Trubus.id— Pekebun cabai di Desa Pleret, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Gito, sumringah saat menghitung hasil panen cabai keriting miliknya. Pada panen keempat, produksi mencapai sekitar 224 gram per tanaman atau lebih tinggi dibanding rata-rata panen petani pada periode sama yang hanya sekitar 153 gram per tanaman.
Menurut Dekan Fakultas Pertanian IPB, Suryo Wiyono, peningkatan produksi mencapai 46,4%. Selain hasil panen meningkat, kondisi tanaman juga tampak lebih sehat. Daun lebih hijau, tajuk segar, dan tanaman terus berbunga seperti tanaman muda.
Perubahan itu terjadi setelah Gito mengaplikasikan mikronutrien inovatif karya Fakultas Pertanian IPB sebanyak tiga kali sejak tanaman berumur satu bulan.
Kombinasi Mikronutrien dan PGPR
Suryo menjelaskan inovasi tersebut berupa kombinasi mikronutrien dan bakteri Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Mikronutrien mengandung unsur seng (Zn), boron (B), dan mangan (Mn) yang berfungsi merangsang pertumbuhan daun dan pembungaan.
Sementara itu, bakteri PGPR menghasilkan enzim Indole Acetic Acid (IAA) dan ACC deaminase yang membantu pertumbuhan tanaman. Enzim IAA berperan dalam pemanjangan sel dan pembentukan akar, sedangkan ACC deaminase membantu tanaman lebih tahan terhadap stres seperti kekeringan dan salinitas.
“Keseimbangan antara kedua enzim itu memengaruhi pembungaan,” ujar Suryo.
Menurutnya, kombinasi teknologi tersebut mampu menjaga tanaman tetap produktif lebih lama. Tanaman cabai yang biasanya hanya dipanen sekitar 12 kali dapat terus bertunas dan menghasilkan bunga baru.
Aplikasi Lebih Mudah
Di Indonesia, PGPR umumnya diaplikasikan melalui tanah atau benih, sedangkan mikronutrien disemprotkan ke daun. Inovasi itu mengombinasikan keduanya dalam aplikasi daun sehingga lebih praktis bagi petani.
Berdasarkan hasil uji lapang di Kabupaten Kulonprogo, kombinasi mikronutrien dan PGPR mampu meningkatkan produksi cabai lebih dari 40%.
“Dengan inovasi itu diharapkan masa panen dapat diperpanjang, produktivitas tanaman meningkat, dan pada akhirnya memberikan keuntungan lebih optimal bagi petani,” tutur Suryo.
