Kenaikan harga bahan baku pakan dan sulitnya memperoleh tepung ikan berkualitas mendorong pencarian sumber protein alternatif bagi industri peternakan. Salah satu bahan yang berpotensi besar adalah magot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF).
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Mataram, Dwi Kusuma Purnamasari, S.Pt., M.Si., meneliti penggunaan magot dalam formulasi pakan ayam petelur. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Sains Teknologi dan Lingkungan Vol. 10 No. 3 halaman 541—553.
Penelitian diawali dengan analisis kandungan nutrisi berbagai bahan pakan yang akan digunakan. Selanjutnya peneliti menyusun tiga formula pakan berbasis dedak, jagung, konsentrat, dan magot sesuai kebutuhan ayam petelur fase produksi.
Dalam penelitian itu, magot dikeringkan terlebih dahulu, kemudian digiling menjadi tepung sebelum dicampurkan dengan bahan lain dan dibentuk menjadi pelet. Penggunaan magot kering dipilih karena memiliki daya simpan lebih lama dibandingkan magot segar yang hanya bertahan sekitar dua hingga tiga pekan.
Untuk menghasilkan magot kering berkualitas, proses pengeringan dapat dilakukan melalui metode sangrai atau menggunakan oven microwave. Magot kering yang baik memiliki warna kuning cerah, kandungan nutrisi tinggi, serta lebih disukai unggas.
Uji biologis dilakukan pada 120 ekor ayam petelur yang dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan. Kelompok kontrol memperoleh pakan standar berupa jagung, dedak, dan konsentrat. Kelompok kedua mendapat formula pakan kontrol 85% ditambah magot 15%. Adapun kelompok ketiga memperoleh formula pakan kontrol 70% ditambah magot 30%.
Parameter yang diamati meliputi konsumsi pakan, bobot telur, produksi telur, konversi pakan atau Feed Conversion Ratio (FCR), serta kualitas telur secara internal dan eksternal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan magot hingga 30% mampu menurunkan konsumsi pakan secara nyata. Namun, bobot telur, produksi telur, dan nilai FCR tidak berbeda signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Dengan kata lain, performa produksi ayam tetap terjaga meskipun sebagian bahan pakan digantikan oleh magot.
Menariknya, kualitas internal telur justru mengalami peningkatan. Pemberian magot 30% menghasilkan skor warna kuning telur (yolk) rata-rata 9,7, lebih tinggi dibandingkan kontrol yang hanya mencapai 8,3.
Menurut Dwi, warna kuning telur menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan konsumen. Telur dengan warna kuning telur lebih pekat atau jingga umumnya lebih diminati di pasaran.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa magot berpotensi digunakan sebagai bahan pakan ayam petelur hingga level 30% tanpa menurunkan produktivitas maupun kualitas telur. Penggunaan magot juga dapat mengurangi ketergantungan pada bahan pakan komersial yang harganya terus meningkat sehingga biaya produksi peternakan menjadi lebih efisien
