Thursday, January 29, 2026

Kisah Para Pemberi Nafkah

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Dibanyak daerah, menyimpan padi di lumbung kian ditinggalkan. Di Bali, misalnya, padi ditebas di sawah, tidak dibawa pulangPohon uru bahan baku dinding lumbungMasyarakat Tanatoraja memanafaatkan pohon banga Pigafettia filaris sebagai tiang lumbungBegitulah kepercayaan masyarakat Tanatoraja yang selalu membangun lumbung di depan rumah. Kedua bangunan itu – antara lumbung dan rumah – ibarat 2 sejoli tak terpisahkan. Bagai peribahasa ada gula ada semut, maka di Kabupaten Tanatoraja, Sulawesi Selatan, ada rumah ada alang alias lumbung. ‘Masyarakat Toraja percaya pasangan itu (rumah – lumbung, red) seperti suami dan istri, suaminya adalah alang,’ ujar warga Ketekesu, Kabupaten Tanatoraja, Ye Sampe.

Pantas ketika wartawan Trubus menyusuri beberapa desa di Tanatoraja, hampir di setiap depan rumah berdiri alang alias lumbung padi. Jumlahnya beragam, ada yang 1, tetapi ada pula yang 8. Di depan rumah milik Ir Pong Rekun di Desa Tallunglipu, Kecamatan Tallunglipu, Kabupaten Tanatoraja, misalnya, terdapat 8 lumbung padi. Bentuk lumbung mirip tongkonan alias rumah khas Toraja, tetapi berukuran lebih kecil. Walau kecil, biaya pembuatan lumbung relatif mahal. Warga Desa Parinding, Kecamatan Sesean, Kabupaten Tanatoraja, Limbong, mengatakan biaya untuk membuat sebuah lumbung berukuran 2 m x 4 m mencapai Rp40-juta.

Untuk membuat alang, Limbong memanfaatkan kayu uru sebagai dinding. Ia mengatakan kayu uru Elmerellia sp cukup  awet dan tak terlampau keras. Itu memudahkan pengukir bekerja. Seperti dinding tongkonan, dinding lumbung juga berukir (baca boks: Ukir Satwa). Keruan saja ia telah mengawetkan kayu-kayu dengan memendamnya dalam lumpur di sawah atau sungai selama 2 tahun.

Menurut Prof Dr Yusuf, ahli kayu dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, perendaman kayu dalam lumpur memang cara ampuh mengawetkan kayu. Dengan merendam dalam lumpur, maka pati dalam vakuola berkurang.

Posisi rumah Limbong menghadap utara. Begitu juga dengan lumbung padi. Itu adalah kelaziman rumah-lumbung di daerah yang pada 2010 mekar menjadi 2 kabupaten, Tanatoraja dan Toraja Utara itu. ‘Kehidupan mulai dari utara. Sungai Sa’dan mengalir dari utara, air menjadi sumber kehidupan,’ kata Ye Sampe. Sungai Sa’dan sepanjang 182 km dan lebar 80 m terdiri atas 294 anak sungai berhulu di Minanga, Kabupaten Toraja Utara. Sampe menjelaskan bila masyarakat melanggar, mereka percaya anggota keluarga bakal sakit-sakitan. Olehkarena itu mereka patuh pada aturan tak tertulis itu.

Empat atau 6 tiang alang berbentuk silindris itu berasal dari kayu banga. Dari sebuah pohon yang lurus menjulang, dapat dijadikan 2 tiang alang. Masyarakat Tanatoraja memanfaatkan pohon banga Pigafettia filaris sebagai tiang-tiang alang. Masyarakat Manado menyebut anggota keluarga Arecaceae itu wanga, hakur (Seram), dan sagu hutan (Maluku). Daun muda bangan Pigafettia filaris bermanfaat sebagai bahan baku benang halus untuk menenun pakaian. Masyarakat Seram memotong daun muda, merendam dalam air panas, membuang lidi-lidi, dan mereka raut hingga tersisa kulit ari bagian atas sebagai benang halus.

Ahli botani alumnus University of Birmingham, Inggris, Gregori Garnadi Hambali, mengatakan masyarakat juga memanfaatkan kayu banga seperti pipa untuk mengalirkan air. Harap mafhum, bagian tengah pohon banga memang berongga persis pipa. Rongga itu terbentuk secara alamiah ketika pohon menua sehingga produksi sagu menurun. Jika hendak mengambil sagu, idealnya panen sebelum banga berbunga. Setelah berbunga, menurut Gregori yang baru saja menerima anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa 2010, maka produksi sagu berkurang. Pohon memanfaatkan energi untuk pembungaan dan pembuahan.

Alang atau lumbung itu bukan sekadar bangunan penyimpan padi berkapasitas hingga 1 ton. Bagi masyarakat Tanatoraja alang juga berfungsi ganda, sebagai tempat menerima tamu agung dan musyawarah. Lima alang di depan rumah Lita, misalnya, penuh tamu ketika berlangsung upacara kematian ma’ badong pada sebuah siang 28 September 2010. Keluarga menyelenggarakan ritual itu untuk melepasBenyamin Biring (84 tahun) yang wafat pada Februari 2010.

Jika masyarakat Toraja memanfaatkan kayu banga, warga Dayak Uma Lekan’ di Desa Miaubaru, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, menggunakan kayu ulin sebagai tiang lepau parai atau lumbung padi. Di sana terdapat 2 jenis lepau parai, yakni berkaki 12 dan tunggal. Kaki-kaki itu tampak kokoh terbuat dari kayu ulin Eusideroxylon zwageri yang tahan lama karena antirayap. Namun, menurut Taufik Hidayat dari The Nature Concervancy, kini banyak masyarakat yang menyimpan padi di dalam rumah. ‘Lumbung di sana hanya simbol bahwa dulu kami pernah punya lumbung seperti itu,’ kata Taufik.

Wartawan Trubus memang hanya menemukan 2 lumbung di Miaubaru, sebuah lumbung berkaki 12, lumbung lain, berkaki tunggal. Dinding lumbung berukir itu terbuat dari kayu meranti atau kapur. Menurut ahli lumbung dari Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur, Simon Devung, di bawah lumbung berkaki 12 atau minimal 4, masyarakat menumbuk padi di lesung. Namun, kebiasaan itu kini mulai luntur sejak bermunculan penggilingan padi.

Sebaliknya suku Wehea (berarti rumput) di Nehas Liah Bing, Kutai Timur, hingga kini tetap merawat tradisi menumbuk padi di lesung. Menurut kepala suku Wehea, Ledjie Taq (dalam bahasa setempat berarti harimau), budaya na bayaq alias menumbuk padi itu terutama pada panen pertama. Setidaknya mereka menumbuk 3 ikat padi, mengolahnya menjadi penganan tertentu, dan membagikan kepada kerabat atau tetangga. ‘Olahan beras itu tak boleh ada campuran apa pun,

termasuk gula,’ kata Ledjie Taq.

Pada panen berikutnya mereka boleh menggilingkan padi. Dalam setahun, petani di Nehas Liah Bing hanya sekali menanam padi dan panen pada Januari – Maret. Sebagian petani di desa yang ditempuh selama 9 jam bermobil dari Samarinda itu menyimpan padi di peaplai atau lumbung. Peaplai yang lazimnya di belakang rumah itu tak begitu mencolok karena tanpa ukiran seperti halnya lumbung di Miaubaru. Waktu tempuh antara Miaubaru dan Nehas Liah Bing hanya 1,5 jam bermobil.

Masyarakat Bali mengenal gelebeg atau lumbung padi yang menggunakan kayu kelapa sebagai tiang-tiang penyangga. Sedangkan dinding terbuat dari anyaman bambu atau kayu. Di Bali gelebeg bukan sekadar tempat menyimpan padi, tetapi juga simbol status. ‘Semakin besar ukuran lumbung, semakin kaya pemiliknya,’ kata peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Bali, Ir Anak Agung Ngurah Bagus Kamandalu MSi.

Sebelum memasukkan padi ke dalam gelebeg, petani seperti I Nengah Suwarsa di Penebel, Kabupaten Tabanan, menyelenggarakan upacara mantenin. ‘Pada intinya sebagai tanda syukur karena berhasil panen,’ kata alumnus Universitas Udayana itu. Upacara serupa juga terdapat di Jawa Barat dan Banten. Masyarakat Baduy di Provinsi Banten memang teguh memegang tradisi, termasuk pendirian leuit atau lumbung padi. Menurut peneliti lumbung dari Universitas Padjadjaran, Prof Dr Johan Iskandar, sebelum menikah, pasangan mempelai merancang leuit.

Lokasi pendirian leuit di pinggiran kampung, bagian utara, dekat sungai, atau perbatasan kampung. Doktor Antropologi Lingkungan alumnus Universitas Kent, Canterburry, Inggris, itu mengatakan masyarakat Baduy mewajibkan tiga per empat hasil panen harus tersimpan di leuit. Selebihnya, seperempat untuk upacara. ‘Padi tidak boleh dijual,’ kata Johan, ahli etnobiologi yang meriset lumbung di Baduy. Dengan demikian mereka tak pernah kekurangan pangan.

Johan mengatakan masyarakat Baduy mewariskan lumbung kepada keluarga atau kerabat. Jika seseorang meninggal dunia, maka isi lumbung dibagi 3, masing-masing untuk istri atau suami, anak, dan upacara penguburan. Pada masyarakat Baduy lumbung terbukti menjaga ketahanan pangan. Selain itu lumbung juga berfungsi sosial karena menciptakan paguyuban bagi masyarakat. ‘Ketika paceklik, sebagian orang meminjam padi di lumbung yang akan dibayar saat panen. Istilahnya yarnen, bayar setelah panen. Itulah sebabnya untuk daerah terpencil harus ada lumbung,’ kata mantan peneliti pascapanen dan lumbung di Balai Penelitian Tanaman Padi, Prof Dr Agus Setyono MSi.

Badan Ketahanan Daerah Pangan Provinsi Jawa Barat mewujudkan program Lumbung Pangan Masyarakat pada 2006. Menurut kepala Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat, Ir Luki Rulyawan MS, pemerintah Provinsi Jawa Barat menyumbang Rp1,36 miliar untuk pembangunan lumbung di seantero provinsi seluas 34,8 km2 itu. Di provinsi yang bersemboyan gemah ripah repeh rapih (makmur dan rukun) itu kini terdapat 800 lumbung. ‘Program itu untuk mengantisipasi kerawanan pangan, terutama di daerah rentan pangan seperti di wilayah selatan yang jauh dari pusat perdagangan,’ kata Luki Rulyawan.

Meski berperan besar dalam menjaga ketahanan pangan, tetapi lumbung terancam punah. ‘Sembilan puluh persen petani di Bali menebaskan padi, mereka tak membawa pulang ke rumah,’ kata Kamandalu. Menurut Kamandalu pertanian kini terpinggirkan. Itu bukan hanya terjadi di Bali, tapi juga di seluruh Indonesia. ‘Anak-anak muda Bali lebih senang bekerja di kapal pesiar daripada di sawah berkubang lumpur,’ kata alumnus Fakultas Pertanian Universitas Udayana itu.

Gairah membangun lumbung di negeri agraris ini meredup tak segemerlap hasrat membangun mal dan pusat perbelanjaan yang kian menjamur. Akankah lumbung tinggal cerita? Di Tanatoraja mungkin tidak, sebab lumbung dan rumah merupakan 2 sejoli yang tak terpisahkan. Tanpa lumbung, rumah terasa senyap. Di mana ada tongkonan (rumah), di situ ada alang. Namun, di daerah lain, entahlah (Sardi Duryatmo/Peliput: Faiz Yajri)

Lumbung padi di Miaubaru, Kecamatan Kangbeng,  Kabupaten Kutai Timur

Di banyak sentra padi, budaya menumbuk kian luntur

Pohon uru bahan baku dinding lumbung

Dibanyak daerah, menyimpan padi di lumbung kian ditinggalkan. Di Bali, misalnya, padi ditebas di sawah, tidak dibawa pulang

Masyarakat Tanatoraja memanafaatkan pohon banga Pigafettia filaris sebagai tiang lumbung

Deretan alang atau lumbung milik keluarga Pong Rekun di Tanatoraja

Lumbung padi di Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali

Masyarakat Setulang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, membangun lumbung dalam sebuah kawasan

Di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, petani membangun lumbung di tepi sawah

Penyimpanan padi milik suku Naga di Tasikmalaya

Foto-foto: Sardi Duryatmo, Edy Amd, dan Dian Adijaya Susanto

Masyarakat Baduy mewajibkan tiga per empat hasil panen harus tersimpan di leuit. Selebihnya, seperempat untuk upacara. ‘Padi tidak boleh dijual,’ kata Prof Dr Johan Iskandar

 

Ukir Satwa

Dinding lumbung di Tanatoraja, Sulawesi Selatan, berhias beragam ukiran penuh warna. Sumber warna itu adalah sado, sejenis kapur khusus yang memberikan warna merah, kuning, dan putih yang mampu bertahan puluhan tahun. Para pengukir mengukir simbol-simbol tertentu seperti binatang, tumbuhan, dan benda-benda langit. Drs JS Sande dalam Toraja in Carving’s menyebutkan bahwa bentuk ukiran itu bermakna spesifik berkaitan dengan falsafah hidup orang Toraja sejak dulu. Jumlah ukiran Toraja terdiri atas 70-an jenis, beberapa di antaranya berupa binatang. (Sardi Duryatmo).

Asu

Anjing satwa setia dalam menjaga rumah. Manusia harus berhati jujur dan setia

Bai

Masyarakat Toraja lazim membudidayakan babi. Satwa yang mereka gunakan dalam beragam ritual seperti rambu soloq dan rambu tulaq. Ukiran itu mengingatkan agar masyarakt Toraja beternak babi untuk kesejahteraan

Darang

Darang atau narang berarti kuda, binatang yang sangat kuat dalam membawa beban. Harapan pemilik rumah agar dikaruniai kesehatan dan kekuatan

Korong

Korong atau burung bangau, pintar menangkap ikan dan senang berkawan. Makna ukiran, kita harus bekerja sama dan membutuhkan pihak lain

Kotteq

Kotteq berarti itik, satwa air yang bertelur mengikuti musim panen. Makna ukiran, dalam hidup dan pekerjaan, manusia harus bertanggung jawab

Tedong

Tedong berarti kerbau, satwa mulia dan termahal di mata masyarakat Toraja. Simbol agar rumpun keluarga memperoleh dan beternak kerbau

Artikel Terbaru

Kenapa Mangga Tidak Berbuah? Inilah Penyebab dan Solusinya

Mangga yang tidak berbuah umumnya dipengaruhi masalah fisiologi tanaman. Terutama ketidakseimbangan fase vegetatif dan generatif. Tanaman yang terlalu subur...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img