Trubus.id-Keberadaan mangrove di kawasan tambak tidak hanya berfungsi menjaga ekosistem pesisir, tetapi juga berpotensi meningkatkan hasil budidaya perikanan. Hal itu terungkap dari kegiatan percontohan pengembangan silvo-aquaculture yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama mitra dari Jepang di Sulawesi Selatan.
Hasil uji coba menunjukkan udang yang dibudidayakan di tambak bermangrove memiliki pertumbuhan lebih baik dibandingkan udang yang dipelihara di tambak tanpa mangrove. Konsultan JIN Corporation Jepang, Hiroshi Imae, mengatakan bahwa setelah masa pemeliharaan selama 98 hari, bobot rata-rata udang di tambak bermangrove mencapai 25,85 gram per ekor. Adapun udang yang dipelihara di tambak konvensional hanya mencapai rata-rata 14,62 gram per ekor.
Menurut Hiroshi, temuan itu mengindikasikan bahwa integrasi mangrove dan budidaya perikanan mampu memberikan manfaat ganda, yakni menjaga lingkungan pesisir sekaligus meningkatkan produktivitas tambak. Pendekatan tersebut dinilai berpotensi mendukung ketahanan pangan masyarakat di wilayah pesisir.
Silvo-aquaculture merupakan sistem budidaya yang mengombinasikan konservasi mangrove dengan kegiatan perikanan. Dalam sistem itu, mangrove berperan menjaga kualitas lingkungan sekaligus menyediakan habitat bagi berbagai organisme yang dapat menjadi sumber pakan alami bagi udang.

“Mangrove berkontribusi meningkatkan populasi dan keanekaragaman makrobentos yang bermanfaat bagi pertumbuhan udang. Karena itu, pembudidaya dapat didorong untuk menanam mangrove di area tambak mereka,” ujar Hiroshi dalam webinar OceanFarm ke-8 bertajuk Silvo-Aquaculture and Its Contribution to Coastal Food Resilience, Selasa (23/6).
Makrobentos merupakan kelompok organisme yang hidup di dasar perairan, seperti cacing, moluska, dan krustasea kecil. Keberadaan organisme tersebut dapat memperkaya sumber pakan alami sehingga mendukung pertumbuhan udang di tambak.
Meski hasil awalnya cukup menjanjikan, Hiroshi menilai pengembangan silvo-aquaculture masih membutuhkan penelitian lanjutan. Salah satu alasannya ialah udang windu yang umum dibudidayakan memiliki kerentanan terhadap berbagai penyakit.
Karena itu, penelitian terhadap komoditas lain seperti bandeng dan rumput laut Gracilaria juga perlu dilakukan. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana keberadaan mangrove mampu meningkatkan produktivitas berbagai komoditas budidaya pesisir.
Selain faktor komoditas, pengelolaan air dalam sistem silvo-aquaculture juga masih memerlukan penyempurnaan. Menurut Hiroshi, kebutuhan pengelolaan air dapat berbeda tergantung jenis mangrove yang digunakan sehingga diperlukan berbagai percobaan untuk menemukan model yang paling efektif.
“Pengelolaan air, jarak tanam, dan penjarangan mangrove masih perlu diteliti lebih lanjut agar mangrove dapat tumbuh dengan baik sekaligus menjalankan fungsinya secara optimal dalam sistem silvo-aquaculture,” katanya.
Temuan tersebut memperkuat potensi silvo-aquaculture sebagai pendekatan budidaya berkelanjutan yang mampu mengintegrasikan aspek produksi pangan dan pelestarian lingkungan pesisir. Dengan pengelolaan yang tepat, sistem itu berpeluang menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove. (Sumber: BRIN).
