan. Untuk membantu para pekebun, tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Universitas Negeri Malang yang dipimpin oleh Prof. Dr. Purnomo, S.T., M.Pd., merancang sistem perangkap hama berbasis energi surya.
Purnomo menjelaskan, teknologi ini memanfaatkan solar cell sebagai sumber energi terbarukan yang menghidupkan lampu light emitting diode (LED). “Tenaga surya sangat potensial di Blitar, mencapai 1.831 kWh/m² per tahun. Dengan sistem ini, penerangan tidak bergantung pada listrik konvensional yang sering tidak stabil,” ujarnya.
Lampu LED tersebut dipasang di atas nampan berisi cairan perangkap yang dirancang dari campuran air gula, cuka apel, sabun cair, feromon, dan ekstrak buah. Campuran itu berfungsi menarik dan membunuh hama yang aktif di malam hari. Dalam area seluas 2.000 meter persegi, tim memasang 12 lampu LED berdaya 10 watt dengan jarak sekitar 10 meter agar pencahayaan merata di seluruh lahan.
Pada 15 hari pertama tanpa penggunaan sistem solar cell dan cairan perangkap, penurunan populasi hama hanya sekitar 200 ekor per hari. Namun, setelah teknologi diterapkan, efektivitasnya meningkat pesat. Setiap nampan perangkap mampu menangkap 200–500 hama kecil per malam. Dengan 12 lampu LED, total hama yang tertangkap mencapai 2.400–6.000 ekor per malam.
Penurunan populasi hama secara signifikan berdampak langsung pada kesehatan tanaman. Kerusakan daun berkurang, dan hasil panen diperkirakan meningkat. Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi ramah lingkungan berbasis energi terbarukan dapat menjadi solusi nyata dalam pengendalian hama bawang merah tanpa ketergantungan pada insektisida.
