Untuk menuntaskan hobi yang ditekuni sejak 2000, kolektor di Jakarta Barat itu menggelontorkan lebih dari Rp100-juta dari pundi-pundinya.
Superred di kolam berkedalaman 1,5 m dan ditutup jala pengaman itu hanya sebagian koleksi Arief Gautama. Tiga belas superred lain berukuran 25—30 cm ditaruh di beberapa akuarium di pojok sebelah kiri halaman dan samping teras rumah. Total jenderal ada 60 superred yang dikoleksi. Setengah dari populasi ikan kahyangan itu dipelihara di halaman belakang kantor di 2 kolam berukuran masing-masing 4 m x 5 m.
Selain superred kelahiran Jakarta 32 tahun itu mengoleksi belasan jenis arwana banjar, silver, golden, dan irian berukuran 20—100 cm. Ikan-ikan itu dibeli dari para penangkar di Kalimantan dan Riau. Koleksi siluk bersertifikat itu bertambah 3 bulan lalu dengan kehadiran 2 golden malaysia berukuran 20 cm bercorak biru.
Rp1,5-juta
Siluk-siluk berukuran 20—30 cm ditaruh di akuarium besar berukuran 2,5 m x 1 m x 1,5 m. Sisanya di kolam 3,5 m x 5 m berkedalaman 2 m. Di kolam yang berjarak 25 m dari kolam pertama itu mereka disatukan dengan koi dan lou han.
Lantaran nilai koleksinya cukup mahal, perawatan benar-benar diperhatikan. Agar kualitas air terjaga, setiap kolam dilengkapi filter biologi mirip pemeliharaan koi. Air dialirkan lewat pipa, lalu disaring zeolit dan bioball yang ditempatkan dalam masing-masing 6 kotak penyekat 0,5 m x 0,5 m. Air kemudian dipompa masuk ke kolam lagi melalui air terjun buatan.
“Dengan filter seperti ini air tetap bening sehingga arwana di dasar tetap tampak jelas,”ujar Arief yang mengantongi izin penangkaran nonkomersial. Untuk mengadopsi filter koi itu puluhan juta rupiah mesti dirogoh dalam-dalam.
Cara ayah 2 putra itu menikmati siluk memang di luar kelaziman. Sejatinya siluk-siluk itu dinikmati di akurarium. Cara itu semata-mata ditempuh untuk menanti kesenangan lain yakni saat melempar pakan. “Ada rasa mendebarkan ketika melihat mereka berebut pakan,” ujarnya. Untuk biaya pakan seluruh koleksi itu, Arief mengucurkan dana segar Rp1,5-juta per 3 hari. Biaya itu antara lain untuk memborong 2.000 anak kodok, 1.000 jangkrik, dan 5 kg ulat hongkong.
Tren di mana-mana
Arief hanyalah satu dari sekian banyak orang yang menggandrungi arwana. Penggemar lain ialah Chandra Wijaya, pebulutangkis ganda nasional. Setelah sempat terpikat lou han, sejak 2003 kelahiran Cirebon 1974 itu memajang 2 superred berukuran 35 cm di akuarium berukuran 1,5 m x 1 m di rumahnya. “Pada dasarnya saya suka semua ikan hias. Yang ramai pasti saya pelihara,” ujar ayah 2 putri itu.
Hasil lacakan Trubus ke sentra-sentra ikan hias di Jakarta dan Surabaya menunjukkan peningkatan penjualan arwana. Hampir setengah kios dan toko ikan hias di sana memajang arwana mulai dari harga jutaan rupiah per ekor hingga puluhan ribu rupiah seperti superred, golden red, banjar, silver, dan irian.
Menurut Ferry Haryanto, SE, pemilik Dunia Aquarium di Taman Gapura, Surabaya, selama Januari 2004 ia hanya menjual 1—2 arwana silver yang berharga Rp85.000—Rp90.000 per ekor. Memasuki Febuari—Maret 2004 penjualan meningkat 8—10 ekor per bulan. Silver tetap mendominasi penjualan sekitar 70%. Sisanya, golden red dan superred berukuran 15 cm yang dijual di atas Rp3- juta per ekor.
Selain eceran, Ferry menjual partai untuk arwana irian dan silver. Sejak Febuari lalu misalnya setiap bulan 50—100 ekor irian campur silver berukuran 10 cm laris manis diborong pedagang Cirebon dan Cepu. Harga irian Rp60.000—Rp65.000; silver Rp45.000.
Di pasar Irian Barat (Irba), Surabaya, di hari-hari malam tertentu terjadi peningkatan penjualan. Menurut Dian Junaedi, pedagang di Irba Baru, setiap malam minggu ia mampu melepas 25—50 ekor beragam jenis dengan ukuran 10—15 cm. Itu artinya meningkat 10—15% daripada hari biasa.
Jenis yang laku pancawarna Rp75.000—Rp100.000 per ekor; silver brazil dan irian Rp65.000—Rp100.000; banjar red dan banjar kuning Rp800.000—Rp900.000; serta golden pinu Rp325.000. “Permintaan partai untuk pancawarna dan irian dari luar daerah seperti Banjarmasin dan Makassar sudah naik. Semula 50 ekor kini mencapai 200 ekor per bulan,” ujarnya.
Pemandangan serupa tampak pula di sentra ikan hias di Jakarta seperti Cempaka Mas dan Plaza Maspion. Menurut A Hui, pemilik Arawane Aquarium di Plaza Maspion, selama Mei 2004 ia menjual 30 arwana. Jumlah itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Yang berbeda hanya harga. Ayah 1 putri yang khusus menjual siluk “high class” seperti superred dan golden red itu menggambarkan pada 2003 seekor superred kelas A berukuran 18 cm dihargai Rp5,5-juta per ekor. Namun, kini nilainya melesat mencapai Rp7,5- juta per ekor.
Alumnus bahasa mandarin, Koi Yek Pao di Taiwan itu, menduga kenaikan harga sejak 4 bulan silam akibat naiknya permintaan pasar di Cina. “Sekarang harga lokal mengikuti harga ekspor. Malah belakangan banyak pedagang menahan ikan. Mereka prediksi harga ikan bakal naik lagi,” ujar kelahiran Jakarta 24 tahun silam. Untuk itu ia kini mencadangkan 40 superred pilihan berukuran 18—35 cm di kolam di Cengkareng, Jakarta Barat.
Terbesar harga murah
“Harga arwana sekarang ini memang sangat menggiurkan,” ujar Andre Andrianto. Meski mengaku hobi, sejak awal tahun 2004 mantan aktor sinetron laga Wiro Sableng itu rela mencemplungkan Rp1-miliar untuk memperoleh kuota pembelian langsung dari penangkar di Riau. Meski tak tentu ada setiap bulan Andre menerima kiriman masing-masing 50 superred, 50 golden red, dan 20 golden malaysia berukuran minimal 10 cm. Begitu tiba di Jakarta seluruhnya ludes dalam sekejap. Padahal ia sudah mematok harga tinggi US$210 per ekor untuk superred ukuran 10 cm misalnya. “Sekarang ini pembeli ada tapi barang ngga ada,” lanjutnya.
Namun diakui para pedagang segmen pasar terbesar ada pada arwana berharga puluhan ribu rupiah seperti irian, silver, dan brazil. “Hobiis pemula lebih memilih jenis-jenis itu lantaran harganya terjangkau. Kalau mati pun tidak terlalu menyesal. Jika memilih superred, dicari yang berukuran kecil. Alasannya supaya puas melihat ikan tumbuh dari kecil hingga besar,” ujar Ferry.
Buktinya setiap bulan Jongky di Tangerang mampu menjual ribuan arwana brazil berukuran rata-rata 15 cm. “Jenis lain seperti superred dan golden terjual sedikit karena harganya mahal,” ujarpemilik Aquanesia itu. Hal senada dialami oleh Johan dari Meng Aquarium di Manggadua, Jakarta. Pasokan 5.000 irian ludes diborong dalam seminggu. Harganya untuk ukuran 15—18 cm Rp56.000 per ekor; < 12 cm, Rp45.000 per ekor. “Yang beli kebanyakan pedagang ikan hias juga,” tutur Johan.
Sayangnya keberadaan ikan kahyangan murah itu musiman. Jenis irian misalnya di habitat aslinya di sungaisungai di Kabupaten Merauke, Papua, hanya dapat dipanen pada akhir dan awal tahun. Data dari Balai Karantina Ikan Bandara Soekarno Hatta mencatat ketika masa panen tiba pada awal 2004 tidak kurang dari 260.000 Schlerophagus jardini berukuran 10—15 cm membanjiri pasar Jakarta.
Ramai penangkaran
Kurangnya pasokan beberapa jenis siluk seperti superred, golden red, golden malaysia, dan irian mendorong bermunculan penangkaran baru. Henry Meng, misalnya, sejak November 2003 sudah berinvestasi Rp3-miliar untuk membangun farm di Riau. Dua belas kolam beraneka ukuran, 30 m x 6 m; 20 m x 60 m; dan 12 m x 40 m, itu kini berisi indukan superred, golden red, irian, dan red. Pemilik Meng Arwana Center diJakarta yang mengantongi izinpenangkaran sejak 2002 itu berencana melepas produksi perdana pada Juni 2004.
Jalan serupa dilakukan Jap Khiat Bun di Bogor dan Heri Johan di Bekasi sejak setahun silam. Jap Khiat Bun yang mengantongi izin penangkaran pada 2003 sudah membangun kolam raksasa 20 m x 15 m berkedalaman 5 m. Kolam itu melengkapi kolam lain seluas 200 m2 yang dihuni 60 induk superred. Untuk melengkapi sarana dan prasarana di atas lahan 2.000 m2 itu Rp1,5-miliar sudah dikucurkan. “Kami pilih superred, golden malaysia, dan irian untuk ditangkarkan karena permintaannya bagus,” ujar eksportir ikan hias itu. Pada 9 Mei lalu, hati Jap Khiat Bun berbunga-bunga setelah sepasang superred menelurkan 28 burayak.
Menjamurnya penangkaran juga tampak di sentra lama seperti di Kalimantan Barat. Menurut Puji S. Pujianto, kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, di Bumi Khatulistiwa itu semenjak awal 2003 jumlah penangkar melonjak hingga 30% karena permintaan yang terus meningkat. “Padahal pada 2002 baru ada sekitar 25 penangkar terdaftar,” ujarnya. (Dian Adijaya S/Peliput: Nyuwan SB, Pupu Mar’fuah, dan Destika Cahyana Putra)
