Tanpa ragu ia menginjak sebuah cabang sebagai tempat bertumpu. Tangan kirinya menggapai buah incarannya, sementara tangan kanan segera memotong tangkai buah itu.
Dan… astaga, monthong berbobot 4 kg itu dilempar ke arah seorang pria separo baya yang sejak tadi mengamati gerak-geriknya dari bawah pohon. Begitu monthong itu dalam jangkauan tangannya yang bersarung tebal, sang wanita segera mengayunkan karung untuk menangkap durian itu. Hep… monthong itupun selamat sampai di bawah tanpa membentur tanah sedikit pun.
Itulah salah satu atraksi panen durian ala Th ailand yang disaksikan para peserta wisata agro Trubus bulan lalu. “Berani banget, nggak takut terluka,” kata Sri Listyowati, peserta dari Jakarta, sambil mengerutkan dahi. Suphattra Land, tempat atraksi itu, adalah sebuah kebun agrowisata khusus buah unggulan Th ailand. Durian, manggis, rambutan mendominasi kebun. Kebun yang terletak di Provinsi Rayong itu bagaikan tempat yang wajib dikunjungi. Buktinya, ada ratusan turis dari Korea dan Jepang sedang sibuk menikmati pesta buah gratis ketika rombongan Trubus tiba di sana.
Usai menyantap durian gratis di Suphattra Land, rombongan meluncur ke Charoen Phirawat Plantation di Kabupaten Klaeng. Letaknya sekitar 45 menit dari Rayong ke arah timur. Kebun seluas 160 ha itu berisi buah naga, lengkeng, jambu air, belimbing, dan man g g i s . Yang istimewa, durian berumur puluhan tahun sosoknya masih tetap pendek, cuma 4—5 m. Itu lantaran rajinnya pengelola melakukan pemangkasan pucuk sehingga ketinggian pohon tetap terjaga. Sama seperti di tempat lain, di kebun itu peserta disuguhi meja yang sarat durian, manggis, dan jambu air. Semua ludes disantap!
Borong tanaman
Esok harinya giliran penggemar tanaman hias yang dimanjakan. Para peserta diajak ke Nabanant Plants Nursery di Provinsi Pathumthani. Di sana mereka melihat dengan mata kepala sendiri warna-warni adenium di gudangnya. Harap mafh um, dari kebun milik Anant Kulchaiwatna itu puluhan ribu adenium dikirim ke Singapura, Indonesia, dan Malaysia. Dua pekan sebelum peserta tur bertandang, Anant baru saja mengirimkan 20.000 adenium berbagai ukuran ke Indonesia.
Di nurseri itu peserta melihat banyak adenium jenis baru yang belum ada di tanahair. Yang menggelikan, di Nabanant nama adenium seperti harry potter, peterpan juga cukup populer. Musababnya, beberapa importir di Indonesia sudah banyak yang balik mengekspor adenium Taiwan ke Th ailand. Walau begitu, tetap saja beberapa peserta memborong adenium yang harganya mencapai ribuan baht.
Masih di Pathumthani kami berkunjung ke Unyamanee Garden, salah satu gudang aglaonema di Th ailand. Lagi-lagi di kebun milik Usa Wongsomboon itu peserta terbelalak menyaksikan puluhan aglaonema baru berharga mahal. Bayangkan, sebuah aglaonema merah berukuran kurang dari sejengkal dihargai 20.000 Baht setara Rp5-juta. “Saya baru percaya, Trubus nggak bohong kalau harga aglaonema mahal. Di gudangnya saja harga sudah selangit,” kata Indrayani. Toh, harga mahal tak menjadi halangan buat para peserta untuk memboyong sri rejeki yang menarik hati ke tanahair.
Dari 2 nurseri elit itu, peserta menuju 2 sentra penjualan tanaman hias di Nakorn Nayork dan Chatuchak yang harganya jauh lebih miring. Seperti diduga, acara borongborong tanaman jauh lebih seru. Tak ada satupun peserta yang pulang ke hotel tanpa tentengan tanaman di tangannya. Tinggal pegawai hotel yang geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah-polah peserta Agro Tour Th ailand. Penasaran dengan mereka? Berikut rekaman foto perjalanannya. (Destika Cahyana)
