Sunday, August 14, 2022

Hoki dari Penolak Bala

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pendapatan itu diperoleh Budi setelah menjual 10 ekor varietas dari jenis kawarimono sepanjang 22 cm di Pameran Flora dan Fauna di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Agustus 2007. Dengan harga Rp300.000/ ekor semuanya ludes terjual. ‘Yang membeli mayoritas orang Tionghoa. Menurut mereka koi seperti karasu dapat menolak bala,’ ujar pemilik Hikaru Koi di Bekasi itu.

Udin dari Tukang Koi di Tamansari Bogor pun meraup penghasilan lumayan dari penjualan karasu dengan ukuran 45- 50 cm. Dengan harga jual Rp1,5- juta/ ekor, pundi-pundi Udin bertambah Rp3-juta. ‘Karasu milik saya terbatas karena memang sulit mendapatkan warna hitam solid,’ katanya. Harap mafhum, karasu dengan warna tak keruan alias apkir, tidak bakal laku dijual.

Karasu berwarna hitam solid memang jadi incaran. ‘Warna seperti itu sulit didapat sehingga langka,’ ujar Dani H Lianto, pemilik Mawar 21 Koi Center di Waru, Surabaya. Pengalaman Udin hasil dari seleksi 2.000 burayak kawarimono, paling pol diperoleh 2-3 karasu. Meski demikian bagi peternak di Jepang sekalipun derajat kelompok ini tetap sebatas koi pelengkap. ‘Jadi soal harga suka-suka yang menjual saja,’ tambah Dani.

Masih gosanke

Di luar karasu, jenis-jenis populer seperti kohaku, sanke, showa-gosanke-dan utsurimono, masih tetap dicari. Menurut Kiki Sutarki dari Samurai Koi di Bandung, kelompok gosanke sudah punya pangsa pasar sendiri. Itu tak lepas dari unsur rasa bangga dan gengsi bila dapat mengoleksi. ‘Apalagi kalau memiliki kualitas kontes, pasti bangga bukan main,’ ujar Kiki. Maklum harga koi itu minimal belasan juta rupiah per ekor.

Beberapa pemain koi di Blitar, Jakarta, Bandung, dan Surabaya yang dihubungi Trubus, sepakat sepanjang 2007 memang terasa ada peningkatan dari tataniaga koi. ‘Dibandingkan tahun lalu ada peningkatan penjualan sampai 30%,’ kata Mochamad Yuhdi Marzuki dari Oksa Koi Farm di Blitar. Setahun lalu Yuhdi menjual rata-rata 600 ekor ukuran 20-25 cm dari jenis gosanke ke Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Namun, terhitung sejak awal 2007, penjualannya meningkat mencapai sekitar 1.000 ekor/bulan.

Itu untuk koi lokal. Penjual koi-koi impor juga merasakan hal sama meskipun persentase sangat kecil, kurang dari 5%. ‘Pembeli sekarang sudah melek kualitas, jadi harga bukan masalah lagi,’ ujar Kiki Sutarki. Sebagai agen Sakai dari Jepang, Kiki melego koi-koi berkualitas pada kisaran Rp1-juta-Rp300-juta/ekor. ‘Harga paling tinggi untuk koi berprospek grand champion di lomba. Itu milik gosanke,’ tambahnya.

Selain gosanke, jenis utsurimono dan ogon masih disukai. Jenis-jenis itu diperlakukan seperti jenis kawarimono, sebagai pelengkap. ‘Umumnya dibeli setelah koleksi kohaku atau showa sudah ada,’ ujar Udin. Yang menarik, kaum ibu sangat menyukai koi dengan kelainan seperti kumpay-ekor besar. ‘Warna kuning dan putih paling disuka,’ ujar Budi Santoso yang dapat menjual rata-rata 30- 50 ekor/ bulan ukuran 15-17 cm seharga Rp50.000/ekor.

Kualitas

Maraknya kontes ikut mendorong perkembangan koi di tanahair. Selama 2007 digelar sekitar 5 kali kontes koi di berbagai kota: Jakarta, Bandung, dan Blitar. Bahkan geliatnya sampai di Makassar. ‘Kami terpacu untuk membuktikan koi-koi dari Makassar dapat bersaing,’ ujar John Huysen, kolektor.

Namun, di balik geliat itu kendala klasik terutama mutu koi lokal yang masih rendah belum menunjukkan kemajuan berarti. Titi Chia dari Batam Fish Farm menuturkan peternak lokal tidak stabil menjaga kualitas ikan. Titi mencontohkan ia ‘terpaksa’ menerbangkan gosanke berukuran 20 cm dari Tropical Art di Singapura untuk dijual di tokonya di bilangan Nagoya. Padahal, Blitar di Jawa Timur adalah gudang pencetak koi lokal. ‘Koi dari sini (Singapura, red) bisa langsung dijual karena kesehatannya terjamin. Koi lokal, harus dikarantina minimal 3 hari karena sering didapati membawa bibit penyakit.

Hal itu bukan tidak disadari oleh peternak lokal. Pascawabah herpes yang menyerang sejak 3 tahun lalu, agak sulit untuk mendapatkan induk-induk sehat. ‘Masalahnya, harga induk yang bagus, mahal dan lama untuk didapat,’ ujar Yuhdi. Toh menurut Yuhdi peternak lokal sudah berupaya untuk maju. Salah satu peternak di Blitar sudah dapat menelurkan koi monosex dengan metil testoteron. ‘Dengan monosex ikan dapat tumbuh lebih cepat,’ tambahnya. Bila normalnya panjang 25 cm dicapai dalam 4 bulan, melalui monosex cukup 2,5- 3 bulan.

Yang perlu dipahami kualitas ikan harus tetap menjadi acuan. Itu pula yang menjadi fokus beberapa hobiis koi tanahair. John Husyen misalnya rutin memberikan koi-koi impor ukuran di atas 60 cm sebagai induk pada peternak lokal di Kota Angin Mamiri. Seandainya itu ditiru oleh pemain lainnya bukan mustahil langkanya karasu tinggal menjadi kenangan. (Dian Adijaya S/Peliput: Andretha Helmina, Nesia Artdiyasa)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img