Monday, August 8, 2022

Mutiara, Itohnya Poncokusumo

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kejadian 2 tahun silam itu momen pertama Afandy mencicip itoh. Varietas lengkeng terbaik asal Thailand itu tak serta membuatnya memuji. ‘Kalau yang seperti ini, Indonesia juga punya,’ kata Afandy pada Eric Lim, konsultan buah asal Malaysia yang turut menemaninya. Itoh disebut terbaik karena daging buah kering, tebal, dan manis.

Sebetulnya ada 2 varietas unggul lain dari Thailand: diamond river dan pingpong. Sayang diamond river yang mudah berbuah punya kelemahan: daging buah becek. Sedangkan pingpong yang berukuran besar ternyata berbiji besar dan produktivitas rendah. ‘Bila kualitas mutiara setara itoh, berarti dia di atas pingpong dan diamond river,’ kata Afandy. Ia lantas menceritakan keunggulan mutiara pada Dr Ir Moh Reza Tirtawinata MS, pakar buah di Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.

Manis dan kering

Reza pun tertarik mendengar kabar ada lengkeng lokal calon pesaing itoh. Saat mutiara panen raya pada Februari 2009 ia langsung terbang ke Malang. Di sana Reza diantar Untung Marsudi – ketua Asosiasi Pekebun Lengkeng Kabupaten Malang – menuju pohon lengkeng mutiara berumur

50 tahun milik Suadi di Desa Puthuk, Kecamatan Poncokusumo. Tajuk pohon setinggi 18 m dengan lingkar batang 2 pelukan orang dewasa itu dipenuhi dompolan buah. Satu dompol bobotnya bisa 800 – 1.300 g.

Buah pun dipetik lalu dicicip. Benar saja daging buah kering dan manis. Reza lantas mengeluarkan refraktometer – alat pengukur kemanisan – untuk menguji kadar kemanisan mutiara. Garis penanda menunjuk angka 23o briks. Itu setara tingkat kemanisan itoh. Pun tingkat kekeringan dan bagian buah yang dapat dikonsumsi, 60%. Bedanya ukuran mutiara 20% lebih kecil dibanding itoh.

Mutiara juga punya kelebihan lain. Ia beraroma khas. ‘Jadi tak hanya sekadar manis seperti itoh,’ kata Reza. Menurut Untung, aroma itu makin kuat setelah lengkeng disimpan 2 – 3 hari pascapanen. Rasa dan aroma wanginya optimal setelah disimpan 2 hari.

Mutiara juga punya karakter unik. Sepertiga buahnya berukuran kecil, nyaris tanpa biji karena ukuran biji hanya 1/3 dari normal. Itu bisa menjadi kelemahan sekaligus kelebihan mutiara. Disebut kelemahan karena ukuran buah tak seragam. Toh, buah dapat diseragamkan dengan penjarangan buah layaknya itoh. Sebaliknya, karakter itu menjadi kelebihan mutiara karena memiliki potensi genetik tanpa biji. ‘Bisa saja dicetak mutiara berukuran mini nyaris tanpa biji dengan penyemprotan hormon auksin dan giberelin,’ kata Reza.

Belum teruji

Meski mutiara punya segudang keunggulan. Namun terlalu dini untuk membandingkan mutiara dan itoh sebagai varietas yang direkomendasikan secara komersial. Menurut Reza, itoh terbukti memiliki daya adaptasi luas sampai ke dataran rendah. Sedangkan mutiara baru teruji keunggulannya di Poncokusumo yang berketinggian 600 – 1.200 dpl. Di sana mutiara genjah dengan produktivitas tinggi setara dengan itoh. Pada umur 2,5 tahun, pohon asal bibit cangkokan yang ditanam Untung mampu berbuah setelah dilakukan perangsangan. Saat itu Untung bisa memanen 17 kg lengkeng mutiara.

Penanaman mutiara di dataran rendah baru dimulai 1,5 tahun lalu. Sebanyak 300 bibit mutiara ditanam Afandy di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, yang berketinggian 300 m dpl dan 2 pohon di Taman Wisata Mekarsari berketinggian 70 m dpl. Produktivitas belum terlihat lantaran tanaman belum berbuah. Satu-satunya pohon yang berbuah pada umur 1,5 tahun adalah mutiara milik Afandy yang dipacu dengan perangsang buah. Kualitas buah persis yang ditanam di Poncokusumo. ‘Itu hanya ujicoba awal, uji produktivitasnya baru bisa dilakukan saat umur tanaman sekitar 3 tahun,’ kata Afandy.

Perangsangan buah seperti pada itoh memang mutlak dilakukan bagi mutiara yang ditanam di dataran rendah. Itu karena tetua dari keduanya lengkeng varietas dataran tinggi. Berbeda dengan diamond river dan pingpong – yang merupakan lengkeng dataran rendah sehingga tidak perlu dirangsang. Atau lengkeng-lengkeng lokal yang telah beradaptasi di dataran rendah. Contoh yang disebut terakhir ditunjukkan lengkeng ambarawa milik Husna Yasin yang berbuah lebat di Serang, Banten – berketinggian 100 m dpl.

Menurut Sobir Phd dari Pusat Kajian Buah Tropika Institut Pertanian Bogor, lengkeng milik Husna yang berumur 8 tahun itu mengalami penyesuaian pola berbuah ala tanaman buah tropis. Artinya ia bisa berbuah pada kondisi daerah dengan bulan kering yang jelas. Namun, kejadian itu jarang. Tak ada jaminan lengkeng lokal termasuk mutiara bisa melakukan adaptasi serupa.

Dikebunkan

Keunggulan mutiara diakui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur dan Asosiasi Pekebun Lengkeng Poncokusumo yang telah menyeleksinya 2 tahun lalu. Kedua lembaga itu mengambil 30 sampel dari 10.000 pohon lengkeng di kecamatan itu. ‘Mutiara dianggap terbaik dan akan diajukan dalam sidang pelepasan varietas unggul,’ kata Ir Baswarsiati MS, peneliti BPTPJawa Timur.

Kini, Untung bersama pekebun lainnya di Poncokusumo mulai memperbanyak mutiara dengan cangkokan. Saat ini sudah ada 2.000 bibit. Sebanyak 225 di antaranya dikebunkan di lahan seluas 1,5 ha di Poncokusumo. Boleh jadi di masa depan, mutiara benar-benar jadi pesaing kuat itoh asal Thailand. (Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img