Trubus.id—Keberhasilan hilirisasi riset kembali dibuktikan oleh Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK) melalui produk unggulannya, nilam Aceh. Produk tersebut kini telah berhasil dikomersialisasikan dan menembus pasar internasional.
Ketua ARC USK, Syaifullah Muhammad, menjelaskan bahwa hingga kini ARC telah memfasilitasi ekspor nilam sebanyak 57 kali ke Prancis, yang menandai kemajuan besar dalam sektor agroindustri Aceh. “Produk nilam menjadi bukti bahwa hasil riset mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat,” ujarnya dalam rapat koordinasi bersama Direktorat Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah (DRID) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di USK, Banda Aceh, Rabu (8/10).
Menurut Syaifullah, keberadaan ARC kini menjadi kebanggaan USK. Hampir seluruh program studi menjadikan lembaga tersebut sebagai contoh praktik baik dalam kegiatan visitasi akreditasi. Kolaborasi riset yang dikembangkan ARC juga dinilai sebagai model ekosistem riset terbaik di Indonesia karena mampu mengintegrasikan aspek akademik, industri, dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Plt. Direktur Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Muhammad Amin, memaparkan peran penting BRIDA (Badan Riset dan Inovasi Daerah) atau BAPPERIDA sebagai orkestrator riset di tingkat daerah. Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan riset teknis berada di perguruan tinggi dan BRIN, sedangkan BRIDA bertugas mengoordinasikan kebijakan dan arah riset agar sejalan dengan kebutuhan daerah.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi dan BRIDA di berbagai daerah masih perlu diperkuat. Diperlukan jembatan kolaborasi yang lebih kokoh antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi,” ujar Amin dilansir pada laman BRIN.
Menanggapi hal tersebut, tim ARC menyambut positif gagasan BRIN. Mereka menilai posisi BRIDA sebagai lembaga manajerial riset sangat tepat untuk memperkuat sinergi lintas lembaga. Dalam diskusi, muncul pula gagasan untuk mengembangkan skema beasiswa Degree by Research (DbR) bagi pemerintah daerah, dengan tema riset yang menyesuaikan kebutuhan lokal.
Para peserta rapat turut menekankan pentingnya komunikasi antara USK dan Pemerintah Provinsi Aceh agar pembentukan BRIDA Aceh dapat segera direalisasikan.
Syaifullah berharap, jika BRIDA Aceh terbentuk, fokus risetnya diarahkan pada pengembangan agroindustri berbasis komoditas unggulan daerah seperti yang telah dijalankan ARC. “Model ini terbukti mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi daerah,” tuturnya.
Ia juga menyarankan agar BRIDA tidak perlu membangun laboratorium baru. “Lebih baik memanfaatkan fasilitas laboratorium USK yang sudah lengkap dan berstandar nasional,” tambahnya.
Menurut Syaifullah, USK memiliki dua kekuatan utama, yakni sumber daya manusia unggul dan infrastruktur laboratorium memadai. Dengan dukungan BRIDA, kedua kekuatan tersebut dapat dimaksimalkan untuk menghasilkan riset yang berorientasi pada solusi nyata dan memiliki dampak nasional.
Pertemuan antara BRIN dan USK tersebut menjadi momentum penting memperkuat sinergi riset daerah. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat terbentuknya BRIDA Aceh serta memperluas dampak riset berbasis kebutuhan lokal menuju penguatan ekonomi daerah berbasis inovasi.
