Wednesday, January 28, 2026

Berkat Karet

Rekomendasi
- Advertisement -

 

‘Kami tinggal di barak dalam kebun karet. Setiap orang harus merasa akrab dengan pohon-pohon yang ditakiknya,’ cerita kakek. Kebun yang dikelola kakek, semula kurang bagus, karena disia-siakan. Namun, setelah diperhatikan dan disayangi, Hevea brasiliensis itu pun meningkat produktivitasnya. ‘Pohon karet itu harus diperlakukan dengan halus, seperti kita memperlakukan perempuan,’ katanya.

Ibarat perempuan

Pendapat kakek sebenarnya tidak istimewa. Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, juga berpendapat serupa. ‘Pohon karet itu seperti wanita. Sebelum berusia 30 tahun, ramping dan subur luar biasa. Setelah itu, batangnya gembrot dan berkurang getahnya.’ Begitu kata Bung Karno dikutip oleh seorang sahabat saya ketika mengadakan penyuluhan kepada petani karet di Pulau Nias.

Sahabat saya itu seorang industriawan yang punya relasi dengan perdagangan karet dunia. Dia bisa melihat masa depan karet yang terang-benderang. Sedangkan saya, cucu sulung penyadap karet, harus melengkapinya dengan belakang sejarah, rasa syukur, dan penghargaan pada jasajasanya. Kita tahu Indonesia memiliki lahan karet terluas di dunia. Semua senang kalau harga karet meningkat terus pada masa-masa mendatang.

‘Karena konsumsi karet akan makin terus berkembang. Banyak peralatan yang tidak dapat diganti dengan karet sintetis maupun plastik,’ kata sahabat kita. Contohnya adalah roda pesawat terbang yang kami naiki, dari Jakarta ke Medan lalu disambung ke Gunung Sitoli. Ban pesawat, baik yang bermesin jet maupun yang memakai baling-baling, harus dibuat dengan karet alam murni.

Padahal, penerbangan semakin ramai. Jumlah pesawat bertambah banyak. Kebutuhan ban pesawat semakin gencar dari masa ke masa. Apa kata dunia kalau harga satu kilogram karet bisa menembus US$5 dolar? Apa kata warga Pulau Nias kalau harga karet rakyat kurang dari US$2, sedangkan di perkebunan Malaysia saja sudah US$3,75 per kilogram?

Pertemuan dengan para pekebun karet alam selalu mengharukan. Di tempat-tempat terpencil, harga getah mentah kurang dari Rp15.000 per kilogram. Itu pun pekebun harus mengangkut sendiri dengan sepeda motor yang meraung-raung melewati jalan setapak di hutan. Atau disetor ke gudang di dekat pelabuhan. Baunya tidak tertahankan, bisa ditolak atau tidak dikapalkan sehingga pekebun tidak mendapat uang sama sekali.

Pohon renta

Sebenarnya bukan hanya harga rendah, bau menyengat atau raungan sepeda motor yang menyakitkan. Proses mengumpulkan tetes demi tetes karet alam itu juga cukup makan hati. Di dusun Lasara, Kecamatan Hiliduho, sekitar 17 km dari Gunung Sitoli, kami bertemu dengan pekebun karet tradisional. Mereka mewarisi pohon-pohon tua yang ditanam sejak zaman Belanda. Nah, apa yang mengejutkan?

Untuk mengumpulkan 1 kg getah, pekebun menyadap 40 pohon. Itu benar-benar memilukan, kata sahabat saya. Coba bandingkan dengan penyadapan sambilan di seputar kampus Universitas Indonesia, di Depok, Jawa Barat. Di sana, penyadap menyadap sebatang pohon karet dewasa dengan dua jalur, dan menggantungi 2 botol bekas air kemasan masing-masing 600 ml. Dalam sepekan, penyadap 2 kali mengunduh 2 botol itu.

Artinya, penyadap sambilan di Depok cukup menakik 2 pohon sehat untuk memperoleh 1 kg getah. Sedangkan di hutan-hutan yang terlalu sesak dengan pohon karet tua di Nias, penyadap hanya memasang tempurung kecil di dasar batang. Kalau hujan turun, tempurung itu penuh air. Panenan tidak dapat dipakai sama sekali. Kalau cuaca cerah, tetesnya sedikit-sedikit. Pantaslah perlu 40 pohon untuk menghasilkan 1 kilogram. Di sini kita mengakui kebenaran kata-kata Bung Karno. Jangan berharap banyak getah dari pohon yang sudah berumur 70 tahun, kalau masa produktifnya hanya 30 tahun!

Apalagi kalau teknik menyadapnya sembarangan. Kakek saya berpesan, menyadap karet itu selembut membuka pakaian dalam. Tidak boleh terburu-buru, dan tidak boleh kasar. Pohon lebih suka kalau semakin halus torehannya. Jangan sampai melukai lingkaran kambium, apa lagi menyakiti batang kayunya. Kalau salah menakik, bisa jadi getahnya tidak keluar lagi. Pesan kakek itu tercatat dan disebarluaskan pada penyadap karet lainnya.

Tidak mengherankan kalau satu abad yang lalu, kakek saya terpilih menjadi penyadap teladan. Tangannya dingin, cermat menuai maupun menanam. Dari kakek saya belajar membuat ketupat, memintal tali, dan mewarisi pisau kecil kesayangannya. Dengan pisau itu kakek melakukan okulasi, menyambung indukan dan anaknya, serta mengupas nanas, jeruk bali, dan mangga. Buah-buahan itu dari lahan-lahan pembatas kebun karet yang dikelolanya.

Petani Thailand yang kreatif dan inovatif, bahkan sengaja memelihara pohon karet di antara buah-buahan. Mereka sadar, setiap buah ada musimnya. Memang betul, kebun karet terluas di dunia terhampar di tanahair Indonesia. Lebih dari 3,3-juta hektar kebun karet tersebar di 15 provinsi saja, dan 85% di antaranya kebun karet rakyat.

Tumpangsari

Meski kebun terluas di Indonesia, tetapi produsen getah karet alam paling tinggi di Thailand. Mereka menghasilkan di atas 3-juta ton setahun. Sedangkan Indonesia baru 2,6-juta ton. Pada masa Ir Anton Apriantono menjadi Menteri Pertanian, Indonesia berjanji akan menyamai, bahkan melebihinya pada 2020 mendatang. Untuk menepati janji itu tentu diperlukan kerja yang cerdas. Pemilihan entres dan klon-klon karet yang unggul harus dilakukan.

Tahun lalu, Indonesia kehilangan seorang praktisi karet yang hebat. Namanya Sukasno. Dia sempat mengirimi saya tiga karet berbeda-beda dari Jember, Salatiga, dan Cilacap, untuk ditanam di Jababeka Botanic Gardens, Cikarang, Jawa Barat. Sayang, dia tidak pernah menyaksikan perkembangan dari percobaannya. Tuhan memanggilnya, sebelum dia sempat mengajar bagaimana memanennya. Jadi apa yang terjadi di Nias? Di berbagai daerah yang masih diliputi peninggalan megalitikum (zaman batu besar) itu hujan turun 8 bulan dalam setahun. Gulma tumbuh dengan cepat, termasuk pakis, paku-pakuan yang lebat.

Komersialisasi kebun karet melalui pola tanam yang modern tidak mudah diterapkan di lingkungan tradisional. Para pekebun yang sangat jarang mendapat penyuluhan, mengira makin rapat makin baik. Kita bisa menyadap satu pohon sambil bersandar pada pohon tua di sampingnya. Jelas, keliru total. Getahnya sudah habis. Kualitasnya rendah dan produktivitasnya tidak mencukupi sama sekali.

Meskipun begitu, kita tetap bisa merasakan berkat getah karet. Masyarakat hidup seperti berabad-abad lalu, ketika pohon karet tumbuh liar di West Indies, sebelah timur benua baru. Tahukah Anda, sejak kapan manusia mulai mengagumi karet? Secara modern sejak Columbus pulang dari pelayarannya yang kedua ke Amerika. Lebih dari 5 abad yang lalu, tepatnya pada tanggal 11 Juni 1496, ia membawa sebuah bola dari karet.

‘Di Bumi ini, belum ada benda yang lebih lentur daripada getah karet,’ kata para ahli. Ketika bola karet Columbus itu dibanting ke lantai, ternyata memantul sempurna. Sejak saat itu manusia terpesona pada karet. Bermacam peralatan dibuat dengan bantuan karet. Bukan hanya peralatan raksasa seperti roda pesawat terbang, tapi juga peralatan sensitif untuk operasi. Mulai dari laminasi rumah tahan gempa sampai sarung tangan untuk menolong kelahiran bayi.

Inovasi untuk karet pun berlangsung terus. Pada kuartal pertama 2011, seorang pengusaha asal Palembang, Noerdy Tedjaputra, menemukan metode pengasapan cair, untuk mengatasi bau gumpalan karet alam yang mengalami pembusukan. Metodenya disebut teknologi Deorub, singkatan dari deodorant rubber, menjadi berita besar dan sudah dipatenkan. ***

 


 

Eka BudiantaEka Budianta, konsultan Jababeka Botanic Gardens, kolumnis Trubus, anggota Dewan Pakar Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img