Monday, November 28, 2022

Hujan? Gabah Tetap Kering

Rekomendasi

 

Padi yang dipanen pada musim hujan tetap bisa dikeringkan dengan mesin pengering gabah ERK hibridIr Puji Widodo, MSi, perekayasa di BPP Mektan, merekayasa mesin pengering erk hibrid memakai sumber energi biomassaSelama 11 jam mesin mampu mengeringkan 5 ton gabah dengan kadar air 12—14%Selama ini Syifa memang mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan gabah. Gabah itu dijemur di 2 petak lantai semen dengan kapasitas setiap lantai masing-masing 20 dan 25 ton. Ketebalan gabah rata-rata 3 – 4 cm. Bila intensitas matahari tinggi, gabah kering dalam waktu 3 – 4 hari. Namun, bila intensitas matahari rendah, saat datang musim hujan, waktu pengeringan lebih panjang 2 kali lipat.

Beruntung pada September 2010, Syifa mendapat tawaran menguji mesin pengering gabah ERK (efek rumah kaca) hibrid produksi Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BPP Mektan) di Tangerang, Provinsi Banten. Mesin hasil riset Ir Puji Widodo, MSi, perekayasa di BPP Mektan, itu unggul karena memakai sumber energi terbarukan seperti biomassa, sehingga pengeringan gabah masih dapat berlangsung meski intensitas matahari rendah di musim hujan.

Efek rumah kaca

Mesin pengering ERK hibrid itu terdiri dari rumah plastik mika berkerangka besi dengan ukuran 6 m x 9 m dan tinggi 3 m. Menurut Ir Harsono MP, periset BPP Mektan, plastik mika sangat baik menyerap panas. Namun, jika bahan itu sulit diperoleh, dapat digantikan bahan lain seperti plastik UV, fiber, dan polikarbonat. ‘Yang penting transparan sehingga sinar matahari bisa masuk,’ tambahnya. Di dalam rumah plastik itu terdapat bak pengering terbuat dari besi – untuk menempatkan gabah – berukuran 4 m x 8 m setinggi 50 cm yang mampu menampung 5 ton gabah.

Menurut Puji rumah plastik yang dibangun itu memiliki efek seperti rumah kaca. Ketika cuaca terang, mesin pengering bekerja dengan menangkap sinar matahari. Radiasi panas surya yang terdiri dari gelombang panjang dan pendek itu menembus rumah plastik dan tak bisa keluar alias terperangkap di dalamnya. Akibatnya suhu di dalam rumah plastik lebih tinggi dibandingkan di luar ruangan sehingga air di gabah menguap.

Posisi mesin pengering mesti menghadap arah utara-selatan agar proses penyerapan sinar matahari berjalan maksimal. Selain itu, bagian timur dan barat dari rumah plastik mesti bebas dari pohon atau bangunan lain sehingga sinar matahari leluasa masuk. ‘Bila matahari bersinar penuh dan ketebalan gabah maksimal 30 cm, gabah dapat kering tanpa perlu dibolak-balik,’ ujar Puji.

Segala cuaca

Alat pengering BPP Mektan itu juga dilengkapi tungku pembakaran berbahan bakar biomassa seperti kayu, sekam, arang, limbah bonggol jagung, atau tempurung kelapa. Tungku terhubung dengan sebuah blower berpenggerak motor diesel dengan kekuatan 10 hp atau tenaga kuda. Blower akan mengembuskan uap panas dari pembakaran biomassa asal tungku ke bagian bawah bak pengering.

Oleh sebab itu, meski cuaca mendung, hujan, dan malam hari, mesin pengering itu tetap bisa bekerja dan mampu mengeringkan gabah. Pada sistem efek rumah kaca otomatis bila suhu di dalam rumah plastik melebihi 500C, maka ruangan antara tungku dan blower akan membuka. Udara dari lingkungan akan masuk ke ruangan pengering sehingga suhu di ruangan kembali ke angka 45 – 500C.

‘Suhu di atas 500C mengakibatkan air keluar secara cepat sehingga mengakibatkan gabah retak atau pecah,’ kata Puji. Alumnus teknologi pertanian, Institut Pertanian Bogor, itu memaparkan untuk mengeringkan gabah, suhu awal ruangan boleh mencapai 700C selama 2 – 3 jam, tetapi berikutnya suhu diturunkan dan stabil pada kisaran 45 – 500C. Selama 11 jam mesin mampu mengeringkan 5 ton gabah dengan kadar air 12 – 14%.

Keistimewaan lain, mesin pengering gabah ERK hibrid itu menghemat biaya tenaga kerja. ‘Untuk pengeringan tradisional perlu 20 orang, sementara dengan mesin ini hanya butuh 5 orang,’ kata Syifa. Artinya, keuntungan yang diperoleh Syifa dapat berlipat dengan memotong ongkos tenaga kerja. ‘Dengan mesin pengering keuntungan meningkat Rp150/kg,’ tambahnya.

Bila setiap hektar sawah menghasilkan rata-rata 7,5 ton gabah, maka petani yang memiliki 50 ha sawah itu meraih pendapatan lebih Rp56.250.000/panen. Dalam setahun, Syifa bisa panen hingga 3 kali. Artinya, keuntungan yang bakal diperoleh Syifa dapat lebih tinggi lagi. Wajar bila petani sekaligus pengepul gabah itu berencana melebarkan ukuran rumah plastiknya menjadi 10 m x 12 m. Dengan volume pengeringan gabah lebih banyak, Syifa tak perlu repot memikirkan datangnya musim hujan. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Endah Kurnia Wirawati)

 

 

Pengeringan gabah dalam rumah plastik memanfaatkan efek rumah kaca

Padi yang dipanen pada musim hujan tetap bisa dikeringkan dengan mesin pengering gabah ERK hibrid

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img