
Sudah setahun berjalan Hengky Yanto di Desa Tanjungmerdeka, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sulawesi Selatan, kesulitan mendapatkan bibit kepiting untuk memenuhi 3 petak kolam tanah di lahan seluas 6 ha. ‘Untuk mendapat 5.000 bibit/minggu saja di sekitar sini tidak mudah,’ kata peternak pembesar yang sudah berkecimpung selama 20 tahun itu. Sebab itu pula pemilik CV Hokky Seafood di Makassar itu berburu bibit kepiting sampai Bali, Kalimantan, dan Papua.
Sebetulnya seekor kepiting betina dewasa berbobot 200 gram dapat menghasilkan 2-juta-3-juta telur. Sayang, tidak semua telur menetas. Menjelang awal purnama telur-telur itu berubah menjadi bibit. ‘Di saat itu bibit kepiting banyak,’ ujar Hengky. Namun pada bulan-bulan berikutnya ketersediaan bibit terbatas. Maklum tingkat keberhasilan dari telur hingga menjadi bibit hanya 10%.
Biostimulator
Penerapan laserpuntur untuk memacu produksi telur kepiting sebagai terobosan baru. ‘Teknologi ini dapat memperpanjang masa ketersediaan bibit, bahkan di luar musim sekalipun,’ kata Prof Dr Tatang Santanu Adikara dari FKH Universitas Airlangga. Jadi, meski SR kecil tetapi jika produksi telur naik 2-4 kali lipat, bibit yang tersedia bakal lebih banyak.
Teknik laserpuntur sebetulnya lazim dipakai pada ternak ruminansia untuk meningkatkan bobot tubuh. Pada kasus kepiting ia berperan sebagai biostimulator untuk merangsang ovarium agar lebih banyak memproduksi telur. Caranya dengan menyinari titik-titik tertentu di sekitar pangkal kaki depan (daerah ovarium) dan sekeliling karapas atau cangkang. Betina yang layak dilaser minimal berbobot 200 g/ekor.
Kekuatan sinar tak lebih dari 15 mwatt dengan lama penyinaran 15 detik/titik (energi: 0,15 joule). Dosis itu sudah cukup untuk merangsang ovarium memproduksi telur lebih banyak. ‘Dosis sinar kurang dari 0,1 joule, tidak cukup merangsang ovarium. Namun, lebih dari 0,5 joule akan menghambat fungsi ovarium,’ ujar ketua Kelompok Studi IPTEK Akupuntur Veteriner itu. Penyinaran dilakukan 3 hari sekali selama 21 hari.
Hasil dari beberapa eksperimen diperoleh jumlah telur yang dihasilkan betina dewasa mencapai 8-juta-12-juta butir. Dengan jumlah sebanyak itu betina tetap mampu berjalan dan posisi telur tetap saling melekat. ‘Ukuran telur sama seperti tanpa perlakuan,’ ujar Tatang.
Tak hanya menggenjot jumlah telur, teknik laser juga mempercepat umur kematangan telur, sekaligus meningkatkan persentasenya. Pada kepiting kontrol (tanpa perlakuan, red) stadia 2 kematangan telur (kepiting siap dikawinkan) terjadi pada hari ke-18, dengan persentase telur yang mengalami kematangan sebanyak 30%. Sedangkan kepiting yang diberi laserpuntur mengalami kematangan telur stadia 2 pada hari ke-9 dengan persentase 65%.
Kombinasi
Berdasarkan penelitian itu, peningkatan produktivitas kepiting bakau diperoleh dengan mengkombinasikan laserpuntur dan teknik inhibisi tangkai mata, yaitu menghambat kerja organ yang terdapat di dalamnya. Caranya, tangkai mata kepiting diberi penyinaran dengan daya tembus sinar 0,5-5 cm sebanyak 0,5 joule. ‘Penyinaran hanya dilakukan satu kali selama 40 detik’ kata Tatang.
Mengapa batang mata perlu dilaser? Pada tangkai mata terdapat organ X, penghasil hormon penghambat gonad (GIH) dan organ Y, perangsang gonad (GSH). Dengan penyinaran, organ X diharapkan tidak lagi bekerja menghambat organ Y yang ujung-ujungnya memacu produksi GSH. ‘Dengan cara itu proses pembentukan telur-vitelogenesis-lebih banyak,’ tambah doktor Biologi dari InstitutPertanian Bogor itu.
Menurut pakar crustacea Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Maros, Sulawesi Selatan, Ir Sulaeman M Fil, teknik laserpuntur pada kepiting tergolong baru. ‘Selama ini pembibitan di Balai pun masih bersifat alami,’ katanya. Hasil produksi telur yang mencapai di atas 5-juta butir bukan mustahil. ‘Tapi tergantung bobot tubuh dan daya dukung lingkungan di habitatnya, termasuk pakan yang tersedia,’ ujar alumnus University of Bergen Norwegia itu.
Praktisi crustacea lain, Dr Yushinta Fujaya Muskar, menyampaikan hal senada. ‘Produksi telur secara alami bisa lebih dari 5-juta butir setiap periode kawin,’ kata dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, itu. Namun, laserpuntur tetap dianggap punya banyak kelebihan, ‘Rangsangan pembentukan telur dapat diatur sesuka kita. Di alam, secara alami kepiting hanya 2 kali bertelur dalam setahun,’ tambahnya.
Di luar manfaatnya sebagai alternatif penyediaan sumber bibit, teknik laserpuntur dapat memberi keuntungan lain, terutama pada peternak pembesar. Selain dapat diproduksi kepiting soka (karapas lunak) secara masal, juga kepiting ‘gendong telur’ yang harga jualnya mahal. ‘Harga kepiting bertelur bisa mencapai Rp40.000-Rp150.000/kg,’ kata Hengky. Bandingkan tanpa telur Rp25.000-Rp35.000/kg. Nah, dengan laserpuntur Anda setiap saat dapat menikmati lezatnya kepiting soka dan kepiting ‘gendong’ telur karena betina dapat dirangsang berproduksi di luar musim. (Tri Susanti/Peliput:Ari Chaidir)
