Trubus.id— Muhammad Nasrul Fatah memproduksi daun torbangun kering setiap dua pekan. Ia mendapatkan pasokan daun torbangun segar dari para petani mitra dengan total luas tanam mencapai 4 hektare.
Nasrul mengeringkan daun torbangun atau ajeran menggunakan oven bersuhu maksimal 80 derajat Celsius. Untuk menghasilkan 1 kilogram daun torbangun kering dibutuhkan sekitar 15 kilogram daun segar karena kadar air tanaman sangat tinggi.
Menurut Nasrul, rendemen daun torbangun tergolong rendah akibat tingginya kandungan air pada tanaman. Setelah proses pengeringan selesai, produk dibagi menjadi simplisia daun kering, bubuk daun, dan ekstrak sesuai permintaan konsumen.
Produk berbahan daun torbangun itu diekspor ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Belanda, Rusia, Tiongkok, India, Jepang, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Thailand, dan Taiwan. Perusahaan di negara tujuan memanfaatkan torbangun sebagai bahan baku produk pelancar air susu ibu (ASI).
Khasiat daun torbangun sebagai peningkat produksi ASI ternyata telah dibuktikan secara ilmiah. Salah satu penelitian dilakukan guru besar Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB, Muh. Rizal Martua Damanik.
Dalam penelitian tersebut, Rizal membandingkan ibu menyusui yang mengonsumsi torbangun dengan ibu yang mengonsumsi suplemen pelancar ASI. Hasilnya, produksi ASI ibu yang mengonsumsi torbangun lebih tinggi dibandingkan kelompok suplemen.
Menurut Rizal, masyarakat Batak di Sumatera Utara telah lama memanfaatkan torbangun sebagai laktagogum. Tradisi itu dilakukan sejak hari pertama melahirkan hingga 30 hari setelah persalinan.
Pemanfaatan torbangun sebagai pelancar ASI disebut sebagai tradisi unik yang tidak ditemukan di suku bangsa lain di dunia. Hingga kini kebiasaan tersebut masih dipraktikkan masyarakat Batak di berbagai daerah.
Ketertarikan terhadap khasiat torbangun mendorong Nasrul meneliti tanaman itu saat kuliah di IPB. Alumni Program Studi Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB itu mengaku tidak menyangka permintaan pasar luar negeri terhadap torbangun sangat besar.
Selain torbangun, Nasrul juga memproduksi daun saga manis kering untuk kebutuhan industri herbal. Ia memasok bahan baku itu ke perusahaan farmasi besar seperti Dexa Medica untuk produk herbal pereda batuk.
Petani mitra penyuplai saga tersebar di beberapa daerah seperti Sragen dan Bojonegoro. Luas areal tanaman saga hampir sama dengan tanaman torbangun.
Nasrul juga memenuhi permintaan pasak bumi dan daun katuk kering untuk bahan suplemen herbal. Produk daun katuk dipasok ke perusahaan besar seperti Konimex dan PT Phytochemindo Reksa.
Selain tanaman herbal, Nasrul memproduksi simplisia rimpang seperti jahe dan kunyit. Ia juga mengekspor rempah-rempah seperti lada hitam, kulit kayu manis, kapulaga, dan cengkih ke Rusia serta Belanda.
Menurut Nasrul, seluruh produk herbal harus memenuhi standar ketat industri farmasi dan nutrasetikal. Karena itu sistem pengeringan, pemotongan, hingga pengolahan dilakukan secara terkontrol untuk menjaga kualitas senyawa aktif.
