Wednesday, May 20, 2026

Hemat Pupuk hingga 50%, Petani Padi Andalkan Teknologi Sensor Tanah Jinawi

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Petani padi di berbagai daerah mulai merasakan manfaat pemupukan presisi berbasis teknologi. Salah satunya Trimanto, petani asal Desa Jambanan, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Ia berhasil menekan penggunaan pupuk hingga 50% tanpa menurunkan hasil panen.

Trimanto membudidayakan padi di lahan seluas 5,5 hektare (ha). Sebelumnya ia menggunakan 500—600 kg pupuk lengkap per hektare. Pada umur tanaman 40 hari, ia juga menambahkan sekitar 150 kg pupuk Phonska per ha. Namun, sejak musim tanam November 2025, ia mulai mengurangi dosis pupuk.

Hasilnya di luar dugaan. Produksi padi tetap stabil meski penggunaan pupuk jauh lebih sedikit. “Saya bisa menghemat biaya pupuk hingga 50% dengan jumlah hasil panen sama,” ujar Trimanto.

Keberhasilan serupa dirasakan Wahtugi Giar, petani asal Desa Pojok, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Untuk lahan seluas 3.000 m², sebelumnya ia menghabiskan sekitar 300 kg pupuk lengkap. Kini kebutuhan pupuk hanya sekitar 100 kg.

“Dari semula 300 kg menjadi hanya 100 kg. Selisih biaya pemupukan sekitar Rp1 juta,” tutur Giar.

Rahasia penghematan itu berasal dari penggunaan teknologi sensor tanah bernama Jinawi. Menurut Sales Executive PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa, Eka Irawan, Jinawi merupakan sensor pintar yang terintegrasi dengan aplikasi RiTx Jinawi.

Teknologi itu membantu petani menerapkan pemupukan tepat waktu, tepat dosis, dan sesuai kebutuhan lahan. Sensor Jinawi mampu menganalisis kondisi tanah secara real-time melalui pengukuran tujuh parameter penting, yakni nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), pH, suhu, kelembapan tanah, dan electrical conductivity (EC).

Setelah analisis selesai, aplikasi secara otomatis memberikan rekomendasi jenis dan dosis pupuk berdasarkan kondisi lahan, komoditas, hingga teknik budidaya yang diterapkan petani.

“Petani juga mendapatkan panduan sepanjang musim,” kata Eka.

Panduan itu mencakup fase pratanam hingga pascatanam sehingga pemupukan menjadi lebih presisi. Nutrisi tanaman pun lebih terukur sehingga pertumbuhan tanaman tetap optimal meski penggunaan pupuk lebih hemat.

Menurut Giar, sekitar 90% petani yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) di desanya sudah menggunakan Jinawi. Mereka merasakan manfaat nyata dari sistem pemupukan presisi tersebut.

“Kalau menggunakan ilmu lama, yang penting bisa memupuk. Lebih banyak pupuk katanya lebih menghasilkan. Namun, sejak ada Jinawi, hasilnya sama baiknya meskipun pupuknya lebih sedikit,” ujar Giar.


Artikel Terbaru

Sukun, Si Roti Tropis Calon Pangan Masa Depan

Trubus.id-Dulu sukun identik dengan gorengan hangat di sore hari atau sekadar makanan pengganjal perut. Namun kini pamor sukun mulai...

More Articles Like This