Trubus.id-Dulu sukun identik dengan gorengan hangat di sore hari atau sekadar makanan pengganjal perut. Namun kini pamor sukun mulai naik kelas. Buah tropis itu dinilai berpotensi menjadi salah satu sumber pangan masa depan Indonesia.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi saat menerima kunjungan Yayasan Sukun Nusantara Sejahtera (YSNS) di kompleks Kantor Kementerian Transmigrasi pada 24 Februari 2026.
“Saya setuju untuk kembali menanam sukun sebab kehadiran tanaman ini mendukung diversifikasi pangan. Sukun merupakan tanaman pangan masa depan,” ujar Viva Yoga Mauladi.
Dalam pertemuan itu hadir pula Ketua Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Bisnis YSNS, Joediantoro, Sekretaris Umum Riyan Sumindar, serta pengurus lainnya.
Kaya protein berkualitas
Selama ini masyarakat kerap memandang sukun (Artocarpus altilis) hanya sebagai buah bertepung pengganjal lapar. Padahal berbagai penelitian menunjukkan sukun memiliki kandungan gizi yang menjanjikan.
Penelitian Ying Liu dan rekan yang dimuat dalam jurnal Amino Acids menemukan bahwa berbagai kultivar sukun mengandung spektrum asam amino esensial lengkap. Kandungan itu meliputi leusin, isoleusin, valin, dan fenilalanin.
Temuan tersebut membuat para peneliti menilai sukun sebagai sumber protein nabati berkualitas tinggi yang potensial mendukung ketahanan pangan masa depan. Apalagi tanaman sukun relatif mudah tumbuh di wilayah tropis seperti Indonesia.
Potensi itu juga membuka peluang pengembangan berbagai produk pangan modern berbahan baku sukun, mulai dari tepung, mi, roti, hingga pangan fungsional.
Ramah gula darah
Keunggulan lain sukun terletak pada indeks glikemiknya. Ketua YSNS, Arie Malangyudo dan rekan dalam buku Manual Tata Kelola Industri Sukun menyebutkan bahwa indeks glikemik sukun lebih baik dibandingkan kentang, beras, sorgum, maupun gandum.
Indeks glikemik menunjukkan seberapa besar pengaruh suatu makanan terhadap kenaikan kadar gula darah. Makanan dengan indeks glikemik rendah cenderung lebih aman karena tidak memicu lonjakan gula darah secara drastis.
Kandungan serat yang tinggi pada sukun membantu memperlambat penyerapan karbohidrat sehingga kadar gula darah lebih stabil. Kondisi itu menjadikan sukun berpotensi sebagai alternatif pangan bagi masyarakat yang ingin menjaga kesehatan metabolik, termasuk penderita diabetes.
Peluang agribisnis terbuka lebar
Permintaan pangan sehat dan berbasis lokal terus meningkat. Kondisi itu menjadi peluang besar bagi pengembangan agribisnis sukun di Indonesia.
Selain buah segar, sukun dapat diolah menjadi aneka produk bernilai tambah tinggi. Tepung sukun misalnya, mulai dilirik sebagai bahan baku pangan bebas gluten. Daunnya juga dimanfaatkan sebagai bahan herbal, sementara kayunya bernilai ekonomis untuk kerajinan.
Dengan dukungan budidaya yang tepat, sukun bukan hanya berpotensi memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga meningkatkan pendapatan petani dan pelaku usaha olahan pangan lokal.
Sukun tampaknya tak lagi sekadar pangan tradisional. Buah tropis itu perlahan berubah menjadi komoditas strategis untuk masa depan pangan Indonesia.
