Persuteraan alam tidak hanya menghasilkan benang sutra bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga memiliki potensi menghasilkan berbagai produk turunan dari seluruh bagian sistem budidaya. Konsep pemanfaatan menyeluruh tersebut dikembangkan untuk menciptakan sistem produksi yang lebih berkelanjutan dan minim limbah.
Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lincah Andadari, mengatakan persuteraan alam merupakan sistem yang saling terhubung mulai dari sektor hulu hingga hilir. Sistem ini diawali dengan budidaya tanaman murbei sebagai satu-satunya sumber pakan bagi ulat sutra.
Menurut Lincah, kualitas daun murbei menjadi faktor penting karena berpengaruh terhadap pertumbuhan ulat sutra dan mutu kokon yang dihasilkan. Kokon tersebut selanjutnya diolah menjadi benang sutra yang telah lama dimanfaatkan sebagai bahan baku industri tekstil.
Selain menghasilkan benang sutra, bagian lain dari proses budidaya juga dapat dimanfaatkan. Pupa ulat sutra misalnya, dapat digunakan sebagai sumber protein untuk pangan maupun pakan ternak dan ikan.
Sementara itu, daun dan ranting tanaman murbei dapat dikembalikan ke lingkungan sebagai kompos atau bahan pendukung budidaya. Bahkan, sisa kokon dan limbah dari proses produksi masih berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
“Konsep persuteraan alam yang dikembangkan mengedepankan prinsip zero waste, yaitu memanfaatkan seluruh bagian dari sistem budi daya sehingga limbah yang dihasilkan dapat diminimalkan,” ujar Lincah dalam talkshow “Teknik Budidaya Ulat Sutra” di Gedung Utama ICC, BRIN Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Kamis (9/7).
Ia menjelaskan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi turut memperluas pemanfaatan protein sutra. Saat ini, protein tersebut telah dikembangkan sebagai biomaterial untuk kesehatan, bahan benang bedah, pembalut luka, hingga bahan baku kosmetik dan produk perawatan kulit.
Menurutnya, sistem persuteraan alam juga memberikan manfaat bagi lingkungan karena tanaman murbei berperan penting dalam menjaga keberlangsungan siklus produksi. Selain menyediakan pakan ulat sutra, tanaman tersebut menjadi bagian dari sistem budidaya yang berkelanjutan.
Optimalisasi pemanfaatan seluruh hasil budidaya menjadikan persuteraan alam sejalan dengan prinsip ekonomi hijau. Sistem ini menekankan efisiensi penggunaan sumber daya sekaligus mengurangi limbah dari proses produksi.
Penerapan persuteraan alam berkelanjutan diharapkan mampu mendukung pengembangan industri sutra nasional melalui pemanfaatan sumber daya hayati secara lebih optimal. “Selain menghasilkan produk utama berupa benang sutra, sistem ini juga membuka peluang pengembangan berbagai produk turunan yang memiliki nilai tambah,” pungkas Lincah.
