Kebun Sukun dan Potensi Serapan Karbon dalam Sistem Agroforestri

Rekomendasi

Di tengah isu perubahan iklim, tanaman pangan mulai dilirik bukan hanya sebagai sumber produksi, tetapi juga sebagai penyerap karbon. Salah satu yang menarik perhatian adalah sukun (Artocarpus altilis) yang dalam sistem agroforestri memiliki potensi besar sebagai penyimpan karbon alami.

Menurut jurnal Sustainability yang ditulis oleh Chad Livingston dan Noa Kekuewa Lincoln (2023), kebun sukun mampu menyerap sekitar 69,1 ton karbon per hektare dalam biomassa di atas permukaan tanah selama periode sekitar 20 tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa sukun memiliki potensi kuat sebagai tanaman dalam sistem pertanian berbasis iklim (climate-smart agriculture).

Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa serapan karbon sukun berasal dari akumulasi biomassa seperti batang, cabang, dan daun yang terus meningkat seiring pertumbuhan tanaman. Model alometrik yang digunakan juga menunjukkan hubungan kuat antara diameter batang dengan kepadatan karbon dan biomassa tanaman.

Selain biomassa di atas permukaan tanah, potensi penyimpanan karbon sukun juga terjadi di dalam tanah. Menurut jurnal Forests yang ditulis oleh Lindsey Gohd, Louise M. Egerton-Warburton, Ellinore Porter, Noel Dakar Dickinson, Nyree J. C. Zerega, dan Ray Dybzinski (2026) , tanaman sukun memiliki kemampuan meningkatkan cadangan karbon organik tanah yang dipengaruhi oleh tingkat domestikasi dan kesuburan tanah.

Temuan ini memperkuat bahwa sukun tidak hanya berperan sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai penyimpan karbon baik di biomassa maupun di dalam tanah. Sistem budidaya berbasis pohon seperti ini menjadi bagian penting dalam pendekatan agroforestri yang mendukung keberlanjutan lingkungan.

Dengan kemampuan menyerap karbon dalam jumlah besar, kebun sukun mulai dilihat sebagai bagian dari praktik carbon farming. Dalam konteks ini, menanam sukun tidak hanya menghasilkan buah, tetapi juga berpotensi memberikan nilai ekonomi tambahan melalui skema carbon credit di masa depan.

Namun demikian, besarnya serapan karbon tetap dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti jenis tanah, iklim, dan praktik pengelolaan lahan. Oleh karena itu, pengembangan kebun sukun sebagai “pabrik oksigen” tetap memerlukan pendekatan ilmiah dan perencanaan yang tepat.

Dengan kombinasi fungsi sebagai sumber pangan dan penyerap karbon, sukun menjadi salah satu tanaman lokal yang relevan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Integrasi sukun dalam sistem agroforestri berpotensi menjadi solusi berbasis alam yang mendukung ketahanan pangan sekaligus keberlanjutan lingkungan.

Artikel Terbaru

Gulma Air Alligator Weed Berubah Menjadi Pakan Ikan Bernutrisi Tinggi

Ketersediaan bahan baku pakan menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan budidaya ikan. Ketergantungan terhadap sumber protein seperti tepung ikan...

More Articles Like This