Setelah sampai di atas pohon, ia duduk di salah satu pelepah. Di sana Deby Sondakh melakukan batifar alias menyadap aren. Dalam sehari ia menyadap 20 pohon. Setiap pohon menghasilkan 20-25 liter air nira dalam 24 jam. Pria 31 tahun itu hanya salah satu dari 200 warga Desa Kotamenara yang ‘berprofesi’ sebagai penyadap nira. Menurut Joyke Sondakh, hukum tua-kepala desa sekaligus kepala adat-Kotamenara, 95% warganya bekerja sebagai pengolah air nira.
Desa seluas 5 ha itu dihuni oleh 210 kepala keluarga atau total jenderal 810 jiwa. Lokasi desa persis di lereng Gunung Soputan (1.738 m). Menurut Vent Cyrill Tawalujan BA, mantan guru di Minahasa Utara, karena posisinya paling atas sehingga desa itu disebut Kotamenara. Edmond Ch Mononutu, produsen bioetanol bahan bakar di Minahasa Utara, menyebutnya Istana Langit karena merupakan desa teratas. Ke desa sentra bioetanol itulah Trubus berkunjung pada awal Desember 2007. Jarak dari Manado, ibukota Sulawesi Utara, hanya 70 km tetapi harus ditempuh dalam 5 jam. Setelah memasuki Amurang Timur, jalan mendaki dan rusak.
Selain itu di kiri dan kanan merupakan jurang. Apalagi siang itu hujan turun deras dan berkabut. Itu yang menyebabkan Kusyana, karyawan PT Siamosera, produsen bioetanol di Minahasa Utara, harus ekstrahati-hati mengendarai mobil. Malahan di tengah jalan, warga Kotamenara menyarankan kami untuk kembali ke Manado lantaran jarak pandang terbatas. Namun, kami meneruskan perjalanan hingga tiba di desa dengan tanah berpasir.
Memukul tangkai
Meski merupakan sentra bioetanol, tak mudah menemukan alat penyulingan di sekitar rumah penduduk. Menurut Joyke cuma beberapa penyadap yang mengolah nira di dekat rumah. Sebagian besar penyadap mengolah air nira di dekat pohon aren. Tanaman anggota famili Palmae itu belum dikebunkan, tetapi tumbuh di hutan yang harus ditempuh 1-3 jam berjalan kaki dari rumah warga yang disebut woloan.
Dari 14 daerah tingkat dua di Sulawesi Utara, salah satu sentra aren terbanyak adalah Kabupaten Minahasa Selatan. Survei Balai Penelitian Kelapa dan Palma Lain menyebutkan total populasi aren produktif di Provinsi Nyiur Melambai itu pada 2007 mencapai 2-juta pohon. Hanya di Kotamadya Manado, Kabupaten Sangir, dan Kabupaten Talaud, kerabat kelapa itu tak tumbuh.
Para penyadap aren di Minahasa Selatan menyuling di dekat pohon karena lebih efektif. Bandingkan jika mereka harus berjalan kaki selama 3 jam dan membawa puluhan liter bahan baku. Di sana, di dalam hutan, warga membangun pondok kecil-2 kali lapangan tenis meja-dilengkapi penyulingan sederhana. Untuk membangun unit pengolahan itu, produsen menghabiskan dana Rp250.000. Ketel berkapasitas 50 liter dihubungkan dengan 2 batang bambu setinggi 8 m. Ruas bambu itu dibuang dengan rotan yang ujungnya lancip.
Air nira yang populer sebagai saguer dituang ke dalam ketel itu. ‘Saguer itu kan maksudnya sagu air,’ ujar Vent. Warna saguer memang putih persis air sagu. Batang nira juga mengandung tepung putih mirip sagu. Mereka menyadap setelah sebulan mayang alias bunga aren itu mekar. Indikasinya banyak serangga berkerumun di sekitar buah. Untuk mendekati buah itu, penyadap menaiki tangga sebatang bambu, bukan 2 buah batang bambu yang dihubungkan oleh anak tangga.
Empat hari sekali maket alias calon penyadap naik mendekati buah aren. Di atas, mereka memukul-mukul tangkai buah dengan kayu. Lamanya 10-15 menit. Aktivitas itu disebut welwel, bertujuan membuka pori-pori tangkai. Frekuensi perlakuan itu 4 hari sekali selama sebulan. Artinya, sebelum disadap, mereka harus 7 kali memukul-mukul tangkai buah. Penyadap kembali naik dan memotong malai-malai buah; yang tersisa, tangkai sepanjang 30-40 cm. Tangkai itulah yang mengeluarkan nira alias saguer bahan baku bioetanol.
Tangkai memendek
Nira yang keluar dari tangkai buah itu ditampung dalam bambu. Namun, ada juga yang mengalirkan air nira itu melalui plastik es ke dalam jerigen. Penyadap meletakkan jerigen di atas permukaan tanah dekat batang pohon. Plastik es berfungsi seperti talang. Teknologi itu memudahkan penyadap untuk mengambil air nira. Dari sebuah tangkai, penyadap memperoleh 20-25 liter nira dalam 24 jam. Jika menyadap pukul 08.00, mereka mengambil nira pukul 08.00 keesokan hari.
Setiap hari, mereka memperbarui sadapan. Caranya dengan mengiris tipis tangkai aren. Interval antaririsan hanya 1-2 mm. Oleh karena itu tangkai buah lama-kelamaan memendek dan biasanya habis setelah 8 bulan disadap. Mereka hanya menyadap 1- 2 tangkai per pohon. Empat bulan berselang, aren berbunga lagi dan rutinitas seperti itu terjadi lagi.
Mereka kemudian memanaskan saguer yang manis itu dalam ketel. Uap panas ‘naik’ melalui bambu tanpa sekat setinggi 8 meter dan turun melalui bambu lain hingga menghasilkan bioetanol. Kadar etanol rata-rata 35-40%. Dari 25 liter saguer, produsen memetik 5 botol masing-masing bervolume 620 cc. Etanol itulah yang dibawa pulang. Jika dalam sehari, menyadap 20 pohon, ia memperoleh 100 botol bioetanol.
Padahal, di Kotamenara 200 orang ‘berprofesi’ sebagai penyadap. Artinya, dalam sehari Kotamenara menghasilkan 10.000 botol setara 6.000 liter bioetanol berkadar 35-40%. Pengepul bakal membeli hasil sulingan itu. Harganya amat fluktuatif. Menjelang Natal 2007 harga sebotol bioetanol itu mencapai Rp3.000-Rp4.000. Di luar bulan itu harga terseok-seok pada kisaran Rp1.000-Rp1.500 per botol 620 cc.
Menurut Edmond Ch Mononutu tengkulak kerap menekan harga beli cap tikus. ‘Cap tikus tak ada standar harga sehingga dimainkan oleh tengkulak. Dari 10 transaksi, 2 kali biasanya harga tinggi, 3 kali stabil, dan selebihnya harga turun,’ kata Edmond. Oleh karena itu Edmond bekerja sama dengan produsen tradisional itu. Produksi mereka ditampung Edmond dengan harga lebih stabil.
Cap tikus
Oleh pengepul, bioetanol dipasarkan kepada produsen minuman. Penduduk Sulawesi Utara lazim mengkonsumsi bioetanol 35% itu sebagai minuman sehari-hari, bahkan ketika ada kerabat yang meninggal sekali pun. ‘Kakek saya tak dapat makan, jika tanpa cap tikus,’ ujar Edmond. Cap tikus adalah sebutan masyarakat Sulawesi Utara untuk minuman berbahan bioetanol berkadar 35-40%.
Padahal, di pasaran tak ada satu pun minuman berbahan baku bioetanol itu yang bermerek cap tikus. Yang ada Pinarici, Kasegaran, dan Champion. Mengapa disebut cap tikus? Vent menduga, ketika disadap air nira mengalir seperti ekor tikus. Rommy Senduk, produsen, menceritakan di pohon aren banyak tikus hutan. Minuman itulah yang turun-temurun diwariskan hingga generasi kini, terutama di daerah pegunungan yang dingin.
Vent mengatakan kebiasaan itu sekadar untuk menghangatkan tubuh. Boleh jadi lantaran masyarakat Minahasa mengkonsumsi pangan berlemak seperti tinuransa alias daging anjing sehingga perlu bioetanol sebagai peluruhnya. Tak ada data pasti konsumsi cap tikus di Sulawesi Utara. Edmond memperkirakan 40% warga Sulawesi Utara atau 1.600.000 jiwa mengkonsumsi cap tikus. Mereka mengkonsumsi 3 kali sehari total minimal 300 cc per orang atau 480.000 liter per hari. Total konsumsi mencapai 14- juta liter sebulan.
Tradisi itu mengalami pergeseran. Dulu, ‘Orang Minahasa itu malu jika minum cap tikus sampai mabuk,’ katanya. Masyarakat kini mengkonsumsi cap tikus sampai mabuk sehingga menimbulkan kerawanan sosial. Untungnya sekarang banyak orang tua yang menyadari pentingnya kesehatan dan berhenti minum cap tikus. Mereka berharap, adanya pemanfaatan bioetanol sebagai bahan bakar dan industri menghentikan tradisi menenggak cap tikus. Lagi pula menjual bioetanol sebagai minuman juga lelah. Sebab, polisi kerap mengejar atau menangkap produsennya. Jika menjajakan bioetanol sebagai bahan bakar, justru pasar yang terus mengejar. (Sardi Duryatmo)
