Wednesday, January 28, 2026

Penolak Kanker Serviks

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Indra tak menduga ia bakal terinfeksi virus penyebab penyakit mematikan itu. Maklum, selama 19 tahun rutin melakukan pap smear – tes yang dilakukan untuk mendeteksi kelainan pada serviks atau leher rahim – kondisi kesehatan organ reproduksinya tidak bermasalah. Namun, dari hasil pap smear terakhir yang dilakukan pada pengujung Desember 2010, dokter mendiagnosis Indra terserang HPV.

Memang sebulan terakhir ibu 5 anak itu sering merasa nyeri di perut usai melakukan hubungan intim dengan suami. Namun, ia tak merasakan gejala lain yang menunjukkan bahwa ia sakit. Makanya untuk meyakinkan diri, 4 hari berselang Indra mendatangi salah satu rumahsakit terbesar di Surabaya, Jawa Timur. Indra kembali melakukan biopsi – pengambilan sampel jaringan untuk uji klinis. ”Ternyata hasil tes kedua pun sama,” ujarnya. Bahkan dokter menyarankan operasi agar infeksi virus itu tidak mengganas dan menyebabkan kanker serviks.

Tanpa gejala

Menurut Jan Walboomers dari Department of Pathology, University Hospital Vrije Universiteit, Amsterdam, Belanda, 99,7% kasus kanker serviks berawal dari infeksi HPV. Sebanyak 75% wanita yang aktif secara seksual berisiko tertular virus menakutkan itu. Remaja di bawah usia 20 tahun yang melakukan hubungan seks bebas berisiko tinggi tertular HPV yang dapat berkembang menjadi kanker serviks. Risiko kanker serviks makin tinggi bila sang wanita adalah perokok dan memiliki ibu atau saudara yang menderita kanker sejenis.

Virus HPV memiliki gen yang dapat menghasilkan protein tertentu. Protein itu dapat terikat pada protein pengatur pembelahan sel pada tubuh dan menghambat fungsinya. Akibatnya sel yang terinfeksi tumbuh liar dan secara genetis dapat berubah strukturnya.

Pada stadium awal, tidak terlihat banyak perubahan pada bentuk maupun ukuran sel leher rahim yang terinfeksi. Namun, lama kelamaan sel-sel itu menjalar dan makin tak beraturan bentuknya. Jika tidak ditangani, sel-sel liar itu dapat menggantikan sel normal pada permukaan leher rahim dan berkembang menjadi kanker.

Dokter Insan Agung Nugroho, konsultan medis PT Habbatussauda International di Bandung, Jawa Barat,  menuturkan yang perlu diwaspadai HPV seringkali tanpa gejala. ”Makanya wanita yang telah menikah dianjurkan rutin melakukan pap smear misalnya setahun sekali untuk mendeteksi kemungkinan infeksi virus itu sejak dini,” ujarnya.

Jintan hitam

Indra pun segera berkonsultasi dengan suaminya mengenai saran dokter untuk operasi. Muhammad Amin, suami Indra, justru menyarankan istrinya mengonsumsi jintan hitam. ”Saya sering bertemu dengan pasien kanker yang kondisinya lebih baik setelah mengonsumsi minyak atau kapsul jintan hitam,” ujar Amin yang juga mendistribusikan salah satu produk Nigella sativa itu. Makanya Amin meyakini jintan hitam bisa juga digunakan untuk terapi istrinya.

Indra pun rutin mengonsumsi 1 sendok makan minyak jintan 4 kali sehari. Artinya, ia minum jintan tiap 6 jam sekali. ”Istri saya disiplin mengonsumsinya sehingga ia mau bangun tengah malam hanya untuk mengonsumsi minyak jintan,” tutur Amin. Indra memilih mengonsumsi minyak lantaran lebih mudah diminum ketimbang kapsul isi serbuk yang    harus dikonsumsi hingga puluhan butir per hari.

Setelah 3 minggu mengonsumsi minyak jintan hitam, Indra melakukan pemeriksaan lagi di rumahsakit berbeda. ”Kali ini saya rela membayar mahal agar uji yang dilakukan lebih detail,” ujarnya. Tak disangka, dokter menyatakan tak ada lagi jejak HPV di leher rahimnya.

Sejatinya infeksi virus dapat dihambat bila pertahanan tubuh kuat. Virus menjadi dorman atau tidak aktif atau bahkan bisa lenyap sama sekali. Namun, jika daya tahan tubuh lemah, infeksi akan terus berlangsung hingga beberapa tahun dan akhirnya berkembang menjadi kanker. Insan menduga habbatussauda meningkatkan kekebalan tubuh Indra sehingga infeksi virus pun lenyap.

Hasil penelitian Mohamed Labib Salem dari Medical University of South Carolina, Amerika Serikat, menyebutkan minyak jintan hitam memiliki efek immunomodulator alias pengatur kekebalan tubuh.

Sementara penelitian Kawther S Zaher dan tim dari Department of Microbiology and Immunology, National Research Centre, Dokki, Mesir, menunjukkan jintan hitam juga memiliki aktivitas antiviral selain berkhasiat antikanker dan antioksidan. Di Malaysia, Latifah Saiful Yazan dari Laboratory of Molecular Biomedicine,

Institute of Bioscience, Universiti Putra Malaysia membuktikan senyawa thymoquinone yang terkandung  dalam jintan hitam memiliki aktivitas sitotoksik pada sel kanker serviks dengan nilai IC50 5.93±0.81mg/ml dan turun menjadi 2.80±0.10mg/ml setelah 72 jam. Itu menunjukkan jintan hitam berkhasiat menolak kanker serviks. (Tri Susanti)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img