Saturday, January 24, 2026

BRIN Perkuat Daya Saing Tanaman Hias Nasional Lewat Inovasi Pemuliaan dan Budidaya Adaptif

Rekomendasi
- Advertisement -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat pengembangan tanaman hias sebagai bagian dari strategi pembangunan pertanian modern dan berkelanjutan. Komitmen tersebut ditegaskan melalui Webinar HortiActive #23 bertema “Inovasi dan Pengembangan Tanaman Hias: Dari Pemuliaan Hingga Budidaya serta Peran, Fungsi, dan Potensi untuk Pengembangan Tanaman Hias di Indonesia” yang digelar secara daring, Rabu (17/12).

Webinar yang diselenggarakan Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN ini menyoroti pentingnya inovasi berbasis riset, mulai dari pemuliaan hingga budidaya adaptif, untuk menjawab tantangan sekaligus peluang pasar tanaman hias nasional dan global.

Kepala ORPP BRIN, Puji Lestari, menyampaikan Indonesia memiliki keunggulan komparatif berupa keanekaragaman hayati tinggi dan iklim tropis yang memungkinkan produksi tanaman hias sepanjang tahun. Kondisi tersebut membuka peluang besar di tengah meningkatnya permintaan pasar global, khususnya di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat.

“Pengembangan tanaman hias memiliki posisi strategis dalam pembangunan pertanian berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi, pengembangan agrowisata, pelestarian lingkungan, maupun penciptaan lapangan kerja,” ujar Puji.

Ia menekankan pentingnya sinergi antara BRIN, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pelaku usaha agar hasil riset dapat diimplementasikan secara luas dan berkelanjutan.
Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami, menambahkan pengembangan tanaman hias harus dilakukan secara komprehensif, mencakup pemuliaan varietas, penerapan teknologi budidaya, serta analisis potensi pengembangan.

Menurutnya, inovasi teknologi menjadi kunci untuk memenuhi kebutuhan pasar sekaligus mengurangi ketergantungan pada varietas impor.
Salah satu materi utama disampaikan Peneliti Ahli Utama BRIN, Liaw Lia Sanjaya, yang memaparkan riset pemuliaan krisan melalui induksi mutasi sinar gamma.

Metode ini dipilih untuk meningkatkan ketahanan krisan terhadap penyakit karat daun (Puccinia horiana) serta memperluas adaptasi tanaman, termasuk di dataran rendah. Hasil riset menunjukkan peningkatan keragaman genetik yang berpotensi mendukung industri perbenihan nasional.

Sementara itu, Peneliti Ahli Muda BRIN, Herni Shintiavira, memaparkan pengembangan teknologi budidaya tanaman hias Impatiens atau pacar air. Seiring meningkatnya tren tanaman hias, permintaan Impatiens terus bertumbuh, sehingga diperlukan teknologi budidaya yang lebih efisien dan terstandar.

“Optimalisasi teknik budidaya di setiap fase pertumbuhan sangat menentukan kualitas tanaman. Masih terbuka peluang riset, termasuk pengembangan varietas unggul yang toleran terhadap kekeringan dan suhu tinggi,” ujarnya.

Dari kalangan akademisi, Prof. Eddy Tri Haryanto dari Universitas Sebelas Maret menilai tanaman hias tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki peran budaya, estetika, dan lingkungan, serta berpotensi menjadi penggerak ekonomi hijau.
Melalui HortiActive #23, BRIN menegaskan komitmennya untuk mengembangkan riset tanaman hias yang berorientasi pada kebutuhan nasional dan pasar global guna memperkuat daya saing Indonesia di industri tanaman hias dunia.

Foto: Dok. BRIN

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img