Thursday, January 29, 2026

Henk van Staalduinen Pada Cocopeat Belanda Bersandar

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Banyak alasan mengapa cocopeat jadi pilihan. Pertama cocopeat adalah media tanam yang bisa diperbaharui. Maksudnya cocopeat diambil dari bahan baku berupa sabut kelapa. Ketersediaan kelapa – yang sudah lazim dibudidayakan secara komersial di negara-negara tropis – melimpah. Ini cocok menggantikan peat ‘asli’ – berbahan hasil dekomposisi materi tanaman seperti dari genus Sphagnum – yang kian sulit didapat.

Yang penting tentu saja, penggunaan cocopeat memberi banyak keuntungan pada proses budidaya. Media tanam itu menyimpan air dengan baik sehingga bisa memperpanjang durasi penyiraman. Itu sekaligus bisa mengurangi frekuensi pemupukan – karena larutan pupuk lebih lama tersimpan di dalam media.

Sifat sebagai penyimpan air tidak hilang meski media telanjur benar-benar kering. Cocopeat langsung menyimpan air kembali begitu diairi. Beda dengan peat biasa yang tidak bisa lagi menyimpan air jika telanjur kering. Cocopeat pun lebih awet dipakai – karena lebih lama lapuk – ketimbang peat moss misalnya. Pantas bila kebutuhan cocopeat di Belanda dari tahun ke tahun terus meningkat, rata-rata 20%.

Kontrol ketat

Kebutuhan itu dipasok oleh produsen cocopeat berbasis di negeri Bunga Tulip sendiri. Di sana setiap perusahaan penghasil cocopeat mesti mendapat pengakuan dari lembaga akreditasi yang mengontrol kualitas dan efektivitas cocopeat yang dihasilkan. Pengakuan dari lembaga akreditasi menunjukkan kualitas cocopeat yang dihasilkan berlaku di seluruh dunia. Ini penting karena pasar cocopeat dari Belanda adalah Eropa dan negara-negara di luar Eropa.

Untuk memastikan tidak ada yang membandel, setiap 2 bulan perusahaan pemegang sertifikat dipantau pengawas. Perusahaan juga mesti mengantongi sertifikasi dari European Certification body for Agricultural Sector (ECAS). Pengakuan dari lembaga-lembaga itu mempengaruhi kepercayaan para konsumen.

Salah satu produsen cocopeat terbesar adalah perusahaan milik Bas van Buuren (BVB) di Maasland, Rotterdam. BVB menghasilkan 6 komposisi utama media berbasis cocopeat yang cocok untuk berbagai tanaman.

Misal media terdiri dari 100% cocopeat untuk penanaman gerbera, mawar, carnation, dan beragam tanaman sayuran. Sementara lili, misalnya menggunakan media berkomposisi 50% cocopeat dan 50% tanah. Komposisi media 50% cocopeat dan 50% peat moss diperuntukkan pada begonia. Sementara pekebun dendrobium memakai media terdiri dari campuran 80% cocopeat dan 20% cocopeat kasar – masih berserat. Namun, pada prinsipnya setiap pekebun bisa memesan komposisi media yang dibutuhkan.

Beragam komposisi media – selain karena kecocokan dengan jenis tanaman – juga terkait dengan penghematan biaya di tingkat pekebun. Media 100% cocopeat tentu saja lebih mahal ketimbang yang campuran.

Sebanyak 50% dari total volume produksi BVB per tahun adalah untuk pasar ekspor ke minimal 50 negara di Eropa dan luar Eropa. Dengan beragamnya kebutuhan konsumen, BVB melengkapi pabriknya dengan laboratorium modern. Di sana setiap pengiriman cocopeat dicek apakah sesuai dengan kebutuhan pembeli. Maklum kesalahan komposisi media bisa menyebabkan kegagalan budidaya. Sistem komputerisasi yang digunakan di BVB sanggup mengatur ratusan komposisi media disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

Cocopeat produksi BVB – juga perusahaan lain – berasal dari bahan baku berupa serat sabut kelapa alias cocofiber atau cocopeat setengah jadi. Semua jenis kelapa sabutnya bisa diolah menjadi cocopeat. Cocofiber diimpor dari negara-negara tropis penghasil kelapa. Sabut dikirim dalam bentuk kering atau hasil pengepresan di dalam kontainer-kontainer bermuatan 40 feet. Setiap tahun minimal 1.500 kontainer serat sabut kelapa masuk ke Belanda. Mereka berasal dari India, Sri Lanka, Vietnam, Ghana, Pantai Gading, Republik Dominika, Meksiko, dan Brazil. Volume impor meningkat terus dari tahun ke tahun.

Syarat cocofiber yang layak kirim sangat ketat. Serat sabut kelapa bebas gulma, nematode, dan patogen lain, hingga batu dan pasir. Intinya cocofiber mesti steril. Makanya di negara asal, serat sabut kelapa diolah secara mekanis maupun kimiawi. Sabut dipotong-potong dan dirajang. Lalu kandungan Na dan K kompleks di dalam sabut ‘diubah’ secara kimia menjadi Ca dan Mg.

Setiap tahun perwakilan dari perusahaan produsen cocopeat mengontrol kebun di negara produsen kelapa sekaligus mengecek perusahaan setempat yang mengolah sabut untuk pengiriman ke Belanda. Proses perlakuan sebelum ekspor mesti sesuai dengan standar prosedur yang dikeluarkan oleh ECAS. Setiba di Belanda dilakukan pengecekan ulang untuk memastikan serat sabut kelapa bebas cemaran.

Indonesia sebagai penghasil kelapa dunia tentu berpeluang untuk mengekspor serat sabut kelapa ke Belanda. Tentu saja yang perlu diingat persyaratannya sangat tinggi dan kompetisi dengan produsen lain sangat ketat. Untuk itu perlu dilakukan studi untuk melihat kualitas yang dibutuhkan importir di Belanda. Calon investor juga perlu menghitung biaya produksi dan biaya transportasi dibanding negara produsen lain.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Cara Mengatasi Philodendron Layu, Busuk Akar, dan Daun Menguning

Philodendron termasuk tanaman yang kuat. Meski beitu tanda seperti layu, busuk akar, atau daun menguning biasanya mengindikasikan gangguan fisiologis...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img