Sisa makanan rumah tangga sering dianggap limbah tak berguna. Padahal, bahan seperti nasi basi, sayuran layu, hingga kulit buah mengandung nutrisi yang cukup tinggi untuk dijadikan pakan ikan. Melalui proses fermentasi sederhana, limbah dapur dapat diubah menjadi sumber protein alternatif yang efisien sekaligus mengurangi timbunan sampah organik.
Penelitian M. Arifin et al. (2024) dalam Innovation in Fermented Market Waste Processing for Fish Pellets in Freshwater Fish Hatcheries menjelaskan bahwa sisa buah dan sayuran dari pasar dapat diformulasikan menjadi pellet pakan ikan setelah difermentasi. Kandungan proteinnya mencapai 18–20%, cukup untuk memenuhi kebutuhan ikan air tawar seperti lele dan nila. Fermentasi juga membantu meningkatkan daya cerna dan menekan kadar amonia dalam air kolam.
Fermentasi menjadi tahap penting dalam peningkatan nilai gizi limbah organik. Mikroba seperti Lactobacillus sp. dan Saccharomyces cerevisiae bekerja memecah bahan organik kompleks menjadi asam amino dan vitamin. Menurut Rahman dan Yuliana (2023) dalam Indonesian Journal of Applied Science and Chemistry, pemberian limbah kelapa fermentasi pada ikan lele meningkatkan efisiensi pakan hingga 15% dibandingkan pakan kontrol tanpa fermentasi.
Dalam kegiatan budidaya ikan, pakan menjadi komponen biaya terbesar—bahkan mencapai 60% dari total pengeluaran, sebagaimana disebutkan oleh Sutrisno dan Fitriani (2024) dalam Journal of Marine and Sustainable Science. Pemanfaatan limbah dapur sebagai bahan pakan fermentasi menawarkan efisiensi ekonomi yang signifikan. Hasil penelitian Nurlaila et al. (2024) menunjukkan bahwa kombinasi ampas tahu, nasi basi, dan sisa sayuran yang difermentasi dapat menggantikan hingga 40% pakan komersial pada ikan nila tanpa menurunkan pertumbuhan.
Temuan Singh dan Hu (2025) dalam Journal of Environmental Biotechnology memperkuat hal tersebut. Mereka menemukan bahwa fermentasi limbah dapur menggunakan campuran Bacillus licheniformis dan Yarrowia lipolytica dapat menggantikan hingga 30% tepung ikan pada pakan budidaya tanpa menurunkan efisiensi pertumbuhan. Teknologi ini sekaligus menekan emisi metana dari sampah yang terdekomposisi di TPA.
Pemanfaatan limbah dapur untuk pakan ikan menjadi langkah konkret menuju budidaya yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Dengan dukungan riset yang terus berkembang, inovasi ini dapat menjadi solusi nasional dalam pengelolaan limbah dan peningkatan ketahanan pangan.
(Naya Maura Denisa)
