
Tasripan di Tarakan, matahari di Bogor. Sama-sama rajin berbuah.
“Ada durian yang terus—menerus berbuah. Rasa daging buahnya pun enak,” kata kolektor durian di Tarakan, Kalimantan Timur, Cokro Hariadi. Berita yang diterima pada akhir 2008 itu membuat Dr Lutfi Bansir SP MP, bergegas meninggalkan Bulungan, Kalimantan Timur menuju Tarakan. Di Tarakan ia mendatangi sang pemilik pohon, Tasripan Hasan Mukadar.
Saat Lutfi berkunjung, durian berumur 7 tahun itu sedang berbuah dalam berbagai fase yang ditunjukkan oleh perbedaan ukuran buah. Di satu cabang terlihat buah sebesar bola sepak. Di cabang lain buah baru sebesar bola tenis. Itu artinya setelah durian yang sebesar bola sepak jatuh, maka durian sebesar bola tenis akan menyusul berikutnya.
Lutfi pun tertarik untuk mengamati kestabilan durian milik Tasripan yang disebut-sebut rajin berbuah itu. Hampir setiap bulan Lutfi bolak-balik Bulungan—Tarakan untuk mengamati pohon Durio zibethinus itu. “Setelah saya amati lebih dari setahun, ternyata durian milik Tasripan itu stabil berbuah susul-menyusul hingga 3 kali dalam setahun,” kata peneliti durian di Durian Research Center, Universitas Brawijaya, Malang itu.

Dalam setahun Tasripan panen durian pada April, Agustus, dan November. Pada musim panen April dan Agustus jumlah panen dari pohon durian yang ditanam pada 2001 itu rata-rata sama, yakni masing-masing 125 buah. Pada November hasil panen lebih banyak yakni mencapai 200 buah. Bobot buah rata-rata 1,25 kg per buah. Artinya, dalam setahun Tasripan memanen hingga 560 kg.
Menurut Cokro, rasa durian itu enak. “Daging buahnya lembut, kering, dan manisnya pas. Mirip monthong,” kata Cokro yang juga maniak durian. Warna buahnya kuning cerah. Lutfi menuturkan porsi buah durian yang dapat dikonsumsi berubah-ubah antara 26—36%. “Tapi yang pasti lebih tinggi daripada standar Malaysia dan Indonesia yang hanya berkisar 20%,” kata Lutfi. Dengan berbagai keunggulan itu pantas walau Tasripan menjualnya dengan harga tergolong premium, yakni Rp40.000 per kg, durian miliknya tetap laris manis. “Banyak yang sudah pesan sejak duriannya masih di pohon,” kata Tasripan.
Negeri Jiran
Tasripan memperoleh bibit tanaman anggota famili Bombacaceae itu pada 2001 dari penjual bibit durian keliling. Saat itu Tasripan membeli 4 bibit durian hasil okulasi setinggi 30—an cm seharga Rp50.000 per bibit. “Kata si penjual, bibit durian itu dari Malaysia,” ujar Tasripan. Menurut Lutfi durian milik Tasripan itu memang bukan durian asli Indonesia. “Dari sosok buah mirip durian-durian di Malaysia yang bobotnya berkisar 2 kg dan berdaging kuning. Namun, dari segi daun sangat mirip durian chanee asal Thailand,” kata pria yang berdinas di Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, itu.

Menurut Tasripan tak ada perlakuan khusus agar durian miliknya itu rajin berbuah. Sebagai sumber nutrisi ia hanya memberikan 4 genggam pupuk kandang ayam. Enam bulan kemudian, Tasripan memberikan tambahan pupuk kandang ayam sebanyak 2 genggam dan campuran pupuk SP-36 dan Urea dengan perbandingan 3 : 1 sebanyak 2 genggam. Ketika tinggi tanaman sekitar 1 meter atau sekitar setahun pascatanam, Tasripan meningkatkan dosis pupuk kandang ayam menjadi 6 genggam.
Dari 4 bibit yang Tasripan tanam, kini hanya tersisa 1 pohon. “Ketiga pohon lain terpaksa saya tebang karena lahannya akan ditanami sayur-mayur,” kata Tasripan. Pada April 2005, durian itu mulai berbuah. “Buahnya baru satu dengan berat sekitar 1 kilo-an,” kata Tasripan.
Setahun 3 kali
Baru pada 2006 produktivitas durian itu meningkat menjadi 50 kg per tahun. Dua tahun berikutnya produktivitas meningkat lagi menjadi 450 kg per tahun, 2—3 tahun kemudian menjadi 560-an kg per tahun. “Jumlah itu relatif stabil hingga sekarang,” ujar Tasripan. Si raja buah milik Tasripan mulai rajin berbuah 3 kali setahun pada 2008.
Fenomena durian berbuah susul-menyusul tak hanya terjadi di Tarakan. Nun di halaman kantor Dinas Pertanian Kota Bogor, Jawa Barat, juga tumbuh durian matahari yang rajin berbuah. Menurut penangkar buah di Bogor, Syahril M Said, yang mengamati durian matahari itu sejak 2 tahun silam, setelah panen pada Maret—April 2013, muncul lagi bunga.
Saat Trubus berkunjung pada September 2013 buah susulan itu kini sudah sebesar dua kepalan tangan orang dewasa. “Sejak saya bertugas dari 1994, baru sekarang ini melihat durian itu berbunga terus-menerus,” ujar anggota staf bagian penanganan benih tanaman, Dinas Pertanian Kota Bogor, Dodo. Sebelumnya durian itu hanya berbuah sekali setahun dengan produktivitas 30—40 buah. “Produktivitas sedikit karena tanpa pemeliharaan sama sekali,” kata Wawan Darwan, SP, MM kepala bidang tanaman pangan dan hortikultura, Dinas Pertanian Kota Bogor, Jawa Barat, yang menanam durian matahari itu pada tahun 1992.
Keturunan dan lingkungan

Menurut Lutfi, munculnya karakter durian yang berbuah susul-menyusul dapat disebabkan dua faktor. “Bisa karena genetika dan kondisi lingkungan,” kata doktor alumnus Universitas Brawijaya itu. Secara genetik, durian milik Tasripan memang punya potensi untuk berbuah dan berbunga maksimal, ditambah dengan lingkungan yang sangat kondusif.
Namun, menurut Lutfi, faktor lingkungan lebih dominan. Ia menduga pasokan nutrisi yang melimpah membuat durian itu mampu berbuah terus-menerus. Maklum, Tasripan menanam sayuran yang diberi pupuk secara optimal di sekitar pohon durian itu. “Jadi secara tidak langsung nutrisinya juga terserap pohon durian,” katanya. Iklim juga sangat mempengaruhi. “Lokasi pohon durian itu berada di pulau sehingga kondisi alam lebih kering karena tiupan angin laut,” kata Lutfi. Oleh karena itu 2 pekan saja tidak hujan, durian milik Tasripan sudah terpicu mengeluarkan bunga.
Hal senada disampaikan peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu), Solok, Sumatera Barat, Panca Jarot Santoso SP MSc. “Tiga faktor yang sering membuat durian bisa berbunga maksimal yaitu asupan nutrisi, stres, dan sensitivitas pohon,” kata Panca Jarot. Faktor-faktor itu yang diduga secara dominan mempengaruhi karakter durian matahari di Bogor dan durian milik Tasripan di Tarakan. (Bondan Setyawan)
