Thursday, May 21, 2026

Konsumsi Alpukat di Eropa Melonjak 700%, Italia Bidik Produksi Lokal dari Sisilia

Rekomendasi
- Advertisement -

Siapa sangka buah yang dulu identik dengan guacamole (saus atau olesan tradisional asal Meksiko yang berbahan dasar alpukat matang yang dihaluskan, red.) ini kini jadi primadona pasar buah Eropa. Di hari kedua Macfrut 2026, banyak pelaku industri buah-sayur dari penjuru dunia tumpah ruah memadati Mango & Avocado Arena di Rimini Expo Centre, Italia. Satu agenda besar menunggu yaitu Forum Alpukat, bagian dari rangkaian Mango and Avocado Explosion yang menjadi jantung edisi ke-43 pameran internasional ini.

Angka-angka yang dipaparkan dalam forum membuat peserta tak henti mengangguk. Menurut data World Avocado Organisation, Eropa menyerap lebih dari 1 juta ton alpukat sepanjang 2025. Dalam satu dekade terakhir, konsumsi rata-rata per orang naik dari 0,8 kilogram menjadi 1,8 kilogram per tahun. Lonjakan yang tidak bisa dianggap remeh.

Italia sendiri mencatat angka yang tak kalah mengesankan. Konsumsi per kapita menyentuh 1,12 kilogram per orang pada 2025, dengan total penjualan ritel mencapai 55.000 ton. Artinya ada kenaikan 28% hanya dalam setahun. Supermarket menjadi tulang punggung distribusi dengan menguasai 87,3% dari total transaksi.

Direktur Fruitimprese, Pietro Mauro, memaparkan bahwa data impor Italia yang membuat forum terdiam sesaat. Dalam 15 tahun terakhir, volume impor alpukat Italia meroket 367%. Sementara nilainya melesat hingga 700%. Bahkan dalam rentang 2024—2025 saja, volume naik 39% dan nilai transaksi tumbuh 40%. Italia kini menduduki posisi kelima sebagai importir alpukat terbesar di Eropa.

Yang menarik bukan hanya angkanya. Perwakilan dua jaringan ritel besar Italia, Coop dan Conad, turut naik panggung menyampaikan perspektif dari sisi pasar. Senior Exotic Fruit Buyer Conad, Nicola Buoso, mengungkapkan bahwa omzet alpukat kini melampaui nanas dalam kategori buah eksotis di jaringan mereka. Fabio Ferrari dari Coop menambahkan, volume alpukat di gerai Coop tumbuh 60% dalam empat tahun terakhir.

Namun yang paling membuat forum ini terasa berbeda yakni pergeseran pembahasan ke arah produksi lokal. Profesor Paolo Inglese dari Universitas Palermo memaparkan potensi Italia Selatan, khususnya Sisilia, sebagai kawasan produksi alpukat yang menjanjikan. Iklim Mediterania yang hangat dinilai ideal untuk budidaya buah tropis ini.

Apofruit Italia bahkan sudah melangkah lebih jauh. Koperasi dengan 2.700 petani itu tengah mengembangkan kebun alpukat organik di Calabria. Targetnya jelas yakni mengurangi ketergantungan impor sekaligus menjawab permintaan pasar domestik yang terus membesar.

Forum ini bukan sekadar perayaan angka. Ini sinyal bahwa alpukat bukan lagi buah “gaya hidup” sesaat. Di Eropa, buah ini sudah jadi kebutuhan sehari-hari. Dan Italia, pelan tapi pasti, bersiap tak hanya jadi konsumen, tapi juga produsen. (Riefza Vebriansyah)


Artikel Terbaru

Universitas Pakuan dan Belantara Foundation Angkat Potensi Bioprospeksi untuk Pembangunan Berkelanjutan

Trubus.id-Belantara Foundation bekerja sama dengan Program Studi (Prodi) Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana, Prodi Biologi FMIPA dan Prodi Pendidikan Biologi...

More Articles Like This